Pesona Ramuan Ibu, Hadir Jamu di Pojok Pasar

  • 19 Jun 2025 15:57 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purwokerto: Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang kian memudarkan jejak tradisi, aroma rempah dari sudut Pasar Manis Purwokerto menjadi penanda bahwa warisan leluhur belum sepenuhnya sirna. Di tempat itu, setiap pagi, seorang perempuan paruh baya dengan senyum sabar dan tangan cekatan mengolah akar, rimpang, dan dedaunan menjadi jamu tradisional—minuman kesehatan warisan nenek moyang.

Ia adalah Tutiningsih, satu dari sedikit penjaga kearifan lokal yang masih setia meracik jamu dengan cara tradisional. Perjalanan Tutiningsih dalam dunia jamu bukan sekadar usaha ekonomi, tapi kelanjutan dari kisah lintas generasi.

Tutiningsih memulai usahanya pada tahun 2009, meneruskan langkah ibunya yang sudah lebih dahulu berdagang jamu di tempat yang sama.

“Dari ibu saya belajar semua. Mulai dari mengenali bahan, cara menumbuk, sampai teknik merebus,” ujarnya sambil menggiling kencur yang telah dibersihkan.

Tidak seperti jamu instan yang kini mudah ditemukan di pasaran, Tutiningsih tetap memegang teguh prinsip jamu harus segar, alami, dan diracik langsung di depan pembeli. Setiap hari, sejak pukul 7 pagi hingga menjelang siang, ia melayani pembeli dengan ramuan yang ia siapkan sejak dini hari.

Menurutnya, proses membuat jamu dimulai jauh sebelum pasar dibuka. Sekitar pukul 2 dini hari, saat sebagian besar warga masih terlelap, Tutiningsih sudah bersiap di dapur rumahnya.

Sebelumnya, bahan-bahan seperti kunyit dan kencur telah dikupas oleh anggota keluarga yang kini mulai ikut membantunya. Setelah bahan dihaluskan, barulah proses perebusan dilakukan hingga menghasilkan sari jamu yang khas, siap dibawa ke pasar.

“Sekarang ini sudah ada yang bantu di rumah untuk ngupas kunyit dan kencur. Nanti siang jam 12 saya istirahat pulang, dilanjut lagi numbuk. Terus jam 2 dini hari udah mulai menghaluskan dan merebus,” katanya.

Dengan rutinitas yang nyaris tanpa jeda, tubuhnya mungkin lelah, tapi semangatnya tak pernah surut. “Kalau orang bilang sekarang lebih enak minum vitamin, ya silakan. Tapi saya percaya, jamu itu bukan sekadar minuman. Ini doa, ini warisan,” katanya.

Meskipun digempur produk-produk kesehatan modern, jamu racikan Tutiningsih tetap memiliki pelanggan setia. Bukan hanya karena manfaat kesehatannya, tetapi juga karena transparansi proses dan keaslian bahan.

Selain itu, Tutiningsih juga mengaku masih banyak pembeli yang datang untuk membeli jamu racikannya. Hal itu karena pembeli dapat melihat langsung prosesnya dan mengetahui bahan yang digunakan masih sangat alami.

Jika sebelumnya hanya dirinyalah yang mampu mempersiapkan bahan-bahan jamu tersebut. Namun, kini saat dirinya sedang berjualan mulai dari jam 7 pagi hingga jam 12 siang, sudah ada orang rumah yang membantunya menyiapkan bahan mulai dari mengupas bahan seperti kencur dan kunyit.

Peroses Pembuatan Jamu Tradisonal di Pasar Manis Purwokerto (Foto: Dok. RRI)

“Sekarang ini sudah ada yang bantu di rumah untuk ngupas kunyit dan kencur. Nanti siang jam 12 saya istirahat pulang, dilanjut lagi numbuk. Terus jam 2 dini hari udah mulai menghaluskan dan merebus.” ujarnya saat sedang meracik jamu.

Tutiningsih berupaya agar tradisi meracik jamu secara langsung ini dapat terus bertahan. Salah satu upaya yang ia lakukan yakni mewariskan tradisi tersebut ke salah satu anaknya, yang saat ini bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di wilayah kabupaten Banyumas.

Di tengah pasar yang ramai, pembeli bisa melihat langsung tangan-tangan cekatan itu menakar bahan, menumbuk, dan menyaring jamu di hadapan mereka. “Orang percaya karena bisa lihat sendiri bahannya. Tidak ada yang instan, semua alami,” ujarnya.

Kini, Tutiningsih tak hanya menjadi penjual jamu, tapi juga pewaris nilai. Ia menyadari bahwa tradisi ini tidak akan bertahan lama jika tidak diwariskan.

Karena itu, ia mulai mengenalkan proses peracikan jamu kepada anaknya yang kini bekerja sebagai perawat. Harapannya sederhana: meski sang anak berkarier di dunia medis modern, ia tetap membawa nilai-nilai alami dari rumah.

“Saya cuma ingin anak saya tahu, kalau sehat itu bisa datang dari mana saja. Termasuk dari dapur rumah sendiri,” ucap Tutiningsih.

Di tangan Tutiningsih, jamu bukan sekadar cairan pahit untuk menyembuhkan tubuh, ia adalah cerita, ritual, dan cinta. Sebuah pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan yang tak ternilai berakar dari tanah, diracik dengan pengetahuan lokal, dan disajikan dengan ketulusan.

Dan setiap kali ia mengaduk ramuan di gelas plastik bening, seolah ada satu doa yang menyertai semoga warisan ini tidak hanya dikenang. Tetapi tetap hidup di hati dan tubuh generasi yang akan datang. (Fachriansyah/Vinta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....