Speak English with Confidence, Tak Harus Sempurna untuk Berbicara
- 28 Sep 2026 15:27 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Rasa takut salah, khawatir mendapat penilaian dari orang lain, hingga kebingungan merangkai kalimat sering menjadi alasan seseorang enggan berbicara menggunakan bahasa Inggris. Padahal, kemampuan berkomunikasi tidak selalu harus dimulai dengan penguasaan grammar dan pronounciation yang sempurna.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian English Community Hangout, yang merupakan sebuah komunitas yang hadir sebagai ruang bagi masyarakat untuk berlatih berbicara bahasa Inggris dengan lebih percaya diri. Komunitas ini diperkenalkan dalam program Pro 2 Community RRI Purwokerto bersama dua penggagasnya, Rahma Inayatul Azmi, yang akrab disapa Azmi dan Renita Wibiana, yang akrab di sapa Renka, pada Sabtu, (26/9/2026).
Azmi menjelaskan, English Community Hangout berawal dari kebutuhannya untuk memiliki teman berlatih berbicara bahasa Inggris, ia merasa membutuhkan lingkungan yang dapat menjadi tempat untuk berlatih bicara secara langsung. Di sisi lain, ia melihat terbatasnya wadah di Purwokerto yang memungkinkan pemula belajar bahasa Inggris tanpa merasa tertekan.
“Di sini kita fokusnya kepada bagaimana kamu bisa bahasa Inggris dengan percaya diri, daripada berbicara bahasa Inggris dengan sempurna,” ujar Azmi.
Komunitas yang mulai dibentuk pada Mei 2026 tersebut kemudian mengusung konsep belajar melalui percakapan santai atau hangout. Menurut Azmi, penggunaan istilah hangout sengaja dipilih agar kegiatan komunitas tidak terasa seperti kelas formal yang membuat peserta merasa terbebani oleh tuntutan grammar maupun kosakata.
Dalam setiap pertemuan, anggota diajak untuk berbicara melalui berbagai aktivitas dan permainan. Salah satunya adalah permainan bingo yang mendorong peserta melakukan percakapan secara langsung dengan anggota lain. Melalui aktivitas tersebut, peserta tidak hanya mempelajari bahasa Inggris, tetapi juga dibiasakan untuk berbicara dan berinteraksi.
Menariknya, peserta tidak diwajibkan untuk menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Penggunaaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian masih diperbolehkan. Bagi komunitas ini, keberanian untuk mencoba berbicara menjadi hal yang lebih penting daripada kesempurnaan tata bahasa.
Salah satu persoalan yang kerap dihadapi pembelajar bahasa Inggris adalah rasa takut ketika melakukan kesalahan. Azmi mengaku merasa diintimidasi oleh respons orang lain saat melakukan kesalahan dalam pengucapan.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan English Community Hangout berusaha untuk membangun lingkungan yang zero judgment. Peserta diberikan ruang untuk berbicara, bertanya, menerima masukan, dan memperbaiki kesalahan secara bertahap.
“Jadi, di situ awal-awal gimana aku juga buat English Community Hangout ini karena aku pengin coba sebuah zero judgment, sebuah area yang emang benar-benar kita support,” kata Azmi.
Renka juga membagikan pengalamannya yang pernah merasa takut berbicara bahasa Iggris karena berada di lingkungan yang mudah memberikan penilaian. Menurutnya, suasana yang lebih santai membuat seseorang perlahan berani membuka diri dan kembali terbiasa menggunakan bahasa Inggris.
Pendekatan tersebut juga diterapkan ketika anggota baru pertama kali bergabung. Peserta biasanya diajak untuk memulai percakapan sederhana, seperti memperkenalkan diri, membicarakan hobi, hingga mengembangkan pembicaraan secara spontan. Dengan begitu, kegiatan tidak berfokus pada materi pembelajaran, melainkan pengalaman menggunakan bahasa Inggris secara langsung.
Bagi English Community Hangout, kemampuan berbicara bahasa Inggris tidak cukup hanya diperoleh melalui materi yang dipelajari. Bahasa perlu digunakan secara rutin agar perlahan menjadi kebiasaan.
Azmi menjelaskan, seseorang yang terbiasa menerjemahkan kalimat dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons. Namun, proses tersebut merupakan bagian dari pembelajaran dan akan semakin lancar ketika terus dilatih.
“Bahasa Inggris itu enggak terus-terusan tentang belajar, tapi juga tentang kebiasaan. Jadi, kalau misalkan bahasa Inggris enggak dipakai sehari-harinya, enggak dipakai terusm enggak dilatih terus, otomatis y aitu hanya sebatas materi yang kamu paham aja, bukan apa yang kamu kuasai,” jelasnya.
Untuk membangun kebiasaan tersebut, Azmi membagikan beberapa cara sederhana. Salah satunya dengan mengubah pengaturan telepon gengga, ke bahasa Inggris serta menggunakan subtitle berbahasa Inggris ketika menonton film atau konten yang disukai.
Sementara itu, Renka memilih bertaktuh melalui komunikasi daring seperti Discord. Ia mencoba berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara melalui percakapan teks maupun voice chat. Menurutnya, bertemu dengan penutur dari berbagai latar belakang dapat membantu membiasakan diri menghadapi beragam aksen dan cara berbicara.
English Community Hangout tidak membatasi anggotanya berdasarkan usia maupun tingkat kemampuan bahasa Inggris. Dari pemula hingga mereka yang sudah memiliki dasar bahasa Inggris dapat bergabung. Bahkan, komunitas tersebut pernah diikuti oleh pelajar SMP hingga orang yang lebih dewasa.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitae 170 anggota dalam grup WhatsApp. Kegiatan hangout secara luring dilaksanakan setiap dua minggu sekali pada Jumat sore. Salah satu lokasi yang digunakan adalah kawasan Baturraden melalui kolaborasi dengan komunitas Tahan Luhur. Selain itu, English Community Hangout juga pernah berkolaborasi dengan Purwokerto Book Party melalui kegiatan membaca dan membahas buku menggunakan bahasa Inggris.
Ke depan, komunitas ini juga berencana untuk mengadakan kegiatan debat dengan topik sederhana. Konsep tersebut tetap dibuat santai hingga peserta dapat menyampaikan pendapat tanpa tekanan untuk menggunakan bahasa Inggris secara sempurna.
Bagi Azmi, belajar bahasa Inggris tidak mengenal kata terlambat. Kesalahan dalam berbicara merupakan bagian dari proses, sedangkan kepercayaan diri perlu dibangun melalui keberanian untuk mencoba.
“Ini bukan hanya tentang bagaimana belajar bahasa Inggris dengan sempurna. Tapi juga tentang membangun kepercayaan diri dalam berbicara bahasa Inggris,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi inti dari pembahasan mengenai belajar bahasa Inggris dengan percaya diri, di mana kita harus mencoba untuk berbicara terlebih dahulu, belajar dari kesalahan, lalu terus berproses. Sebab, kemampuan berbahasa bukan hanya tentang mengetahui aturan, tetapi juga tentang keberanian untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. (Tiara Chelsea)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....