Gaya Hidup Sehat dengan Konsumsi Produk Herbal

  • 23 Jul 2026 11:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kesadaran masyarakat di wilayah Banyumas dan sekitarnya untuk menerapkan pola hidup sehat secara alami menunjukkan tren peningkatan yang positif. Pemanfaatan ramuan herbal kini tidak hanya dipandang sebagai alternatif pengobatan tradisional, tetapi telah bergeser menjadi pendamping gaya hidup harian demi mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi obat-obatan kimia jangka panjang.

Pernyataan ini terungkap dalam program UMKM Bicara mengenai fenomena perkembangan komoditas kesehatan herbal yang disiarkan RRI Pro 1 Purwokerto pada Senin, 13 Juli 2026 lalu. Hadir sebagai narasumber, pemilik (owner) Griya Sehat Qobiltu Purbalingga, Hermi Prabawati, S.E., yang membahas tema "Menjalani Gaya Hidup Sehat dengan Herbal".

"Alhamdulillah sekarang sudah semakin banyak masyarakat yang paham hidup sehat, mereka mulai sadar untuk berolahraga, memperbaiki pola makan, dan meminimalisir mengkonsumsi obat-obatan medis, " ujar Hermi. Hermi menjelaskan, bagi mereka yang terlalu lama mengkonsumsi obat kimia, rata-rata mengalami keluhan pada organ dalam tubuhnya seperti ginjal contohnya.

Griya Sehat Qobiltu yang dirintisnya sejak tahun 2017 awalnya berfokus pada lini pelayanan terapi Thibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi) seperti bekam, fashdu, akupunktur, hingga elektroterapi. Dalam perjalanannya, kebutuhan pasien terhadap konsumsi herbal alami tumbuh secara beriringan, kondisi tersebut dimanfaatkan sebagai peluang usaha UMKM untuk memproduksi dan meracik produk rumahan seperti madu probiotik, cuka apel, hingga bawang hitam fermentasi (black garlic).

Untuk mengawali kebiasaan sehat, Hermi menyarankan masyarakat untuk tidak buru-buru membeli produk pabrikan yang mahal, melainkan mengoptimalkan ketersediaan empon-empon di area dapur rumah. "Untuk mengontrol kolesterol dan tensi tinggi, kita banyak merekomendasikan menggunakan bahan dapur dulu yang gampang diperoleh, misalnya rutin mengkonsumsi seduhan biji ketumbar asli atau bawang hitam," jelasnya.

Kendati berkhasiat tinggi, ia meluruskan kesalahan paradigma masyarakat yang kerap menyamakan cara kerja obat herbal dengan obat medis. Sifat obat medis atau kimia cenderung instan dalam meredakan nyeri, sementara ramuan herbal membutuhkan proses detoksifikasi dan regenerasi sel tubuh secara bertahap.

"Kesalahan masyarakat adalah menyamakan herbal dengan obat medis dan terlalu berekspektasi tinggi, padahal herbal itu proses kerjanya minimal tiga bulan baru bisa mulai dirasakan efeknya, tidak bisa langsung cespleng," kata Hermy. Hermi juga mengingatkan bahwa tidak semua bahan herbal serta-merta aman dikonsumsi tanpa kontrol.

Beberapa komoditas memiliki kontraindikasi medis tertentu yang harus diwaspadai, seperti konsumsi kunyit dan temulawak yang harus dibatasi bagi penderita batu ginjal, atau seledri yang dilarang bagi penderita tekanan darah rendah (hipotensi). Hermi juga mendorong generasi muda untuk memanfaatkan platform media sosial secara positif guna mendalami literasi kesehatan.

Kesadaran menjaga metabolisme tubuh idealnya dibentuk sejak dini melalui komitmen personal. "Semua itu harus dimulai dari niat dulu di dalam hati untuk menerapkan pola hidup sehat, kita ingin mengajak dan menyadarkan masyarakat bahwa kita bisa sehat tanpa obat kimia, yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar kita secara bertahap," pungkas Hermy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....