Puisi Tegal Kurusetra: Karya Sastra Penulis Muda Banyumas
- 28 Jan 2026 08:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Upaya menjaga keberlanjutan dunia sastra lokal terus dilakukan melalui berbagai ruang apresiasi dan diskusi publik. Kegiatan semacam ini dinilai penting untuk mendorong lahirnya penulis-penulis muda sekaligus memperluas minat literasi di kalangan generasi muda.
Dalam program Apresiasi Seni dan Sastra yang disiarkan Pro 2 RRI Purwokerto, yang membahas seputar buku puisi “Tegal Kurusetra” karya Umi Roisatul Mukaromah, serta peran Ahmad Tohari Awards sebagai ruang pembinaan penulis pemula.
Founder Banyumas International Literasi Festival (BIL Fest), Rahmi Wijaya, menjelaskan Ahmad Tohari Awards merupakan wadah apresiasi sekaligus inkubasi bagi penulis muda, khususnya di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Menurutnya, proses penulisan membutuhkan keberanian, konsistensi, serta ruang belajar yang berkelanjutan.
“Menulis itu bukan proses yang ringan. Penulis harus berani dikritik, merevisi, dan terus belajar. Karena itu, karya mereka perlu diapresiasi,” ujar Rahmi.
Sementara itu, penulis “Tegal Kurusetra”, Umi Roisatul Mukaromah, menyampaikan bahwa buku puisinya lahir dari ketertarikan pada sejarah dan dunia pewayangan, khususnya pergulatan batin tokoh-tokoh di dalamnya. Tema tersebut, kata dia, menjadi medium untuk merefleksikan konflik batin manusia yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Puisi bagi saya adalah ruang perenungan. Melalui sejarah dan simbol pewayangan, saya mencoba menghadirkan kegelisahan yang juga dialami manusia hari ini,” katanya.
Umi menambahkan, proses kreatif penulisan puisinya tidak lepas dari riset dan pendampingan akademik. Ia menilai membaca menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas tulisan.
Diskusi tersebut juga menyoroti relevansi sastra di era digital. Rahmi menilai sastra tetap memiliki tempat di kalangan anak muda, terutama jika dikemas dan dialihwahanakan ke berbagai medium kreatif.
“Sastra tidak berhenti di buku. Ia bisa hidup di panggung, media sosial, hingga ruang diskusi publik,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, RRI Purwokerto berharap sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal, tetapi juga sarana penyadaran sosial dan penguatan ekosistem literasi di daerah. (Dinda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....