Perjuangan Hima : Dari Keterpurukan Menuju Rumah Impian
- 15 Feb 2025 10:00 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas : Matahari mulai tenggelam ketika Hima Pujiantono keluar dari mobilnya.Dengan langkah kaki yang tidak terlihat normal, ia berjalan menuju rumah barunya di Blok H-8 Perum Praja Wijayakusuma, Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja, Banyumas. Bagi sebagian orang, rumah sederhana ini mungkin biasa saja. Namun bagi Hima, rumah ini adalah simbol perjuangan, bukti bahwa ia mampu bangkit setelah terpuruk.
Sejak awal Februari 2025, Hima resmi menerima kunci rumah dari Bank Tabungan Negara (BTN). Perjalanannya menuju rumah impian ini bukanlah perkara mudah. Butuh waktu delapan tahun hingga akhirnya ia bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Sebelum kecelakaan merenggut banyak hal dari hidupnya, Hima menjalani kehidupan yang berkecukupan. Pada tahun 2008, ia bekerja sebagai sales mobil di sebuah perusahaan ternama yang membuka cabang di Cilacap. Profesi ini membawa keberuntungan: ia menikah, memiliki tiga anak, dua mobil, serta mendapatkan rumah dari orang tuanya di salah satu perumahan di Purwokerto.
Namun, semuanya berubah drastis pada tahun 2016. Kecelakaan di daerah Notog, Patikraja, membuatnya mengalami cedera serius pada tulang paha. Kondisi ini tidak hanya membatasi geraknya, tetapi juga menghancurkan pekerjaannya. Dalam waktu singkat, kehidupannya runtuh. Istrinya meminta cerai dan membawa serta seluruh harta mereka, termasuk mobil. Rumah yang dulunya menjadi tempat penuh kebahagiaan akhirnya dijual untuk biaya pengobatan.
“Ketika saya terbaring tak berdaya, saya kehilangan segalanya,” kenang Hima. “Saya tidak hanya kehilangan pekerjaan dan harta, tapi juga keluarga saya.”
Memulai Kembali dari Nol
Hima butuh waktu dua tahun untuk bisa kembali berjalan, meskipun harus bergantung pada tongkat kruk. Dengan fisik yang belum pulih sepenuhnya, ia berusaha mencari pekerjaan. Namun, kondisi tubuhnya membuat perusahaan enggan menerimanya.
Titik balik datang pada tahun 2018. Seorang teman SMA yang bekerja di Jakarta memintanya mencarikan mobil mewah bekas. Setelah berhasil mendapatkan mobil dengan harga yang sesuai, Hima mendapatkan komisi Rp30 juta. Uang ini ia manfaatkan untuk membayar uang muka sebuah mobil LCGC yang kemudian digunakannya sebagai kendaraan taksi online.
“Mobil ini adalah harapan baru saya. Saya bertekad untuk membuktikan kepada mantan istri dan orang-orang yang dulu meremehkan saya bahwa saya masih bisa mencari nafkah sendiri,” ujarnya.
Perlahan tapi pasti, kehidupannya membaik. Ia sempat tinggal bersama ibunya, lalu menyewa kamar kos di daerah Tanjung, Purwokerto dengan alasan dekat dengan kota sehingga mudah mendapatkan orderan memperoleh penumpang. Pendapatan dari taksi online cukup menjanjikan. Pada 2019 hingga awal 2020, Hima bisa memperoleh Rp650 ribu per hari, sudah termasuk bensin dan makan. Dari penghasilan itu, Hima menyisihkan sebagian untuk tabungan, membiayai sekolah anak-anaknya, serta membayar angsuran mobil.
Keberhasilannya sebagai sopir taksi online membuatnya ingin membantu orang lain. Membeli satu mobil lagi dan memberikannya kepada seorang teman di Yogyakarta yang sedang menganggur.
“Saya tahu rasanya menganggur dan sulit mendapatkan pekerjaan. Makanya, saya ingin membantu orang lain,” katanya.
Namun, cobaan kembali datang. Pandemi COVID-19 melanda dunia, dan pendapatan Hima menurun drastis. Jika sebelumnya bisa menghasilkan Rp650 ribu per hari, kini penghasilannya hanya cukup untuk makan sekali sehari.
