Empat Dekade Mengayuh Becak, Bertahan Ditengah Perubahan Zaman
- 29 Jul 2026 15:08 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Di sudut Pasar Manis, Purwokerto, becak tua milik Wahono masih setia menanti penumpang. Sejak tahun 1984, tukang becak asal Desa Purwanegara ini sudah mengayuh becaknya di lokasi yang sama, bahkan sebelum kawasan itu resmi menjadi pasar.
Empat puluh dua tahun berlalu, ia menyaksikan langsung bagaimana wajah transportasi kota berubah, terutama sejak kehadiran ojek online (ojol) yang kini merambah hampir semua sudut kota. Bagi Wahono, perubahan itu terasa nyata dalam kesehariannya. Penumpang yang dulu ramai dari berbagai kalangan, kini kian menyusut.
"Sekarang orang lebih milih cepet daripada murah," ujarnya saat ditemui di lokasi mangkalnya, tepat di depan Pasar Manis yang berdampingan dengan jalur angkot dan Halte Trans Purwokerto.
Ia menuturkan, dulu penumpangnya datang dari kalangan pelajar, ibu-ibu, hingga lansia. Kini, yang tersisa kebanyakan hanya ibu-ibu dan lansia, itu pun sebagian di antaranya sudah mulai beralih menggunakan layanan ojol untuk aktivitas sehari-hari.
Meski begitu, becak Wahono tetap melayani berbagai jarak tempuh. Untuk jarak dekat, ia mematok tarif Rp5.000 hingga Rp15.000.
Sementara untuk jarak jauh, tarifnya berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000, asalkan akses jalan menuju lokasi tujuan masih memungkinkan dilalui becak. Dalam sehari, ia bisa mengangkut sekitar 40 penumpang, dengan jam kerja mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.
Uniknya, lokasi mangkal Wahono menjadi titik pertemuan tiga era transportasi kota: becak, angkutan kota (angkot), dan Trans Purwokerto, yang semuanya berhimpitan di satu tempat. Menurutnya, kondisi ini justru menunjukkan bagaimana persaingan moda transportasi terjadi dari waktu ke waktu.
Ia menyebut, angkot kini sudah tidak lagi melayani rute jarak jauh seperti dulu, sementara becaknya masih bisa diandalkan untuk perjalanan jauh selama akses jalannya memadai. Di tengah persaingan itu, Wahono juga menyoroti satu hal yang menurutnya ironis: ada calon penumpang yang justru enggan naik becak karena merasa kasihan kepadanya.
Namun baginya, rasa iba semacam itu semestinya disalurkan dengan cara yang lebih berarti. "Harusnya kalau kasihan ya naik becak saja, jangan naik yang lain," katanya.
Bagi Wahono, setiap penumpang yang naik becaknya berarti langsung menyambung penghasilan hari itu. Ia berharap, alih-alih menghindar karena rasa kasihan, warga justru bisa membantu secara langsung dengan tetap memilih becak sebagai pilihan transportasi mereka.
Di tengah derap kemajuan teknologi dan gempuran ojek online, Wahono tetap setia mengayuh becaknya di Pasar Manis. Baginya, becak bukan sekadar alat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang telah ia tekuni lebih dari empat dekade. (Siti Nuriyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....