Tidur Cukup, Masih Lelah? Tubuh Butuh Istirahat Lengkap

  • 16 Feb 2026 08:55 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Meski sudah tidur cukup, banyak orang masih merasa lelah saat beraktivitas. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak hanya membutuhkan istirahat fisik, tetapi juga pemulihan mental, emosional, dan sosial.

Konsep tujuh jenis istirahat menjelaskan bahwa kelelahan bisa berasal dari berbagai sumber, yakni fisik, mental, emosional, sosial, sensorik, kreatif, dan spiritual. Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, menyebut stres kronis sebagai salah satu penyebab utama kelelahan yang berkepanjangan.

Dalam panduan kesehatan kerja, WHO menjelaskan bahwa tekanan psikologis dapat menurunkan kualitas hidup meskipun seseorang sudah tidur cukup. Artinya, pemulihan tubuh perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan waktu tidur.

Penelitian Sonnentag dan Fritz (2015) dalam Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa istirahat mental sangat penting untuk menurunkan stres dan memulihkan fokus. Istirahat mental dapat dilakukan dengan berhenti sejenak dari pekerjaan, mengurangi multitasking, dan membatasi paparan informasi.

Sementara itu, riset Baumeister dan Vohs (2007) dalam Psychological Science menyebut bahwa energi pengendalian diri akan menurun jika terus digunakan tanpa jeda, sehingga istirahat emosional juga diperlukan melalui cara mengekspresikan perasaan dan mengurangi tekanan batin. Selain itu, studi Holt-Lunstad dkk. (2010) dalam PLoS Medicine menemukan bahwa kualitas hubungan sosial berpengaruh pada kesehatan mental, sehingga istirahat sosial penting dengan cara menghindari relasi yang melelahkan dan memilih interaksi yang menenangkan.

Untuk istirahat sensorik, penelitian Mark dkk. (2008) dalam CHI Proceedings menunjukkan bahwa gangguan digital seperti notifikasi gawai meningkatkan stres, sehingga mengurangi layar dan suara bising dapat membantu pemulihan. Sedangkan istirahat kreatif dapat diperoleh dari alam dan seni, sebagaimana dijelaskan Kaplan & Kaplan (1989) dalam The Experience of Nature, bahwa lingkungan alami membantu memulihkan kelelahan perhatian.

Sementara itu, istirahat fisik dilakukan dengan tidur cukup, peregangan, dan relaksasi tubuh, sedangkan istirahat spiritual dilakukan melalui refleksi diri, doa, atau pencarian makna hidup. Koenig (2012) dalam Handbook of Religion and Health menyebut praktik spiritual berhubungan dengan tingkat stres yang lebih rendah.

Dengan memahami tujuh jenis istirahat ini, masyarakat diharapkan tidak hanya fokus pada durasi tidur, tetapi juga memberi ruang bagi pikiran, emosi, dan lingkungan sekitar untuk pulih. Sehingga tubuh kembali segar dan siap menjalani aktivitas harian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....