Selama dua tahun pandemi, Hima bertahan dengan segala keterbatasan. Namun, lelaki yang memiliki ijazah sarjana hukum dari Unsoed Purwokerto tidak menyerah. Setelah pandemi berakhir, perlahan pendapatannya kembali meningkat hingga mencapai Rp9 juta per bulan. Ia pun mulai menabung untuk mewujudkan impiannya memiliki rumah sendiri.
Pada Juli 2024, Hima mendengar tentang program perumahan subsidi di Kedungwringin, Patikraja. Lokasinya strategis, hanya empat kilometer dari pusat kota Purwokerto, dengan akses jalan yang baik serta fasilitas dasar seperti listrik dan air yang sudah tersedia. Tanpa ragu, ia mendaftar sebagai penerima Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN.
“Daripada terus mengontrak, lebih baik punya rumah sendiri yang bisa jadi aset. Berkat KPR dari BTN jadi bisa memilii rumah saya sekarang ini,” ujarnya.
Agustus 2024, pengajuannya disetujui. Dengan uang muka Rp2 juta dan tenor 20 tahun, rumah impiannya mulai dibangun. Awal Februari 2025, rumah itu akhirnya bisa dihuni.

BTN dan Program Rumah untuk Rakyat
Pj Brand Manager BTN Kantor Cabang Purwokerto, Dian Wibi Septina, mengatakan bahwa sepanjang 2024, BTN telah menyalurkan KPR untuk 731 unit rumah dengan total nilai Rp145 miliar. Dari jumlah itu, 576 unit merupakan KPR subsidi dengan nilai Rp90 miliar.
Pada 2025, BTN Cabang Purwokerto ditargetkan menyalurkan KPR subsidi sebanyak 1.080 unit, sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan tiga juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kami aktif melakukan sosialisasi dan bekerja sama dengan 35 pengembang di Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap,” jelas Dian.
Menariknya, lebih dari 50 persen penerima KPR subsidi BTN berasal dari sektor informal seperti pengemudi ojek online, pedagang, petani, dan nelayan. Sisanya adalah ASN, TNI, dan Polri. Program ini memungkinkan masyarakat dengan penghasilan minimal Rp7 juta per bulan untuk memiliki rumah dengan cicilan ringan.
“Ini bukti bahwa pekerja informal seperti sopir taksi online pun bisa memiliki rumah sendiri,” tambahnya.
Anggota Komisi V DPR RI, Wastam, menekankan pentingnya kemudahan bagi pengembang dalam memperoleh izin pembangunan perumahan subsidi. Ia juga menyoroti perlunya pemberantasan pungutan liar dalam proses perizinan.
“Swasta harus diberikan kemudahan untuk membangun perumahan agar program tiga juta rumah bisa tercapai,” katanya.
Selain itu, Wastam mendorong pemerintah untuk membangun infrastruktur pendukung seperti jalan menuju perumahan, fasilitas umum, serta mempercepat akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap KPR subsidi.
“Kalau KPR dibuat lebih mudah, semakin banyak masyarakat yang bisa memiliki rumah sendiri,” lanjutnya.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa pemerintah telah memetakan wilayah-wilayah yang menjadi prioritas pembangunan perumahan rakyat. Dalam dua bulan terakhir saja, sekitar 40 ribu unit rumah telah dibangun. Dari total target satu juta unit, sebagian besar akan dibangun di perkotaan.
“Kami bekerja sama dengan perbankan untuk mempercepat penyaluran KPR subsidi. Hingga awal Januari 2025, total KPR subsidi yang tersalurkan mencapai 66.349 unit,” jelas Maruarar.
Akhir yang Manis
Kini, Hima Pujiantono bisa tersenyum bangga. Rumah kecil yang dulunya hanya angan-angan, kini menjadi kenyataan. Ia telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih mimpi.
“Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah bukti bahwa saya bisa bangkit, bahwa saya bisa kembali berdiri meski sempat terjatuh,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Hima, rumah ini adalah simbol harapan, kerja keras, dan kemenangan atas segala rintangan. Dan bagi banyak orang, kisahnya menjadi inspirasi bahwa tidak ada kegagalan yang abadi selama kita mau berjuang untuk bangkit kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....