Upaya LAN Dorong Eksekusi Renstra Birokrasi ASN Menjadi Aksi Nyata

  • 29 Jul 2026 13:25 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto – Dalam dunia manajemen publik dan birokrasi, menyusun Rencana Strategis (Renstra) sering kali diaggap sebagai bagian yang lebih mudah dibandingkan eksekusinya. Lembaga Administrasi Negara (LAN) bekerja sama dengan ONE GML menyelenggarakan forum diskusi bertemakan "Translating Sharing Session to Action". Diikuti para Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai intansi kementrian, lembaga, badan, serta pemerintah daerah di seluruh Indonesia secara daring dalam siaran langsung di kanal Youtube LAN, Selasa (28/7/2026).

Forum berlangsung dipandu bersama Ana Lestari (Analis Kebijakan Ahli Muda LAN) dengan narasumber utama Bayu Setiaji (Chief of Learning and Digital Solution ONE GML), diskusi ini menyoroti kenyataan pahit bahwa banyak inisiatif organisasi gagal bukan karena eksekusi yang tidak konsisten. Riset dari Harvard Business Review menguatkan hal ini, di mana 67% strategi yang dirumuskan dengan baik, gagal akibat eksekusi yang tidak efektif.

"Menyusun strategi organisasi itu bukan perkara yang mudah, perlu analisis mendalam dan visi yang jelas," ungkap Hartato selaku Direktur Ekosistem Pembelajaran ASN LAN dalam sambutan utama.

Masalah utama yang sering muncul adalah kurangnya arahan pimpinan yang jelas dan menginspirasi. Pimpinan tidak cukup hanya mendelegasikan tugas, mereka harus menjadi role model dalam proses "making things happen". Kompetensi pimpinan sangat krusial agar seluruh jajaran di bawahnya memahami target yang ingin dicapai.

"Tantangan kita bukan buat strateginya, tapi konsistensi eksekusinya. Indikator keberhasilan pimpinan adalah hasil yang didapat," tegas Bayu Setiaji.

Dalam sesi interaktif muncul pertanyaan terkait maraknya pimpinan yang lebih menyukai bawahan "carmuk" (cari muka) ketimbang yang cakap. Hal ini terjadi karena organisasi masih berfokus pada kapasitas ketimbang kapabilitas. Begitupun pimpinan yang enggan mengambil risiko cenderung mempertahankan status quo, yang padahal generasi baru membutuhkan kejelasan, kepastian, dan pengakuan berbasis kinerja.

Selain itu, tantangan ego sektoral sering menghambat kolaborasi. Dalam konteks ASN, nilai-nilai berakhlak menekankan pentingnya kolaborasi untuk mencapai sinergi. Pimpinan harus berdalih dari sekadar memikirkan target unit sendiri ke arah Servant Leadership, di mana keberhasilan organisasi menjadi indikator utama, bukan hanya pencapaian per bagian.

Membangun sistem yang terintegrasi sangatlah penting dalam strategi yang didukung oleh sistem manejemen kinerja yang terintegrasi memiliki pengaruh sebesar 70% terhadap pencapaian kinerja instansi, dibandingkan hanya 27% jika sistemnya terpecah-pecah. Oleh karenanya penting bagi setiap ASN memiliki Agile Mindset dan fokus Output nyata daripada terjebak rutinitas administratif atau 'gaming the KPI'.

"Strategi boleh penuh perencanaan, namun yang penting kapan kita mulai kerja. Strategi memberi arah, aksi membuat bergerak, dan eksekusi konsisten yang menciptakan dampak," simpul Ana Lestari.

Secara keseluruhan strategi hanyalah dokumen di atas kertas jika diikuti aksi yang terukur. Keberanian berinovasi, meskipun dimulai dari skala kecil dan tanpa anggaran besar serta komitmen belajar (continous learning) merupakan kunci. ASN diharapkan tak hanya menjadi pelaksana birokrasi, tetapi pembelajaran sepanjang hayat yang mampu menerjemahkan strategi organisasi menjadi dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....