Mengenal Freediving, Olahraga Menyelam dengan Satu Tarikan Napas
- 20 Apr 2026 10:58 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Olahraga freediving atau menyelam tanpa alat bantu pernapasan kian diminati masyarakat, terutama kalangan muda. Daya tarik keindahan bawah laut yang banyak ditampilkan di media sosial menjadi salah satu faktor meningkatnya minat terhadap aktivitas ini.
Atlet freediving sekaligus Ketua Satria Apnea Purwokerto, Nur Rohman dalam dialog Kita Indonesia Pro 1 RRI Purwokerto, menjelaskan bahwa freediving merupakan aktivitas menyelam dengan mengandalkan kemampuan menahan napas. “Freedive itu lebih ke aktivitas menyelam tanpa bernapas, jadi kita apnea atau tahan napas tanpa alat bantuan apapun. Jadi, pure badan kita, modalnya satu tarikan napas,” ujar Nur.
Ia menambahkan, freediving berbeda dengan scuba diving yang menggunakan tabung oksigen. Dalam freediving, penyelam tidak diperbolehkan menghembuskan napas saat berada di dalam air. “Di bawah air kita boleh buang napas. Buangnya pas kita sudah naik ke atas,” jelasnya.
Menurut Nur, freediving tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menahan napas, tetapi juga melibatkan pemahaman terhadap kondisi tubuh. Ia mengaku awalnya tertarik mempelajari olahraga ini karena ingin mengetahui kapasitas pernapasanya. Lebih lanjut, ia menyebut latihan freediving dapat meningkatkan kapasitas paru-paru serta melatih ketenangan dan fokus. “Kalau untuk dua menit, asal berani dan latihan dasar, satu dua kali pertemuan bisa,” ungkapnya.
Freediving memiliki beberapa cabang, di antaranya static apnea (menahan napas tanpa bergerak) dan dynamic apnea (bergerak di dalam air), yang umumnya dilakukan di kolam. Pada dynamic apnea, penyelam dapat menggunakan mono-fin maupun bi-fin sebagai alat bantu. Selain itu, terdapat pula dynamic no fin, yakni menyelam tanpa menggunakan sirip dengan teknik gerakan menyerupai gaya katak.
Sementara untuk penyelaman di laut, dikenal cabang constant weight, yaitu penyelam turun ke kedalaman tertentu dan kembali ke permukaan tanpa mengubah beban, baik dengan mono-fin, bi-fin, maupun tanpa sirip. Setiap cabang memerlukan teknik, adaptasi tubuh, dan latihan yang dilakukan secara bertahap.
Nur menegaskan, meskipun terlihat menarik, freediving bukan sekadar tren yang dapat dilakukan tanpa persiapan. “Kalau mau benar-benar menikmati freediving, harus paham teknik dan apa yang terjadi di tubuh kita saat menyelam. Itu didapat dari course,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....