Upaya Pengarusutamaan Gender di Industri Film Indonesia
- 14 Apr 2026 12:32 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Industri perfilman Indonesia saat ini tengah menunjukkan tren positif dalam mengadopsi nilai-nilai kesetaraan, salah satunya melalui upaya pengarusutamaan gender. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya karya layar lebar yang menampilkan karakter perempuan dengan citra yang berani, proaktif, dan progresif, sekaligus meningkatnya keterlibatan perempuan di balik layar.
Haryadi, seorang akademisi dari jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menjelaskan bahwa pengarusutamaan gender dalam sinema merupakan langkah krusial untuk memperbaiki representasi perempuan yang selama ini sering terpinggirkan. Menurutnya, keterlibatan perempuan kini tidak lagi terbatas sebagai pemeran, tetapi sudah merambah ke posisi strategis seperti sutradara, penulis naskah, hingga penata artistik.
“Kalau melihat perkembangan sekarang, upaya pengarusutamaan gender semakin berjalan baik. Film-film Indonesia mulai menunjukkan karakter perempuan yang positif dan progresif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haryadi menekankan bahwa sinema memiliki peran vital dalam membentuk pola pikir masyarakat karena sifatnya yang menuntut fokus penuh dari penonton. Melalui perspektif gender yang adil, film diharapkan mampu mengikis pandangan patriarki dan mengurangi beban ganda yang selama ini dipikul oleh perempuan dalam kehidupan nyata.
Namun, tantangan besar masih membayangi industri ini, terutama terkait stereotip gender yang sering muncul dalam narasi film bertema drama keluarga. Haryadi mencontohkan bagaimana karakter perempuan sering kali dijadikan kambing hitam dalam plot perselingkuhan, yang menurutnya dipicu oleh dominasi perspektif laki-laki di kursi sutradara.
“Masih perlu upaya untuk menyadarkan para pembuat naskah dan sutradara. Saat ini jumlah sutradara perempuan masih sedikit, sekitar 20 hingga 30 persen saja. Padahal, jika film dibuat oleh perempuan, penceritaannya pasti akan berbeda karena menggunakan perspektif perempuan,” tambah Haryadi.
Dukungan dari institusi pendidikan juga dinilai menjadi kunci utama dalam mencetak sinema yang peka gender. Program studi terkait film dan televisi diharapkan dapat mengintegrasikan kurikulum yang awas gender guna memastikan teknis produksi di lapangan tidak lagi memarjinalkan peran perempuan.
Terakhir, Haryadi menyampaikan harapannya agar masa depan sinema Indonesia tidak hanya sekadar menempatkan perempuan sebagai tokoh utama secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas narasi. Ia mendorong terciptanya lebih banyak ruang bagi perempuan untuk memimpin produksi film agar perspektif yang dihadirkan lebih inklusif dan adil bagi semua gender.
“Harapannya semakin banyak film yang penceritaannya diambil dari perspektif perempuan. Ini akan terwujud jika jumlah sutradara perempuan terus bertambah di masa depan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....