Umi Kulsum, Penolong Kaum Terpinggirkan
- 03 Mar 2026 10:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Di sudut-sudut Pasar Wage, Purwokerto, dulu seorang perempuan bersepeda menjajakan es keliling. Di antara panas siang dan peluh yang menetes, matanya kerap menangkap pemandangan yang tak semua orang ingin lihat: lansia terbaring lemah di emperan toko, pemulung yang menggigil di kolong jembatan, dan wajah-wajah bingung para pendatang yang tak tahu harus meminta tolong ke mana.
Perempuan itu bernama Umi Kulsum Sumarni. Usianya kini 52 tahun. Sejak 2016, ia mengabdikan sebagian hidupnya untuk mereka yang tercecer dari jangkauan sistem. Dari rasa kasihan yang sederhana, lahirlah langkah kecil yang kemudian tumbuh menjadi gerakan bernama Lelang Brownies Sedekah (LBS).
“Awalnya cuma karena kasihan,” tuturnya pelan. Saat itu, ia masih sendirian. Belum punya banyak teman, belum paham birokrasi, apalagi jaringan. Yang ia tahu hanya satu: orang sakit harus dibantu.
Suatu hari, seorang anak pemulung muntah darah dan demam tinggi di sekitar pertokoan Pasar Wage. Umi panik. Ia tak punya dana, tak punya relasi. Namun ia punya tekad. Ia pun membuat brownies dan “memaksa” pelanggannya membeli dengan niat sedekah Rp30 ribu per kotak. Uang itu dipakai untuk membawa si anak ke rumah sakit.
“Alhamdulillah bisa sembuh. Dari situ saya mulai jualan brownies untuk donasi,” kenangnya.
Di balik loyang-loyang kue itu, tersimpan cerita yang tak banyak orang tahu. Ia pernah berbohong kepada ibunya demi mendapatkan restu. “Saya bilang ada pesanan 50 loyang untuk Jumat. Padahal tidak ada. Saya cuma ingin ibu bantu bikin kue dan rido,” ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Kini sang ibu sudah tahu. Dan justru menjadi pendukung terdekatnya.

Selama hampir satu dekade, ratusan orang telah disentuh oleh tangan-tangan kecil LBS. Dari membawa pasien tak mampu ke rumah sakit, mengurus administrasi kependudukan, hingga menyelamatkan anak-anak agar tak putus sekolah ketika orang tuanya meninggal dunia.
“Kalau ada yang meninggal, kami pikirkan anaknya. Jangan sampai putus sekolah. Kami carikan dana. Kami bantu ibunya supaya bisa mandiri,” ujarnya baru- baru ini kepada RRI Purwokerto.
Dari bantuan konsumtif, LBS bertransformasi menjadi gerakan pemberdayaan. Umi menyebutnya sebagai bantuan produktif. Mereka tak ingin orang terbiasa meminta. Mereka ingin orang bangkit.
Ada yang diberi modal warung kecil. Ada penyandang disabilitas yang dibantu memproduksi celengan dari gipsum. Ada ibu-ibu yang dirintis usaha rumahan. Semua dengan satu prinsip: jangan buat orang malas, tapi buat mereka lebih semangat.
Kini anggota LBS sekitar 30 orang. Kebanyakan guru, ibu rumah tangga, pelajar, dan mahasiswa. Namun untuk urusan pasien berat, Umi memilih turun sendiri. “Urus pasien itu 24 jam. Bukan cuma tenaga, pikiran juga,” katanya.
Umi tak anti pemerintah. Justru ia menggandeng Dinas Sosial dan berbagai pihak. Namun dalam kondisi darurat, baginya nyawa lebih dulu diselamatkan, urusan administrasi menyusul.
“Saya tidak bisa menunggu birokrasi selesai kalau orangnya sudah kritis. Nyawanya dulu saya selamatkan,” tegasnya.
Gerakan ini berkembang bukan karena promosi besar-besaran. Justru sebaliknya, LBS lebih sering “dicari” ketimbang mencari. Informasi menyebar dari mulut ke mulut dan media sosial pribadi Umi, yang dikenal dengan nama Umi Bronis di Instagram dan Facebook.
Bahkan seorang donatur yang kini tinggal di Belanda mengenalnya hanya dari pencarian relawan di Purwokerto. “Yang muncul nama saya terus. Akhirnya sampai sekarang jadi donatur tetap,” katanya sambil tersenyum.
Saat bencana besar melanda Lombok dan Palu, Umi dan tim bahkan melelang brownies selama dua bulan penuh. Ia turun langsung ke Lombok selama hampir dua pekan bersama relawan lainnya.
Hari ini, ia masih menerima pasien remaja 17 tahun dengan tumor besar dari keluarga tak mampu. Saat ini di rawat di RS Margono Soekarjo Purwokerto, ibunya hanya penganyam untuk bertahan hidup. “Kasihan sekali. Tapi insyaallah kita perjuangkan,” ucapnya lirih.
Selama ini masyarakat yang ingin tertarik dengan kegiatan Umi, menghubungi secara langsung dengan nomer WA : 087837373335.
Bagi Umi, kemanusiaan bukan urusan satu pihak. Bukan semata tanggung jawab pemerintah. “Hidupkan hati nurani. Jangan cuek dengan kesusahan orang lain. Dengan menolong orang lain, sebenarnya kita sedang menolong diri sendiri.”
Di tengah dunia yang kian sibuk dan individual, kisah Umi Kulsum Sumarni adalah pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari ketukan hati yang sederhana. Dari seorang penjual es keliling, dari loyang brownies, dari keberanian untuk peduli.