Hari Wayang Nasional, Pertunjukan Wayang Kian Berkurang

  • 07 Nov 2025 08:54 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas : Seni pedalangan ( wayang) di Banyumas dan Cilacap kini menghadapi tantangan berat. Di tengah peringatan Hari Wayang Nasional, setiap 7 November, para dalang mengaku semakin sedikitnya pertunjukan wayang dan tingginya biaya produksi menjadi persoalan utama yang mengancam keberlangsungan seni tradisi tersebut.

Ketua Yayasan Dalang Nawan Banyumas, Bambang Barat Aji, mengatakan biaya untuk satu kali pementasan wayang bisa mencapai Rp100 juta. Biaya itu mencakup honor dalang, pengrawit, konsumsi, hingga perlengkapan pergelaran.

“Wayang itu sebagai kebudayaan bagian dari peradaban, tapi tantangannya tidak pernah mudah. Di zaman serba instan ini, pergelaran wayang yang memakan waktu 8–9 jam tentu punya tantangan tersendiri,” ungkap Bambang Barat Aji, Jumat (7/11/2025).

Menurutnya, meskipun minat penonton wayang menurun, masih ada generasi muda yang mulai tertarik mempelajari seni pedalangan. Hal ini menjadi tanda bahwa wayang belum sepenuhnya kehilangan peminat.

“Uniknya, anak-anak muda yang awalnya tidak mengenal dunia pewayangan justru kini banyak yang tertarik belajar. Saya yakin wayang akan menemukan momentumnya untuk bangkit kembali,” katanya.

Ia menambahkan, keunggulan wayang sebenarnya terletak pada kedalaman filosofinya yang sulit disamai oleh seni-seni modern. Namun, belum adanya strategi tepat dari pelaku budaya maupun pemerintah membuat posisi wayang kian terdesak.

“K-pop bisa mendominasi dunia karena strategi dan dukungan negaranya kuat. Padahal kualitas wayang jauh di atas itu. Hanya saja perhatian dan strategi dari negara masih kurang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Harian Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cilacap, Raden Tunjung, menyebut jumlah pementasan wayang di Cilacap menurun hingga 43 persen pascapandemi dan adanya kebijakan efisiensi anggaran oleh Pemerintah.

“Sebelum Covid-19, hampir setiap malam ada pementasan wayang di Cilacap. Sekarang setelah pandemi dan efisiensi anggaran, jumlahnya turun sekitar 43 persen,” jelasnya.

Tunjung mengungkapkan, selama ini pemerintah daerah menjadi penanggap utama pertunjukan wayang, terutama di bulan Suro atau saat hajatan budaya desa. Namun beberapa tahun terakhir, kegiatan tersebut semakin jarang dilakukan karena anggaran kebudayaan banyak dipangkas.

“Efisiensi ini sangat terasa, bukan hanya bagi seniman, tapi juga bagi ekonomi menengah ke bawah yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan wayang, Seperti para pedagang, tukang parkir dan lainnya, yang selalu menyertai jika ada pertunjukan wayang,” ujar Raden Tunjung.

Kendati demikian, Pepadi Cilacap tetap berupaya menjaga eksistensi seni pedalangan melalui berbagai kegiatan, seperti festival Dalang Bocah yang rutin digelar setiap tahun. Bahkan, pada Sabtu (8/11/2025) malam, pihaknya akan menggelar peringatan Hari Wayang Nasional tingkat kabupaten dengan menghadirkan Bupati Cilacap dan Ketua Pepadi Pusat.

Selain itu, para dalang juga mulai memanfaatkan media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Facebook untuk memperkenalkan karya mereka kepada generasi muda.

Penetapan Hari Wayang Nasional mengacu pada pengakuan UNESCO, terhadap wayang sebagai warisan budaya takbenda dunia pada 7 November 2003. UNESCO mencatat, kesenian wayang telah berkembang di Jawa dan Bali sejak sekitar 10 abad silam dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....