Suliyah, Pelawak Senior Banyumasan yang Menjadi Saksi Hidup Kejayaan Peang Penjol
- 27 Jul 2026 15:22 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Nama Suliyah menjadi salah satu sosok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah lawak Banyumasan. Bersama grup lawak legendaris Peang Penjol, ia menghibur masyarakat melalui dialog berbahasa penginyongan yang mengangkat kehidupan sehari-hari dengan gaya spontan dan jenaka.
Di balik kepiawaiannya mengundang tawa, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan, mulai dari dunia ketoprak, siaran radio, hingga panggung hiburan rakyat.
Perempuan kelahiran Desa Madura, Grumbul Baru Tengah, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, itu mengaku telah mengenal seni sejak kecil. Di kampung halamannya terdapat tradisi ketika ada bayi yang baru lahir, para warga berkumpul setiap sore untuk melantunkan tembang-tembang Jawa seperti Pucung, Dhandhanggula, dan lainnya. Tradisi tersebut menjadi pengalaman pertama yang menumbuhkan kecintaannya terhadap seni meskipun saat itu ia belum memahami teori maupun notasi musik.
"Kalau di Wanareja itu setiap ada bayi lahir, sore hari bapak-bapak berkumpul sambil nembang pucung, dhandhanggula. Dari situ saya mulai mengenal seni, walaupun belum tahu not atau teorinya," ucap Suliyah kepada RRI, Senin (27/7/2026).
Ketertarikannya pada seni membawanya bergabung dengan kelompok seni ketoprak. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Saat sedang mengandung anak semata wayang, ia ditinggal oleh sang suami.
Demi mempertahankan hidup, Suliyah kembali naik panggung hanya empat puluh hari setelah melahirkan. Baginya, seni bukan sekadar hiburan, melainkan jalan untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak semata wayangnya hingga berhasil menempuh pendidikan di STSI Solo yang kini menjadi ISI Surakarta.
"Saya kerja apa saja yang penting bisa menyekolahkan anak. Alhamdulillah, dari seni anak saya bisa sekolah sampai kuliah," ujarnya.
Perjalanan Suliyah bersama grup lawak Peang Penjol bermula ketika menghadiri sebuah acara peringatan organisasi PERTIWI di wilayah Damaran, Kecamatan Sumbang. Saat itu Suliyah berada di bawah binaan INMINDAM Kodim Purwokerto, sedangkan Peang Penjol berada di bawah naungan Kepolisian.
Dari pertemuan tersebut, Peang dan Penjol melihat kemampuannya dalam membangun humor secara spontan sehingga mengajaknya bergabung. Sejak saat itu, Suliyah menjadi bagian dari grup lawak yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Banyumas.
Menurut Suliyah, nama asli Peang adalah Rusmadi, sedangkan Penjol bernama Sadikun. Selama bergabung, ia tidak hanya tampil bersama keduanya dalam berbagai pertunjukan, tetapi juga sering dipercaya tampil berdua dengan Peang ketika waktu pentas terbatas.
Popularitas mereka semakin meningkat setelah melakukan rekaman kaset di Toko Hidup Baru, yang kemudian dipasarkan hingga ke berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, dan sejumlah kota lainnya.
"Dari ketemu di acara PERTIWI itu saya diajak Peang Penjol. Kadang kalau job-nya sebentar cukup saya sama Peang saja, Penjol tidak ikut. Terus berjalan bertahun-tahun sampai rekaman kaset di Hidup Baru," tuturnya.
Selain aktif di panggung hiburan rakyat, Suliyah juga pernah menjadi bagian dari program ketoprak di RRI Purwokerto. Ia mengenang bahwa tampil di radio memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dibandingkan pertunjukan langsung karena pelawak hanya mengandalkan kekuatan dialog untuk menghibur pendengar tanpa didukung ekspresi wajah maupun gerak tubuh.
"Kalau di radio itu ndolani kuping. Di panggung kan orang bisa lihat tingkah laku kita, tapi kalau di radio harus benar-benar lucu dari omongannya. Itu susah," katanya.
Menurutnya, lawakan yang dibawakan bersama Peang di RRI sebagian besar disiarkan secara langsung. Meskipun sempat menggunakan skenario, format tersebut justru dianggap menghambat keluwesan mereka dalam berimprovisasi. Ia mengaku lebih nyaman membangun percakapan secara spontan karena telah memiliki chemistry yang kuat dengan Peang setelah bertahun-tahun tampil bersama.
"Kalau dikasih skenario malah bingung. Alhamdulillah selama sama Peang, walaupun tanpa skenario bisa berjalan bertahun-tahun," ujarnya.
Dalam setiap penampilannya, Suliyah selalu memegang satu prinsip yang tidak pernah ditinggalkan, yaitu menjaga etika dalam melawak. Sebelum naik panggung, ia dan Peang hanya menyepakati garis besar alur cerita, sementara dialog berkembang secara alami saat pertunjukan berlangsung.
Meski demikian, mereka tetap menghindari humor yang mengandung unsur pornografi maupun candaan yang berpotensi menyinggung atau merendahkan orang lain.
"Yang penting jangan keterlaluan. Jangan porno, jangan menyinggung orang. Menyindir boleh, tapi jangan bikin orang tidak nyaman," tuturnya.
Ketika diminta membandingkan lawakan dahulu dengan sekarang, Suliyah memilih tidak memberikan penilaian terhadap pelawak masa kini. Menurutnya, baik atau buruknya sebuah pertunjukan merupakan penilaian masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa seorang pelawak tetap harus menjaga tutur kata dan memahami batasan.
"Saya tidak bisa menilai pelawak sekarang. Yang menilai itu masyarakat. Yang penting menurut saya tetap jaga omongan," katanya.
Dedikasi Suliyah dalam dunia seni akhirnya mendapat berbagai penghargaan. Salah satu yang paling berkesan diterimanya saat menghadiri acara Lengger Bicara, yang dihadiri Menteri Kebudayaan dan Bupati Banyumas. Dalam kesempatan tersebut, ia memperoleh penghargaan sekaligus uang pembinaan sebesar Rp2 juta.
Bagi Suliyah, penghargaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu membuktikan bahwa seorang seniman tradisional tetap dapat memperoleh apresiasi atas pengabdiannya kepada budaya.
"Itu kebanggaan bagi saya. Saya orang yang tidak sekolah tinggi, tetapi masih dihargai karena seni," ucapnya.
Kini, di usianya yang telah melewati 80 tahun lebih, Suliyah tidak lagi aktif tampil sejak sekitar lima tahun terakhir atau sejak masa pandemi Covid-19. Keputusan tersebut diambil atas permintaan anak semata wayangnya yang khawatir terhadap kondisi kesehatannya.
Meski demikian, ia tetap bersyukur karena dunia seni telah memberinya kehidupan, membesarkan keluarga, serta mengantarkan anaknya meraih pendidikan tinggi.
Menutup perbincangan, Suliyah berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan jasa orang tua dan tetap mencintai seni tradisi. Menurutnya, pendidikan yang tinggi harus dibarengi dengan penghormatan kepada budaya sebagai warisan leluhur.
"Kalau kalian sekolah tinggi, ingat orang tua yang banting tulang demi anak. Harus balas budi. Walaupun bisa mengaji atau punya pekerjaan lain, jangan tinggalkan seni. Seni itu warisan nenek moyang. Saya punya segalanya dari seni. Dari seni saya bisa menyekolahkan anak dan membangun rumah," ucapnya. (Ilham Falih Qushoyyi).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....