Mengajar dengan Hati: Kisah Guru di Sekolah Inklusi SDN 5 Arcawinangun
- 19 Mar 2025 11:07 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas: Dedikasi penuh ditunjukkan oleh Sugiarti, seorang guru wiyata bakti di SDN 5 Arcawinangun, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, yang telah mengabdi sejak 2005. Ia awalnya tidak berencana menjadi guru, tetapi sekolah mencarinya untuk mengajar seni tari.
Saat itu, SDN 5 Arcawinangun membutuhkan pelatih tari untuk membimbing siswa dalam kegiatan seni. Sejak saat itu, Sugiarti dengan tulus menjalankan perannya sebagai pendidik di bidang seni tari.
Sekolah tempatnya bekerja mulai berubah menjadi sekolah inklusi—sekolah yang menerima dan melayani semua siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK)—pada tahun 2009. Hal ini bermula dari kedatangan seorang murid yang menggunakan kursi roda, yang membuat kepala sekolah saat itu bersimpati dengan keadaannya.
Sugiarti, yang pada awal pengabdiannya mengajar di lima sekolah, akhirnya menetap di SDN 5 Arcawinangun. "Awal bakti saya dari 2005, saya ke SD Sokaraja, ke SD Arcawinangun 3, Arcawinangun 5, terus Purwokerto Wetan, terus Sokanegara," ungkapnya ketika ditemui RRI.
Mengabdikan dirinya selama 20 tahun tidaklah mudah. Namun, bagi Sugiarti, ini adalah takdir yang harus dijalaninya. Ia menyadari bahwa pendidikannya yang hanya setara SMA membuatnya tidak punya banyak pilihan.
Meski sempat ditawari untuk kuliah, keadaan ekonomi kembali membuatnya mengurungkan niat. Ditambah dengan suaminya yang tidak mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, ia memilih untuk tidak memperdebatkannya.
Kendati demikian, Sugiarti lebih memilih memberikan kesempatan berkuliah kepada anaknya. "Daripada anak saya tidak kuliah, lebih baik saya, orang tua, yang tidak kuliah. Karena seandainya saya kuliah, nanti saya cekcok dengan suami untuk kedua kalinya. Yang penting anak berhasil, sukses lah," ujarnya kepada RRI, Selasa (18/3/2025).
Gaji yang ia dapatkan pun tak seberapa. Pada awal pengabdiannya di tahun 2005, ia hanya menerima Rp50.000. Kini, gajinya telah meningkat menjadi Rp1.300.000, yang dibayarkan dari APBD. Baginya, cukup atau tidaknya gaji tetap harus dicukupkan untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk ongkos bensin ke sekolah setiap hari.
Di tengah keterbatasannya, Sugiarti merasa senang karena dapat menjalankan panggilan hati untuk menjadi guru dan mengabdikan dirinya mendidik anak-anak di SDN 5 Arcawinangun yang merupakan sekolah inklusi.

Tantangan Guru Pendamping di Sekolah Inklusi
Sugiarti tidak berharap banyak untuk ke depannya. Ia menyadari bahwa tingkat pendidikan dan usianya yang telah menginjak 55 tahun menjadi penghalang bagi penyetaraan statusnya dari wiyata bakti menjadi PNS. Terpenting baginyab anak didiknya, khususnya ABK dapat mengenyam pendidikan dengan layak, sebab sebagian besar ABK ini berasal dari kalangan kurang mampu.
Setiap kali melakukan perjalanan dari rumahnya, yang berjarak sekitar 5 KM Sugiarti mengaku selalu meniatkan diri mengabdikan pada ABK. Meski diakui perlu kesabaran tersendiri setiap harinya, dalam proses belajar mengajar.
“ Saya selalu meniatkan diri setiap kali berangkat, saya niatkan untuk beribadah merawat anak- anak ABK. Dengan ikhlas dengan sunguh- sunguh, kalau saya nga kuat yah sudah dari dulu tapi kini sudah 20 tahun,” ungkap Sugiarti.
Data Kemendikbudristek pada tahun 2023 mencatat bahwa dari 40.164 sekolah inklusi di Indonesia, hanya sekitar 14,8% yang sudah memiliki guru pembimbing khusus. Hal ini juga terjadi di SDN 5 Arcawinangun, di mana saat ini hanya terdapat lima guru pendamping.
