Sekolah Rakyat Menjaga Asa untuk Hidup
- 25 Jun 2026 08:28 WIB
- Purwokerto
RRI. CO.ID, Banjarnegara – Puluhan siswa duduk melingkar di ruang perpustakaan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 27 Banjarnegara. Di ruang yang juga difungsikan sebagai tempat ibadah itu, lima kelompok tampak serius berdiskusi mengerjakan soal dari guru.
Di tengah suasana itu, seorang anak tampak memiliki ukuran tubuh yang berbeda di antara anak seusianya. Tubuhnya setinggi sekitar 119 sentimeter dengan berat 26 kilogram. Wajah dan bagian matanya terlihat kekuningan.
Anak itu bernama Raditya Zhibran Setiawan yang berumur 14 tahun, kawan- kawannya memangil Gibran, siswa kelas VII SRMP 27 Banjarnegara.
Meski hidup dengan kondisi kesehatan yang tidak ringan, Gibran tetap aktif belajar. Gibran mencatat hasil diskusi, bertanya, dan berusaha mengikuti ritme belajar seperti teman-temannya.
“Saya ingin menjadi pengusaha rumah makan, karena suka masak. Sekolah di sini supaya bisa dapat ijazah dulu, lalu kerja, baru buka rumah makan,” kata Gibran.
Di balik semangat itu, Gibran menyimpan perjalanan hidup yang tidak mudah. Dirinya berasal dari keluarga “ broken home “ dan kini tinggal bersama bibinya, Sri Suprapti, di Desa Banjar Kulon, Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara.
“Anak adik saya ini dua, Gibran sama adiknya setelah adik saya bercerai ikut saya di sini. Kurang lebih sejak tahun 2023 memang ikut saya,” ujar Sri Suprapti.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Gibran sempat putus sekolah selama dua tahun akibat kondisi kesehatan dan pengalaman perundungan di sekolah sebelumnya. Namun, di SRMP 27 Banjarnegara, Gibran kembali menemukan ruang aman untuk belajar.
“Kalau di sini teman-temannya baik, suka membantu, suka bercanda. Pokoknya betah sekolah di sini,” kata Gibran.

Perubahan itu tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam pendampingan kesehatan yang kini menjadi bagian penting dari sistem Sekolah Rakyat.Sejak Januari 2026, Gibran rutin menjalani perawatan dan pemeriksaan kesehatan ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta setiap dua minggu sekali dengan pendampingan tenaga kesehatan sekolah.
Tenaga kesehatan SRMP 27 Banjarnegara, Maya Diningrum, menyebut Gibran termasuk siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Hal ini terjadi sejak awal terdeteksi, melalui pemeriksaan kesehatan pada awal masuk sekolah rakya .
“Dari hasil screening, petugas puskesmas melihat ada yang berbeda. Badannya kecil, matanya kuning, perut agak besar. Dari situ kami rujuk ke pemeriksaan lanjutan,” ujar Maya.
Hasil pemeriksaan di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara kemudian mengarah pada dugaan gangguan fungsi hati, sebelum akhirnya diperkuat di RSUP Dr Sardjito sebagai hepatitis autoimun yang tidak menular.
Direktur RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, dr. Eri Rosita, menjelaskan bahwa temuan awal Gibran muncul saat proses pemeriksaan kesehatan saat calon siswa Sekolah Rakyat akan masuk ke sekolah.
Dari sejumlah literatur, hepatitis autoimun merupakan penyakit peradangan hati kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel hati (liver) yang sehat. Penyakit ini tidak menular, namun jika tidak ditangani, dapat memicu kerusakan parah, sirosis, hingga gagal hati.
“Waktu itu kami melihat ada anak yang berbeda. Tingginya hanya sekitar 110 sentimeter, berat badan sekitar 25 kilogram, kulit dan mata kuning. Kami curiga ada gangguan gizi sekaligus penyakit hati,” kata dr. Eri Rosita.
Menurutnya, pada tahap awal sempat dilakukan penundaan keikutsertaan sekolah sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.“Waktu itu kami khawatir, apakah ini penyakit menular. Tapi setelah pemeriksaan laboratorium dan rujukan ke RSUP Dr Sardjito, dipastikan ini hepatitis autoimun, bukan penyakit yang menular,” ujar dr. Eri Rosita.
Dari hasil itu, Gibran akhirnya diperbolehkan kembali bersekolah dengan pengawasan kesehatan ketat. Ia menjalani pengobatan berkelanjutan, hingg akhir Juni 2026 telah lebih dari 14 kali pemeriksaan ke Poli Anak sub Gastrohepatologi RS RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
Setelah menjani rangkain pengobatan kondisi fisik Gibran, perlahan menunjukkan perbaikan.“Yang dulu kuning sekali, sekarang sudah jauh membaik, meski masih ada sedikit di bagian mata,” kata Maya.
Perhatian terhadap Gibran tidak hanya berhenti pada aspek medis. Sekolah juga menanggung kebutuhan tambahan seperti transportasi, pendampingan, hingga susu, suplemen khusus yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan.
“Kalau obat banyak yang ditanggung BPJS, tapi ada kebutuhan seperti susu khusus yang dibantu sekolah,” tambah Maya.

