Doodle Art Purwokerto Dorong Kebebasan Berkarya dan Ekspresi Seni
- 05 Okt 2026 12:54 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Doodle Art Purwokerto menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas melalui seni gambar yang bebas dan tidak terpaku pada kesempurnaan. Komunitas yang berafiliasi dengan Doodle Art Indonesia tersebut mengajak anggotanya untuk menikmati proses berkarya sesuai karakter masing-masing.
Leader Doodle Art Purwokerto, Zykarr, mengatakan doodle art memiliki keunikan tersendiri, terutama dari penggunaan garis yang bebas dan abstrak. Berbeda dengan gambar yang umumnya mengutamakan keindahan serta kesempurnaan bentuk, doodle justru menerima garis yang tidak beraturan sebagai bagian dari karya seni.
"Kalau misalnya kita gambar itu mengincar keindahan dan juga kesempurnaan, kita ini lebih mengincar gimana cara kita menerima apa adanya dan juga garis abstrak, garis yang tidak bertentuan. Itu kita jadikan sebuah seni yang menurut kita cukup memuaskan," ujar Zykarr dalam program Pro 2 Community RRI Purwokerto, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, doodle art memiliki beragam jenis dan tema, mulai dari doodle fantasi, zen tangle, robotik, kawaii, hingga doodle bertema flora dan fauna. Perbedaan tersebut membuat setiap seniman memiliki kebebasan untuk menentukan gaya dan karakter karya masing-masing.
Doodle Art Purwokerto saat ini memiliki sekitar 30 anggota yang aktif. Komunitas tersebut juga rutin mengadakan kegiatan meet up setiap dua pekan untuk berkumpul, bersosialisasi, sekaligus menggambar bersama. Kegiatan dapat berlangsung di berbagai tempat, seperti kafe, taman, maupun lokasi terbuka lainnya.
Zykarr menegaskan, komunitas tersebut terbuka bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap doodle art. Tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung karena komunitas dibentuk sebagai wadah belajar bersama. Masyarakat yang ingin bergabung dapat menghubungi komunitas melalui media sosial dan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan.
Selain menjadi ruang untuk berkarya, Doodle Art Purwokerto juga aktif melakukan kolaborasi. Komunitas tersebut sebelumnya pernah berkolaborasi dengan Banyumas Street Market serta beberapa pihak lainnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI, Zykarr mengakui adanya tantangan bagi para seniman. Menurutnya, AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kondisi tertentu, namun karya seni tetap memiliki unsur rasa dan proses kreatif manusia.
"Kalau untuk hal yang dibuat dari AI, bukan seni jatuhnya, tapi teknik. Karena kalau seniman itu melibatkan rasa," jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan hak cipta yang masih menjadi perhatian bagi para seniman. Menurut Zykarr, perkembangan aturan terkait hak cipta perlu terus diperbaiki agar dapat memberikan kemudahan dan perlindungan bagi para pelaku seni.
Zykarr mengungkapkan, beberapa karyanya bahkan pernah digunakan orang lain tanpa izin untuk kepentingan komersial. Kondisi tersebut menjadi salah satu kekhawatiran ketika karya seni dipublikasikan melalui media digital, meskipun telah diberikan watermark.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Zykarr mengatakan kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya. Ia justru menjadikannya sebagai dorongan untuk terus mengeksplorasi dan menemukan karakter atau art style sendiri.
Ia mengakui menemukan gaya pribadi dalam berkarya bukan hal mudah. Proses tersebut membutuhkan waktu karena seorang seniman sering kali mendapatkan inspirasi dari karya orang lain. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan dalam menemukan identitas karya.
Zykarr mengajak masyarakat, khususnya mereka yang masih ragu untuk mencoba hal baru, agar tidak takut menunjukkan kreativitas dan perbedaan yang dimiliki.
"Jangan sampai perbedaan itu jadi hal yang lu takutin. Jadi ya jangan takut. Diri kita selama enggak buruk, ya udah gas aja," pungkasnya. (Dwi Anis)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....