Salah satu guru pendamping di sekolah tersebut adalah Intan Savitri, yang telah menjadi pendamping kelas sejak dua tahun lalu. Dengan gaji sebesar Rp400.000 per bulan, Intan harus menghadapi ABK, khususnya dengan kondisi down syndrome, autisme, dan lainnya.
Sebagai guru pendamping kelas VI, tugas Intan adalah membantu guru kelas dalam mendampingi ABK. Intan, yang merupakan alumni SDN 5 Arcawinangun, mengaku sudah terbiasa berteman dan memahami karakter anak-anak berkebutuhan khusus di sekolahnya.
"Mengajar di sini ya harus ekstra sabar, menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Misalnya, anak dengan down syndrome cenderung lebih kekanak-kanakan, jadi harus ekstra sabar," ungkap Intan.
Hani Sepriani, guru lainnya di SDN 5 Arcawinangun, juga membagikan pengalamannya dalam mengajar ABK. Ia merupakan lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan kini mengajar sebagai guru ASN PPPK di SDN 5 Arcawinangun.
Hani menyebut bahwa sejak awal menjadi guru adalah cita-citanya, sehingga ia memutuskan untuk berkuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Setelah lulus, ia melamar kerja sebagai guru di beberapa sekolah hingga akhirnya diterima di SDN 5 Arcawinangun.
Dari wawancara RRI, terdapat perbedaan antara guru kelas dan guru pendamping. "Kalau guru kelas itu untuk seluruh siswa, sedangkan guru pendamping khusus membimbing Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)," kata Hani.
Meski dibantu oleh guru pendamping, tetap ada tantangan dalam mengajar di kelas. Beberapa murid merupakan slow learner atau lambat belajar, yang menyulitkan mereka dalam menangkap materi. Selain itu, faktor ekonomi dan lingkungan sekitar juga menjadi penghambat dalam proses belajar-mengajar.
Hani mengaku tidak begitu berpengalaman menghadapi ABK pada awalnya. Namun, materi pendidikan inklusi yang ia pelajari selama kuliah sangat membantunya.
Ia menambahkan bahwa sekolah harus mencari guru pendamping sendiri karena tidak ada penyediaan dari dinas terkait. Pada akhirnya, gaji guru pendamping ditanggung oleh komite sekolah.
"Jadi, kita kan nggak punya biaya untuk menggaji. Ya memang komite itu siaga, siap membantu. Jadi untuk penggajian guru-guru pendamping itu dari komite, dari wali murid," ungkapnya.
Minimnya Guru Tetap dan Kesejahteraan di Sekolah

Kepala SDN 5 Arcawinangun, Aminah Agustina, mengungkapkan bahwa dari total 93 siswa di sekolahnya, sebanyak 56 anak di antaranya merupakan ABK. Mereka disatukan dalam proses belajar-mengajar dengan siswa lainnya, sehingga keberadaan guru pendamping sangat dibutuhkan.
Saat ini, sekolah memiliki enam guru kelas, lima guru pendamping, serta masing-masing satu guru agama dan olahraga. Dari jumlah tersebut, hanya ada satu guru laki-laki di sekolah ini, sehingga pola pengasuhan sangat terasa di lingkungan yang berada di tengah permukiman warga.
Persoalan kesejahteraan guru di SDN 5 Arcawinangun menjadi perhatian Aminah. Dari 13 guru yang ada, hanya empat di antaranya berstatus PNS, lima orang merupakan ASN PPPK, dan sisanya adalah guru honorer.
"Kami menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, artinya dalam pembelajaran ini, guru kelas dan guru pendamping bekerja sama. Nanti, di akhir pembelajaran, ada ruangan tersendiri untuk anak-anak ABK guna melatih motorik kasar dan motorik halus mereka," jelas Aminah.
Siswa ABK di SDN 5 Arcawinangun, mencatatkan prestasi di tingkat Kabupaten Banyumas. Mulai menjadi juara dalam ajang Special Olympics Indonesia (Soina). Diantaranya pada cabang lari, bocia, selain itu mengikuti pertunjukan seni di sejumlah acara di Banyumas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....