Sulam Pita: Sentuhan Kreatif yang Berubah Menjadi Peluang Usaha

  • 22 Sep 2026 12:58 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kreativitas dapat mengubah keterampilan sederhana menjadi sebuah karya yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual. Salah satunya melalui kerajinan sulam pita yang dapat diaplikasikan pada berbagai produk, mulai dari sarung bantal, tas, bros, tempat tisu hingga hiasan dinding. Hal tersebut dibahas dalam program UMKM Bicara Pro 1 RRI Purwokerto bersama Eka Romiyati, S.T., Owner Rinonce Art n Craft, dengan tema “Sentuhan Kreatif Sulam Pita”, Senin (21/9/2026).

Eka menceritakan, ketertarikannya terhadap kerajinan tangan sudah muncul sejak dirinya masih kecil. Berbagai jenis keterampilan dicobanya hingga akhirnya ia tertarik membuat sulam pita setelah melihat kerudung yang dihiasi sulaman.

“Saya suka dari kecil suka keterampilan, craft-craft gitu. Apa pun dicoba. Terus ketika melihat ada kerudung sulam pita, tertarik bikin. Ternyata sudah beli pita, beli jarum ternyata susah. Masukkan pita ke kain itu bagaimana caranya. Terus nggak sengaja di Facebook melihat ada online kelas, terus ikutlah di situ. Akhirnya ternyata ada rahasianya, ada triknya, ada tekniknya untuk memasukkan pita ke jarum,” ujar Eka.

Sulam pita pada dasarnya memiliki teknik yang tidak jauh berbeda dengan sulaman menggunakan benang. Perbedaannya terletak pada media yang digunakan. Pita yang lebih lebar membuat proses penyulaman dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan sulaman menggunakan benang kecil.

Jenis pita yang umum digunakannya adalah pita satin dengan berbagai ukuran. Pemilihan bahan tersebut juga memberikan tampilan tersendiri pada produk karena permukaannya yang mengilap.

Dalam proses belajar, Eka tidak hanya mengandalkan pelatihan daring yang pernah diikutinya. Ia juga memanfaatkan berbagai sumber di internet, termasuk YouTube, Facebook, dan Pinterest. Dari berbagai referensi tersebut, ia kemudian mengembangkan desain sesuai dengan kemampuan dan kreativitasnya.

Produk yang pertama kali dibuat Eka adalah sarung bantal kursi karena menjadi materi dalam kelas sulam pita yang diikutinya. Seiring berjalannya waktu, ia mencoba mengembangkan sulaman tersebut ke berbagai jenis produk.

Sulam pita kemudian diaplikasikan pada tas, bros, taplak, tempat tisu hingga hiasan dinding. Bahkan, desain sulam tidak harus selalu berupa bunga. Eka juga dapat membuat motif lain berdasarkan contoh atau permintaan pelanggan.

Pada proses pembuatannya, sulam pita membutuhkan beberapa peralatan, salah satunya pemidangan. Alat tersebut berfungsi untuk menjaga kain tetap rata dan membantu proses penyulaman agar lebih mudah. Selain itu, dibutuhkan jarum sulam serta pita yang disesuaikan dengan ukuran dan jenis kain.

Untuk membuat produk seperti tas, prosesnya dimulai dengan memotong kain sesuai pola. Setelah itu, pola gambar sulaman dibuat pada kain sebelum proses penyulaman dilakukan. Setelah sulaman selesai, kain kemudian dijahit menjadi sebuah tas.

“Yang penting hatinya, hatinya tenang, mood-nya bagus. Bisa menikmati, akhirnya menyulamnya itu asyik sampai lupa waktu kadang kalau yang lagi itu,” ujar Eka.

Ia juga menekankan bahwa proses menyulam membutuhkan kondisi yang tenang agar hasilnya tetap rapi.

Selain teknik dasar, sulam pita memiliki beragam teknik tusukan yang dapat digunakan untuk menghasilkan bentuk berbeda. Beberapa di antaranya adalah ribbon stitch, tusuk pita, tusuk rantai, serta teknik lain yang dikembangkan sesuai kebutuhan motif.

Kreativitas dalam sulam pita juga terlihat dari kemampuan Eka dalam membuat produk berdasarkan permintaan pelanggan. Warna, motif, hingga bentuk dapat disesuaikan dengan keinginan pemesan. Hal ini membuat sulam pita tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk custom.

Perkembangan usaha Rinonce Art n Craft bermula ketika hasil karya Eka mulai dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Pada sekitar 2021, ia mulai mengunggah hasil karyanya melalui WhatsApp dan Facebook. Awalnya, unggahan tersebut dilakukan tanpa tujuan khusus untuk berjualan.

