Pengolahan Limbah Peternakan di Banyumas Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi
- 06 Mei 2026 14:47 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Kelompok ternak sapi di Kabupaten Banyumas mulai mengoptimalkan pengolahan limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui proses fermentasi, limbah kotoran dan sisa pakan ternak kini diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi pertanian sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Ketua Kelompok Ternak Sapi Mukti Mandiri Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Anto, menjelaskan bahwa pengolahan limbah ini berawal dari permasalahan pencemaran yang sempat dikeluhkan masyarakat sekitar. Dari kondisi tersebut, kelompok ternak kemudian berinisiatif mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Pengolahan kita memakai fermentasi dengan bahan seperti aktivator, molase, dan campuran lainnya. Jadi limbah kotoran sapi dan sisa pakan tidak terbuang, tetapi diolah menjadi pupuk,” ujarnya.
Dalam satu kali produksi, kelompok ternak mampu menghasilkan sekitar 1,2 kuintal pupuk organik yang dijual dengan harga Rp1.000 per kilogram. Namun, produksi saat ini masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara luas.
Menurut Anto, pupuk hasil olahan tersebut sementara masih digunakan oleh anggota kelompok dan petani di sekitar lokasi kandang. Tingginya permintaan membuat ketersediaan pupuk sering kali tidak mencukupi.
“Permintaan sebenarnya sudah ada, bahkan dari petani sekitar. Tapi karena keterbatasan fasilitas, produksi belum bisa maksimal,” tambahnya.
Selain memberikan nilai ekonomi, pengolahan limbah ini juga berdampak positif terhadap lingkungan. Jika sebelumnya limbah ternak menimbulkan keluhan, kini kondisi lingkungan sekitar kandang menjadi lebih bersih dan tidak menimbulkan pencemaran.
Kelompok ternak juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk perguruan tinggi, dalam pengembangan teknologi pengolahan pupuk. Salah satunya melalui inovasi aktivator baru yang mampu mempercepat proses fermentasi.
“Kalau sebelumnya butuh waktu sekitar 21 hari, sekarang dengan metode baru bisa menjadi 16 hari sudah jadi pupuk dan siap digunakan,” jelas Anto.
Ke depan, kelompok ternak berharap adanya dukungan lebih lanjut, baik dari pemerintah maupun pihak lain, untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dengan begitu, pengolahan limbah peternakan tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....