Usung Konsep Pasar Organik, Biorama Hidupkan Ruang Publik

  • 13 Mei 2024 09:10 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Biorama merupakan kegiatan yang berfokus pada placemaking atau aktivasi ruang publik melalui pengoptimalan potensi komunitas lokal. Biorama diadakan sejak Desember tahun 2022, dan dalam perjalanannya Biorama sudah digelar di Hetero Space, Museum BRI, hingga saat ini di Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kegiatan kreatif ini merupakan hasil kolaborasi Pentahelix yang melibatkan elemen pemerintah, akademisi, lembaga usaha atau komunitas, media, serta masyarakat, dan diinisiasi oleh Gilang Ramadhan, seorang dosen jurusan Desain Komunikasi Visual di Instititut Teknologi Telkom Purwokerto, yang juga memprakarsai beberapa kegiatan serupa seperti Peken Banyumasan dan Sokaraja Punya Cerita.

Biorama membawa konsep organic market, yang menyuguhkan pengalaman piknik di akhir pekan yang santai dan jauh dari hiruk pikuk metropolitan. Dengan konsep ini, pengunjung bebas menikmati berbagai experience dari komunitas atau project lokal, serta local market yang terdiri dari craft, fashion yang berupa eco-print, serta Food & Beverage yang menyajikan makanan dan minuman terkurasi sehingga mayoritas terbuat dari bahan dasar organik dan lebih sehat.

“Biasanya kalau Senin sampai Jumat sibuk masing-masing, nah kalau di Biorama bisa sharing, bisa ada waktu untuk berbagi dan sebagainya, dan makanannya pun sehat-sehat karena kalau di Biorama itu artisannya itu organic, healthy, dan fun,” ungkap Gilang.

Gilang Ramadhan mengungkapkan dirinya ingin menghadirkan kegiatan yang berbeda di Purwokerto, sehingga masyarakat dapat lepas dari minggu yang padat sembari berpiknik, bersantai dan berinteraksi di green public. Ia berpandangan brand yang mengangkat isu organik atau isu healthy masih tergolong jarang di tengah masyarakat, sehingga ingin membawanya ke dalam konsep Biorama. Dirinya juga menuturkan Biorama sendiri telah mendapat penghargaan Juara 1 Peningkatan Pariwisata Nasional dari Distiristek.

“Karena masih jarang untuk brand-brand yang mengangkat isu organik atau healthy, sehingga nantinya akan ada repetisi brand yang kita ajak lagi, terus kalau temen-temen liat juga gak ada yang bawa corndog atau umum, jadi kita sangat-sangat ingin membawa narasi yang berbeda,” tambah Gilang.

Revi Ardiansyah, Project Manager Biorama, mengungkapkan Biorama tidak hanya membawa konsep organic, kegiatan ini juga merangkul konsep heritage dengan mengenalkan bangunan-bangunan bersejarah, seperti mengenalkan bangunan Hetero Space, Museum BRI, Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman, kepada pengunjung.

“Awalnya karena di Hetero Space yang merupakan bangunan bersejarah, kita mengusung konsep bangunan heritage dan community, sedangkan untuk yang sekarang kami tetap mempertahankan konsep organiknya, dan walaupun bukan bangunan bersejarah, tapi masih ada benang merahnya karena ini kan Museum Jenderal Soedirman, jadi masih berkaitan dengan sejarah,” ungkap Revi.

Biorama Edisi XIV yang diadakan pada hari Sabtu (11-05-24) sendiri, mengundang berbagai komunitas atau project, dan local market dari Banyumas dan sekitarnya. Komunitas atau project yang hadir di Biorama Edisi XIV meliputi Wie 26, Art Apik, Pewarna, Wilasita, Baca Bareng Purwokerto, BANTu Cerita, Kampus Garasi, Mlampah Sareng, dan Jazz Gunung Slamet. Sedangkan untuk local market yang hadir melingkupi Toja, Wie 26, Milkybun, Kinanthi, Asya Soap, Benok Donat, Marta Bakery, Norits’ Pizza, Selera Chicks, Oemah Nyangku, Anyaman Tanjung, Catering Sehat Time, dan Nirankara Resin Art.

Gilang Ramadhan mengharapkan Biorama dapat mendorong masyarakat untuk tumbuh bersama secara organik, seraya menghidupkan kembali taman-taman di Purwokerto. Di sisi lain, Revi Ardiansyah berharap Biorama mampu menjangkau audience yang lebih luas lagi, mengajak kerja sama dengan lebih banyak pihak, serta memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. (YN/Naura)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....