Hompimpa Ajak Anak Belajar dan Berkreasi lewat Kids Workshop di Hetero Fest 2026

  • 05 Okt 2026 12:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Hetero Fest 2026 merupakan festival kreatif tahunan yang digelar di Hetero Space Banyumas. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai komunitas, pelaku UMKM, seniman, serta masyarakat umum melalui beragam kegiatan kreatif dan edukatif. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 2-4 Oktober 2026.

Salah satu kegiatan yang turut hadir dalam rangkaian Hetero Fest 2026 yakni Kids Workshop yang diselenggarakan oleh Hompimpa. Kegiatan tersebut ditujukan bagi anak-anak dengan menghadirkan sejumlah aktivitas kreatif dan edukatif yang dikemas secara menyenangkan.

Kids Workshop menjadi salah satu bentuk kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi minat dan kreativitasnya. Dalam pelaksanaannya, anak-anak tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi juga diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai dengan ketertarikan masing-masing.

PIC kegiatan anak-anak Hetero Fest 2026 dari Hompimpa, Deka, menjelaskan bahwa Hompimpa merupakan sebuah platform komunitas yang memiliki sejumlah kegiatan dan wadah yang berkaitan dengan anak-anak.

“Hompimpa itu sebuah platform komunitas gitu lah, jadi kami itu ada grupnya ada Hompimpa Playschool, ada Hompimpa Kreatif Akademi dan lain-lain. Hompimpa sebetulnya itu adalah komunitas yang menyelenggarakan dan menerima kegiatan anak-anak lah. Kami ada sekolahannya juga gitu ya,” ujar Deka, saat ditemui RRI, Sabtu (3/10/2026).

Dalam Kids Workshop yang digelar di Hetero Fest 2026, Hompimpa menghadirkan beberapa jenis kegiatan yang dapat diikuti anak-anak. Kegiatan tersebut meliputi media art, digital drawing, storytelling, hingga penulisan cerpen.

Pada workshop media art, anak-anak diajak membuat DIY patch dengan menggunakan berbagai bahan dan media seperti cat akrilik serta manik-manik. Anak-anak diberikan kesempatan untuk memilih sendiri bahan dan kreasi yang ingin dibuat.

Sementara itu, pada workshop digital drawing, anak-anak diperkenalkan dengan kegiatan menggambar secara digital menggunakan aplikasi Ibis Paint. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mendapatkan pendampingan langsung dari mentor yang memiliki kemampuan di bidang digital drawing.

Selain kegiatan menggambar dan membuat karya, Hompimpa juga menghadirkan workshop storytelling dan penulisan cerpen. Beragam kegiatan tersebut menjadi pilihan bagi anak-anak untuk mengenal bentuk kreativitas yang sesuai dengan minat mereka.

“Secara konsep Kids Workshop ini mengusung pendekatan pembelajaran kayak memusatkan study pada anak-anak, lagi suka apa, senengnya apa ya kami ikuti, jadi kalau secara bahasa kami ya kami berpusat kepada anak,” ungkap Deka.

Pendekatan tersebut membuat anak memiliki ruang untuk menentukan dan mengembangkan kreativitasnya sendiri. Mentor dalam kegiatan tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga membantu anak memahami tahapan kegiatan dan memberikan pendampingan selama proses berlangsung.

Sebelum kegiatan dimulai, anak-anak terlebih dahulu diberikan konteks mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Setelah memahami kegiatan tersebut, mentor kemudian menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan.

“Ya, tentu kami ada rulesnya ya, kami memberikan konteks pada anak bahwa kami sedang melakukan kegiatan workshop menggambar, mewarnai dan merangkai ornamen-ornamen yang ada. Kami beri konteks dulu, terus mereka mengetahui konteksnya, kemudian mentor memberitahukan step by stepnya,” jelas Deka.

Dalam prosesnya, anak-anak tetap diberikan kebebasan untuk mengembangkan ide yang mereka miliki. Hompimpa tidak mengarahkan seluruh peserta untuk menghasilkan bentuk karya yang sama.

“Nah, kadang anak ada yang punya kreativitas sendiri, kami tidak mencetak anak untuk membuat karya tertentu tapi mengikuti kreasi si anak. Kuncinya adalah kami handle anak-anak yang rentang usianya tidak terlalu jauh,” tambahnya.

Kegiatan Kids Workshop juga tidak ditujukan sebagai ajang perlombaan. Hompimpa memilih menghadirkan suasana yang lebih santai agar anak-anak dapat menikmati proses belajar dan berkarya tanpa tekanan untuk menjadi pemenang.

Deka menjelaskan, salah satu latar belakang diselenggarakannya Kids Workshop adalah melihat kebutuhan anak-anak terhadap kegiatan positif, khususnya ketika memasuki waktu libur. Selain menjadi kegiatan bagi anak, Kids Workshop juga diharapkan dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk membangun kedekatan dengan anak melalui aktivitas yang dilakukan bersama.

“Ini juga tujuan kami menyelenggarakan ini bisa jadi salah satu alternatif orang tua yang pengin bonding sama anak-anaknya,” ujarnya.

Kehadiran Hompimpa dalam Hetero Fest juga bukan menjadi kerja sama yang pertama. Deka menyebut, Hompimpa sebelumnya telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan Hetero Space dalam kegiatan serupa.

“Iya ini sudah tahun ketiga atau kedua gitu, kalau dari saya sendiri sih tahun kedua ya,” ujar Deka.

Hompimpa berupaya menciptakan suasana belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Anak-anak diberikan kesempatan untuk mencoba, mengeksplorasi, dan mengenal berbagai bentuk kreativitas melalui kegiatan yang mereka sukai.

Bagi Hompimpa, keberhasilan kegiatan bukan ditentukan dari seberapa bagus karya yang dihasilkan anak. Hal yang lebih penting adalah munculnya rasa senang ketika anak mengikuti proses belajar dan berani mengembangkan kreativitasnya.

“Mereka terus berkreasi dengan kreativitas mereka, mereka tetap senang belajar gambar karena tujuan kami bukan gambarnya bagus tapi mereka senang belajar. Tujuan kami itu memberi motivasi ke anak-anak, tujuan supaya mereka senang,” tutur Deka.

Hompimpa berharap anak-anak yang mengikuti Kids Workshop dapat terus memiliki semangat untuk berkreasi dan belajar. Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan bagi anak untuk tetap tertarik mempelajari hal-hal baru.

Menurutnya, pembelajaran bagi anak tidak seharusnya berhenti hanya pada satu kegiatan atau satu kemampuan tertentu. Anak perlu memiliki lingkungan yang membuat mereka terbiasa melihat sesuatu yang baru dan memiliki keinginan untuk mempelajarinya.

“Pada akhirnya kami itu merasa puas ketika kami berhasil menciptakan ekosistem belajar sepanjang hayat anak-anak di situasi apapun melihat hal baru mereka belajar, jadi belajar sampai tua nanti,” pungkasnya.

Konsep yang berpusat pada anak juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkembang sesuai dengan minat dan karakter masing-masing. Dengan demikian, proses belajar tidak semata-mata mengejar hasil karya yang sempurna, tetapi membangun pengalaman positif agar anak tetap memiliki rasa ingin tahu dan senang untuk terus belajar. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....