Balon-Balon Harapan dari Sudut Desa Depok
- 07 Apr 2026 17:45 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Kebumen - Balon-balon berwarna cerah itu menari pelan di udara, mengikuti langkah kaki yang tak lagi muda. Di tangan Tusnaeni, seutas tali menjadi penghubung antara warna-warni keceriaan dan kerasnya realitas hidup.
Di sudut Desa Depok, RT 4/RW 4, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, balon-balon itu bukan sekadar dagangan. Ia adalah sumber penghidupan—juga harapan.
Setiap hari, Tusnaeni berjalan menyusuri jalan kampung bersama sang suami. Langkah mereka pelan, sesekali berhenti ketika ada anak-anak yang tertarik.
Dari balon-balon itulah, mereka menghidupi tiga anak dan bertahan di tengah ketidakpastian penghasilan.Namun hidup tak selalu berjalan ringan seperti balon yang mereka jual.
Beberapa tahun lalu, kecemasan sempat menyelimuti hari-hari Tusnaeni. Suaminya yang mengidap diabetes melitus mengalami luka serius di kedua kakinya. Luka itu tak kunjung sembuh, justru semakin parah hingga mengharuskannya menjalani operasi berulang kali.
“Waktu itu rasanya seperti tidak punya jalan keluar. Kami hanya pedagang kecil, tidak tahu harus mencari biaya ke mana,” kenang Tusnaeni, lirih.
Di titik terendah itulah, secercah harapan datang melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Awalnya, mereka terdaftar sebagai peserta mandiri.
Penghasilan yang tak menentu membuat iuran terasa berat bagi Tusnaeni. Hingga akhirnya, mereka terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah.
“Alhamdulillah, semua pengobatan suami ditanggung. Dari operasi sampai kontrol rutin, kami tidak perlu memikirkan biaya lagi,” ujarnya, matanya berbinar.
Tiga kali operasi telah dilalui. Luka yang dulu mengkhawatirkan kini mulai membaik, meski masih membutuhkan perawatan rutin. Di tengah keterbatasan fisik, sang suami tetap berusaha bangkit, menemani Tusnaeni kembali berjualan.
Langkahnya memang tak lagi sekuat dulu
Bagi Tusnaeni, manfaat JKN tak hanya dirasakan suaminya. Ketika anak-anaknya sakit, ia tak lagi menunda untuk berobat. Puskesmas kini menjadi tempat yang mudah dijangkau tanpa rasa cemas akan biaya.
“Kalau anak batuk atau pilek, saya langsung bawa. Pelayanannya baik, dan tidak keluar biaya,” tuturnya.
Kepala Bagian SDMUK BPJS Kesehatan Cabang Kebumen Andi Sulistiyanto, menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan. Terus berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat, mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai melalui Program JKN.
Cakupan kepesertaan di Kabupaten Kebumen pun terus meningkat. Per 1 April 2026, sebanyak 99,21 persen dari total 1,4 juta penduduk telah terdaftar sebagai peserta JKN, termasuk masyarakat di wilayah pedesaan seperti Pejagoan.
Menurutnya, BPJS Kesehatan juga aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Untuk memastikan masyarakat kurang mampu, dapat terakomodasi dalam segmen PBI.
“ Melalui proses verifikasi dan validasi data berbasis tingkat kesejahteraan (desil), masyarakat dengan kondisi ekonomi terbawah umumnya pada desil 1 hingga 5 diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah,kata Andi Selasa ( 7/4/2026).
Dengan sistem ini, lanjutnya masyarakat yang sebelumnya kesulitan membayar iuran. Kini tetap dapat mengakses layanan kesehatan tanpa beban biaya.
Di balik data dan capaian itu, tersimpan kisah kisah kecil seperti yang dialami Tusnaeni. Kisah tentang perjuangan, ketakutan, dan akhirnya ketenangan.
Kini, setiap balon yang dijual bukan lagi sekadar barang dagangan. Ia menjelma menjadi simbol harapan bahwa kehidupan bisa terus berjalan, bahwa kesehatan bukan lagi kemewahan yang sulit dijangkau.
Tusnaeni hanya memiliki satu doa sederhana.
“Semoga JKN terus berjalan. Kami yang penghasilannya tidak menentu sangat terbantu. Setidaknya, kalau sakit, kami tidak lagi takut soal biaya,” katanya pelan.
Di bawah langit Kebumen, balon-balon itu terus melayang membawa warna. Sekaligus harapan bagi sebuah keluarga kecil, yang tak pernah berhenti bertahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....