Keindahan yang Berbahaya: Kenali Risiko Ekstrem Freediving
- 22 Apr 2026 05:40 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Olahraga freediving atau menyelam bebas kian digandrungi masyarakat seiring dengan tren konten estetika bawah laut di media sosial. Namun, di balik keindahan visual yang ditawarkan, terdapat risiko fatal seperti barotrauma hingga blackout yang mengintai para penyelam jika hanya sekadar mengikuti tren tanpa pemahaman aspek keselamatan dan lisensi yang resmi.
Ketua Satria Apnea Purwokerto sekaligus peraih predikat Best Newcomer Jakarta Freediving Competition 2026, Nur Rohman, mengungkapkan bahwa banyak pemula terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Mereka sering kali nekat menyelam demi foto yang bagus tanpa membekali diri dengan pelatihan yang tepat.
Padahal, freediving dikategorikan sebagai olahraga ekstrem karena aktivitas ini memaksa tubuh bertahan dalam kondisi tanpa nafas (apnea) di bawah tekanan air. "Freediving itu lebih ke aktivitas menyelam tanpa alat bantuan pernafasan.
Modalnya hanya satu tarikan nafas dan kita tidak boleh membuang napas di bawah air. Kesalahan paling umum adalah tidak menganggap ini sebagai olahraga berbahaya, padahal ini extreme sport," ujar Nur Rohman dalam dialog "Kita Indonesia" di Pro 1 FM RRI Purwokerto, Kamis (9/4/2026).
Nur Rohman menjelaskan secara teknis bahwa menyelam melibatkan hukum fisika, khususnya Hukum Boyle, dimana tekanan air akan mengecilkan volume udara dalam rongga tubuh. Tanpa teknik ekualisasi yang benar, penyelam berisiko mengalami ear drum barotrauma atau pecahnya gendang telinga.
Selain itu, resiko paling fatal adalah shallow water blackout pingsan di bawah air akibat penurunan saturasi oksigen secara tiba-tiba saat menuju permukaan. Dalam diskusi tersebut, ia juga membagikan tips bagi masyarakat yang ingin memulai hobi ini secara aman:
- Kenyamanan di Air: Pastikan sudah nyaman berada di permukaan air (snorkeling) sebelum mencoba menyelam ke kedalaman.
- Pahami Sinyal Tubuh: Mengenali fase kontraksi (dorongan untuk bernapas) sebagai alarm alami tubuh.
- Pendidikan Formal: Sangat disarankan mengambil kursus (course) resmi untuk mendapatkan lisensi. Estimasi biaya untuk tingkat pemula (beginner) berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 6 juta.
- Never Freedive Alone: Jangan pernah menyelam sendirian. Keberadaan buddy atau pendamping yang memiliki kemampuan rescue sangat krusial jika terjadi keadaan darurat.
Nur Rohman menegaskan bahwa komunitas hanyalah wadah untuk berlatih bersama, namun kemahiran dan teknik penyelamatan hanya bisa didapatkan melalui jalur edukasi profesional. Ia juga mengingatkan agar pemula tidak melakukan hyperventilation (bernapas berlebihan sebelum menyelam) karena dapat menghilangkan sinyal alami tubuh untuk naik ke permukaan, yang berujung pada pingsan mendadak.
"Tren boleh datang dan pergi, tapi kesadaran akan safety harus tetap jadi yang utama. Jangan hanya mengalokasikan anggaran untuk membeli peralatan mahal atau biaya perjalanan, tetapi sisihkan juga untuk biaya belajar dan sertifikasi demi keselamatan nyawa sendiri," tutur Nur Rohman mengakhiri perbincangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....