Sistem ini menjadi bagian dari konsep Sekolah Rakyat yang tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga perlindungan sosial dan kesehatan anak. Kepala SRMP 27 Banjarnegara, Ahmad Fadil, menegaskan bahwa sekolah ini dirancang untuk memastikan tidak ada anak dari keluarga miskin yang tertinggal dari pendidikan maupun layanan dasar.
Diakui oleh Ahmad Fadil, untuk pembiayan dan pengobatan anak- anak yang sakit di tangung oleh BPJS Kesehatan. Sedangkan pihak sekolahmenanggung biaya lainnya, seperti transportasi, biaya makanan tambahan dan lainnya.
“Sekolah Rakyat ini bukan hanya pendidikan, tetapi juga kesehatan dan pendampingan penuh bagi anak-anak. Selain Gibran kami juga telah merawat dua anak lainnya, ke rumah sakit bahkan sampai menjalani operasi di rumah sakit Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, ” ujarnya.
Sekolah ini menampung sekitar 75 siswa dari keluarga miskin ekstrem, dan anak putus sekolah yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Aktivitas mereka dimulai sejak dini hari, dari ibadah, olahraga, hingga pembelajaran formal dan kegiatan asrama yang terstruktur hingga malam hari.
Setiap siswa sekolah rakyat mendapatkan makan tiga kali, ringan dua kali. Mereka mendapatkan pakaian sebanyak 14 pasang, dua pasang sepatu, perlengkapan sekolah, perlengkapan mandi, kebutuhan hidup lainnya, hingga laptop diberika sekolah.
Lanjut Ahmad Fadhil, para siswa tinggal di asrama mendapatkan pendidikan formal dan non formal. Mereka didampingi selama 24 jam oleh para guru, tenaga pendamping, tenaga medis dan karyawan lainnya dengan jumlah mencapai 66 orang.
Para siswa juga diajarkan terkait agama, kedisplinan, ketrampilan hidup, olahraga, kearifan lokal, tata krama dan lainnya. Ahmad juga memastikan di balik sistem ketat itu, terdapat pendekatan yang berusaha membangun rasa aman dan nyaman bagi anak-anak yang sebelumnya banyak mengalami keterbatasan akses pendidikan maupun kebutuhan mendasar lainnya.

Bagi Gibran, lingkungan ini menjadi titik balik kehidupan.
“Kalau di sini teman-temannya baik, guru juga baik. Saya selalu diantar berobat ke Jogja, saya mau mengucapkan terimakasih kepada guru, kepala Sekolah dan Pak Presiden Prabowo,” katanya.
Bibinya, Sri Suprapti, juga merasakan perubahan besar pada keponakannya itu. “Dulu dia pendiam, kalau sakit tidak mau cerita. Sekarang lebih ceria,” ujarnya.
Bahkan, keluarga yang merawat Gibran ikut merasakan dampak ekonomi dari program pendampingan Sekolah Rakyat. Bantuan peralatan pembuatan makanan ringan, seperti mixer, alat pengepres kemasan plastik, kompor dan lainnya membuat usaha makanan ringan mereka berkembang.
“Dulu omset sekitar 200 ribu per hari, sekarang bisa 300 ribu,” kata Sri Suprapti.
Program Sekolah Rakyat sendiri terus diperluas secara nasional. Pemerintah menargetkan ratusan ribu siswa dapat terjangkau pada 2029 sebagai bagian dari upaya pemerataan pendidikan dan pengentasan kemiskinan.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menargetkan program Sekolah Rakyat mampu menampung lebih dari 400 ribu siswa pada 2029. Saat ini, Sekolah Rakyat telah menampung sekitar 45 ribu siswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Sekarang sudah 45.000 siswa, tahun depan bertambah lagi 60.000 sehingga jumlahnya lebih dari 100.000 siswa. Insya Allah pada 2028 mendekati 300.000 siswa dan pada 2029 sudah di atas 400.000 siswa,” kata Saifullah Yusuf saat konferensi pers usai penyerahan sertifikat tanah seluas 6,3 hektare dari Kementerian Hukum di Jakarta, Kamis ( 18/6/2026).
Saifullah menambahkan, hasil evaluasi selama 11 bulan menunjukkan perkembangan positif pada para siswa Sekolah Rakyat. Mereka dinilai lebih percaya diri, disiplin, dan optimistis dalam menatap masa depan.
“Anak-anak kita kini lebih percaya diri, lebih disiplin, dan lebih optimistis menghadapi masa depan setelah mengikuti Sekolah Rakyat. Mereka juga semakin fokus belajar serta menunjukkan perkembangan positif selama 11 bulan pelaksanaan program tersebut,” ucap Mensos Saifullah
Dipertengahan Juni 2026 di ruang perpustakaan yang juga menjadi tempat belajar sekaligus beribadah itu, Gibran kembali duduk di antara buku dan lembar catatannya. Di tengah keterbatasan kesehatan dan perjalanan hidup yang tidak mudah, Gibran tetap melangkah pelan namun pasti.
Gibran percaya di Sekolah Rakyat ini, setiap anak bukan hanya diberi kesempatan untuk belajar. Tetapi juga kesempatan untuk sehat dan bangkit, guna menatap masa depan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....