Masyarakat Singkong Banyumas: Pecinta Singkong dalam Wadah Kolaborasi
- 09 Jun 2026 08:39 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Singkong sendiri adalah hasil komoditas luar biasa di Banyumas, hampir di 27 kecamatan ada petani singkong. Dengan latar belakang inilah, komunitas Masyarakat Singkong Banyumas hadir untuk memberdayakan petani, produsen, dan pecinta singkong dalam satu wadah kolaborasi yang sinergis.
”Komunitas Masyarakat Singkong Banyumas sendiri memiliki anggota setidaknya 128 orang se- Banyumas raya yang terdiri dari petani singkong, produsen singkong, ada bagian pemasaran, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman maupun UIN Saifuddin Zuhri, dan pecinta singkong. Komunitas ini didirikan oleh saya yang berawal dari niat untuk mengumpulkan pecinta singkong hingga akhirnya membuat grup WhatsApp pada 1 Desember 2021,” jelas Muhammad Furqan, sebagai pendiri komunitas Masyarakat Singkong Banyumas.
Komunitas ini memiliki kegiatan tahunan, anggotanya adalah produsen atau pelaku usaha yang sibuk dengan dapurnya masing-masing. Mereka berusaha melakukan koordinasi untuk menggelar event, seperti bazaar yang diadakan dari binaan pendamping DINNAKERKOP Banyumas, DINPERINDAG Banyumas, DINPERTAN dan kolaborasi dengan mahasiswa yang ingin melakukan praktikum, belajar tentang budidaya dan distribusi singkong.
Menurut Novie Hidayah, dalam memperkenalkan komunitas ini memiliki kesulitan tersendiri. Salah satunya dalam menggaet anak muda zaman sekarang yang beranggapan singkong hanyalah makanan orang tua dan makanan jaman dulu. Bahkan anak muda zaman sekarang tidak mengerti bahwa makanan itu adalah olahan singkong dan hanya mengetahui beberapa makanan seperti sriping.
Mereka tidak tahu bahwa olahan singkong juga dapat menghasilkan makanan yang secara tampilan tidak kalah menarik, diantaranya getuk pelangi dan singkong keju, hingga sriping dengan konsep modern. Sriping dengan konsep modern seperti sriping dengan rasa – rasa, yakni balado, matcha, coklat, stroberi. Ada juga getuk blasteran atau getuk dengan taburan keju dan coklat. Selain itu, ada juga jajanan khas Jepang, Mochi yang terbuat dari olahan singkong.
”Tantangan yang dihadapi untuk produk olahan singkong pun beragam. Olahan ini cenderung memiliki harga yang rendah, ketergantungan pada cuaca yang mendukung (terutama sinar matahari untuk pengeringan, dan persaingan harga di pasar. Namun, dengan inovasi produk dan strategi pemasaran yang kreatif,
Komunitas Masyarakat Singkong Banyumas terus berupaya meningkatkan nilai tambah singkong agar lebih diminati oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda.” Jelas bu Haryati, sebagai anggota komunitas Masyarakat Singkong Banyumas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....