Merajut Makna Kehidupan lewat Karya Seni
- 07 Okt 2026 08:36 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Seni tidak hanya menjadi sarana untuk menghasilkan karya, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk memahami diri dan memaknai kehidupan. Hal tersebut disampaikan Wiji Nurlasari, perajin sekaligus pegiat seni asal Kebumen, dalam program Apresiasi Seni dan Sastra Pro 2 RRI Purwokerto, Minggu (4/10/2026).
Wiji yang memiliki latar belakang kriya tekstil mengaku kembali menekuni seni berbahan benang setelah sempat berhenti karena bekerja. Menurutnya, benang selalu menjadi bagian yang membawanya kembali pada aktivitas berkarya. Ia juga mengembangkan eksplorasi melalui teknik seperti rajut, makram, hingga teknik berbasis benang yang digunakan dalam karya-karya terbarunya.
Bagi Wiji, proses berkarya dengan benang tidak sekadar menghasilkan bentuk visual. Proses tersebut justru mengajarkannya untuk lebih sabar dan memberikan ruang untuk berhenti sejenak. Ia menilai proses menyusun benang secara perlahan dapat menjadi refleksi bagi pembuatnya.
“Benang itu ternyata bisa menjadi refleksi buat kita sendiri. Dia enggak bisa dibuat dengan situasi yang terburu-buru. Dari benang itu seperti diajarkan ini enggak bisa buru-buru dan memang kamu dikasih waktu untuk jeda, untuk benar-benar hadir di situ,” ungkap Wiji.
Pengalaman pribadi juga menjadi sumber utama Wiji dalam menciptakan karya. Salah satunya adalah karya berjudul Back to Yourself yang terinspirasi dari pengalaman ketika dirinya mengalami krisis. Melalui karya tersebut, ia ingin mengajak orang yang melihatnya untuk melakukan refleksi ketika menghadapi berbagai krisis dalam kehidupan, termasuk krisis sosial maupun spiritual.
“Ketika mengalami krisis-krisis, entah itu nilai spiritual atau krisis sosial, dia bisa merefleksikan dirinya kembali supaya dia menemukan jalannya,” jelas Wiji.
Selain Back to Yourself, Wiji juga menciptakan karya berjudul Bertemu untuk Berpisah. Karya tersebut tidak semata-mata menggambarkan kisah perpisahan atau patah hati, tetapi berangkat dari refleksi mengenai kemelekatan. Melalui karya itu, Wiji ingin mengajak masyarakat menyadari bahwa pertemuan dan perpisahan merupakan bagian dari kehidupan sehingga setiap momen perlu dihargai.
“Bertemu dan berpisah ini adalah satu paket. Dengan menyadari itu, kita lebih bisa menghargai waktu, menghargai momen dengan orang yang ada di sekitar kita atau sesuatu, momen yang ada saat ini,” katanya.
Kedua karya tersebut dibuat Wiji untuk sebuah pameran sekaligus menjadi pemacu dirinya untuk terus berkarya. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari, dengan pengerjaan yang dilakukan di sela-sela aktivitas pekerjaan.
Wiji menyebut karya yang dihasilkannya sebagai semacam “jurnal visual”. Karya tersebut menjadi pengingat atas berbagai pengalaman, kesadaran, dan proses pendewasaan yang dialaminya pada suatu masa. Dengan demikian, karya tidak hanya dapat dinikmati secara visual, tetapi juga menjadi artefak personal yang merekam perjalanan hidup pembuatnya.
Menurut Wiji, salah satu nilai penting yang diperolehnya dari berkesenian adalah kesadaran bahwa manusia membutuhkan jeda. Berhenti sejenak dan melihat kembali apa yang telah dilakukan dapat membantu seseorang menentukan langkah yang lebih baik ke depan.
“Yang paling ngena itu adalah kita sebagai manusia butuh jeda, untuk melihat lagi, berhenti dulu, melihat lagi ke belakang. Bukan berarti mengingat masa lalu, tapi lebih ke apa yang sudah kita lakukan kemarin dan sekarang, dan nanti ke depannya kita bisa apa lagi supaya bisa lebih baik lagi,” tuturnya.
Wiji menambahkan, seni tidak harus selalu menghasilkan jawaban atas persoalan kehidupan. Namun, seni dapat menjadi salah satu alat untuk mengeksplorasi diri dan menemukan hal-hal baru dalam diri seseorang.
“Seni tidak selalu memberikan jawaban. Tapi teman-teman bisa coba melalui seni, siapa tahu bisa mengeksplorasi diri dan bisa menemukan hal baru dalam diri teman-teman. Jadi, seni ini hanya dijadikan alat saja,” pungkasnya. (Dwi Anis)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....