Januari 2026, Purwokerto dan Cilacap Alami Deflasi

  • 04 Feb 2026 11:00 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas- Dua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah Banyumas Raya, yakni Purwokerto dan Cilacap, mengalami deflasi pada Januari 2026. Kondisi ini sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Mahdi Abdillah, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Purwokerto mencatatkan deflasi sebesar -0,36 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan inflasi 2,79 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mengalami inflasi 0,58 persen (mtm) dan 2,61 persen (yoy).

“Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Cilacap yang mencatat deflasi -0,42 persen (mtm) dan inflasi 2,63 persen (yoy) pada Januari 2026. Angka ini menurun dibandingkan inflasi Desember 2025 sebesar 0,53 persen (mtm) dan 2,79 persen (yoy),” kata Mahdi Abdillah.

Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan di kedua kota IHK Banyumas Raya tetap terjaga dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Lanjutnya deflasi di Purwokerto pada Januari 2026,  terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya hortikultura. 

Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi -1,73 persen (mtm) dengan andil -0,52 persen (mtm). Secara komoditas, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras dengan andil masing-masing sebesar -0,13 persen, -0,10 persen, -0,09 persen, -0,08 persen, dan -0,05 persen (mtm). 

Sementara itu, tekanan inflasi masih tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan, mobil, telepon seluler, bawang putih, dan sepeda motor. Di Cilacap, deflasi bulanan juga didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi -2,07 persen (mtm) dengan andil -0,67 persen (mtm). 

Komoditas penyumbang deflasi antara lain cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras. Adapun komoditas yang menahan deflasi lebih dalam di antaranya emas perhiasan, tarif rumah sakit, sepeda motor, jeruk, dan bawang putih.

Mahdi Abdillah menjelaskan, penurunan tekanan inflasi pangan dipengaruhi oleh meredanya permintaan pasca HBKN Natal dan Tahun Baru, serta meningkatnya pasokan cabai merah dan cabai rawit pasca panen di sejumlah sentra produksi. Kondisi tersebut diperkuat oleh implementasi program pengendalian inflasi daerah. Sementara itu, inflasi pada komoditas non pangan, khususnya emas perhiasan, dipengaruhi oleh peningkatan permintaan.

Lanjutnya terkendalinya inflasi di Banyumas Raya mencerminkan komitmen dan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya. Sepanjang Januari 2026, TPID melaksanakan berbagai langkah pengendalian, mulai dari pasar murah untuk menjaga keterjangkauan harga, penguatan koordinasi stabilisasi pasokan pangan.

Bank Indonesia Purwokerto menegaskan komitmennya untuk terus mengawal stabilitas harga di wilayah Banyumas Raya bersama pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga inflasi tetap terkendali sesuai sasaran nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....