“Pertama saya membuat, kemudian ada teman yang melihat, kemudian tertarik, akhirnya pesan. Pesanan pertama itu dari Temanggung, teman kuliah dulu...saya mulai sekitar 2021,” ungkap Eka.

Hingga kini, Rinonce Art n Craft masih dijalankan dalam skala rumahan. Eka belum sepenuhnya fokus mengembangkan usaha karena masih memiliki aktivitas lain. Pembuatan produk biasanya dilakukan ketika terdapat pesanan atau ketika memiliki waktu luang.

Salah satu produk yang cukup banyak diminati adalah sarung bantal kursi. Produk tersebut bahkan telah dipesan hingga tiga kali oleh pelanggan berbeda. Selain sarung bantal, hiasan dinding menjadi salah satu produk baru yang sedang dikembangkan Eka.

Dalam menentukan harga, Eka mempertimbangkan beberapa aspek, seperti harga bahan, tingkat kerumitan, serta waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah produk. Sarung bantal dibanderol mulai sekitar Rp75.000,- hingga Rp100.000,- tergantung bahan dan tingkat kerumitannya. Sementara itu, tas berbahan kanvas dibanderol mulai sekitar Rp150.000,-.

Menurut Eka, tantangan dalam menjalankan usaha sulam pita salah satunya adalah menentukan harga. Produk sulam membutuhkan waktu pengerjaan yang tidak sebentar sehingga biaya tenaga dan bahan perlu diperhitungkan. Di sisi lain, produk tersebut harus bersaing dengan produk sejenis yang dibuat secara massal dan memiliki harga lebih rendah.

Meski demikian, Eka tetap berupaya menjaga kualitas produk. Setiap sulaman diperiksa kembali setelah selesai untuk memastikan tidak ada bagian yang terlepas atau belum terjahit dengan baik. Bagian belakang sulaman juga diperkuat agar lebih tahan lama.

Dalam menghadapi perubahan tren, Eka berusaha menyesuaikan bentuk dan model produknya dengan kebutuhan pasar. Ketika model tas tertentu sedang diminati, ia mencoba membuat sulam pita pada model tersebut. Begitu pula dengan ukuran bros yang dapat disesuaikan dengan tren.

Pemasaran Rinonce Art n Craft saat ini masih banyak mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Eka juga mengunggah hasil karya melalui Facebook dan WhatsApp. Menurutnya, keterbatasan tenaga membuat ia masih berhati-hati untuk memperluas pemasaran karena khawatir tidak mampu memenuhi pesanan dalam jumlah banyak.

Meski masih berskala rumahan, Eka melihat sulam pita memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Kreativitas menjadi bagian penting agar produk tetap memiliki daya tarik di tengah banyaknya jenis kerajinan yang tersedia.

“Penting karena perkembangan zaman juga, bermacam-macam ada rajut, ada yang lain. Ini juga melengkapi dari sekian banyak produk yang ada di pasaran. Harus ikut perkembangan zaman supaya tidak tertinggal dan tetap menarik untuk produk-produknya,” jelas Eka.

Bagi masyarakat yang ingin memulai sulam pita sebagai hobi maupun usaha, Eka menyebut keterampilan tersebut dapat dipelajari secara bertahap. Pemula dapat memanfaatkan berbagai tutorial yang tersedia di internet atau belajar secara langsung kepada orang yang telah menguasainya.

Menurutnya, kemampuan dalam menyulam akan berkembang seiring dengan semakin seringnya seseorang berlatih. Kesalahan dalam proses pembuatan juga tidak selalu berarti kegagalan karena beberapa bagian masih dapat diperbaiki atau disiasati.

“Pertama harus senang dulu. Kalau kita senang kan kita pengin bisa. Terus ada modal. Kalau modal sih cuma pita sama jarum. Kalau mau mencoba-coba bisa dari kerudung. Semakin lama latihan, semakin jam terbang tinggi, semakin halus hasilnya,” ujar Eka.

Eka juga menyampaikan bahwa seseorang yang ingin memulai usaha kerajinan perlu memiliki ketertarikan terlebih dahulu terhadap kegiatan yang dilakukan. Ketika seseorang menikmati prosesnya, keinginan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan akan lebih mudah tumbuh.

Kisah Eka menunjukkan bahwa sebuah usaha kreatif tidak selalu harus dimulai dengan modal besar maupun tempat usaha yang luas. Keterampilan yang berawal dari ketertarikan pribadi dapat dikembangkan secara perlahan melalui latihan, kreativitas, ketekunan, serta kemampuan membaca kebutuhan pelanggan.

Melalui sulam pita, pita dan jarum tidak hanya menjadi perlengkapan kerajinan, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai estetika dan nilai ekonomi. Dari hobi yang dikerjakan di rumah, kreativitas tersebut kemudian membuka peluang untuk menghasilkan pendapatan sekaligus mengembangkan potensi usaha. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....