Musim Kemarau, Bioflok Jadi Solusi Budidaya Ikan Hemat Air

  • 07 Sep 2026 11:23 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara – Musim kemarau berkepanjangan membuat ketersediaan air menjadi tantangan bagi masyarakat, termasuk pelaku usaha perikanan. Namun, keterbatasan air tak selalu menjadi penghalang untuk tetap membudidayakan ikan. Teknologi budidaya sistem bioflok menjadi salah satu alternatif yang dinilai cocok diterapkan saat kemarau karena mampu menghemat penggunaan air.

Ketua Kompetensi Keahlian Perikanan SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, Jauhar Fadli, mengatakan sistem bioflok tidak membutuhkan penggantian air dalam jumlah besar seperti kolam konvensional. "Bioflok merupakan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan teknologi ringan, sederhana, dan mudah diterapkan. Keunggulannya, airnya sedikit dan bisa digunakan kembali untuk siklus berikutnya," ujar Jauhar.

Menurut dia, perawatan kolam bioflok juga relatif sederhana. Selama musim kemarau, pembudidaya cukup membersihkan tong filter dan menambahkan air sekitar 10 persen dalam sebulan, atau disesuaikan dengan tingkat kekeruhan air. Bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan sumber air, air irigasi dapat digunakan setelah melalui proses penyaringan dan pengendapan. Air PDAM juga disarankan diendapkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kolam. Jauhar mengatakan, satu unit kolam bioflok berdiameter 3 meter dengan kapasitas sekitar 7 ton air membutuhkan investasi awal sekitar Rp 5 juta. Biaya tersebut mencakup kerangka besi wiremesh, pompa air 70 watt, blower 100 watt, hingga instalasi tong filter. Satu kolam berukuran tersebut dapat diisi sekitar 300 hingga 500 ekor ikan nila ukuran konsumsi. Dengan masa pemeliharaan sekitar 2,5 hingga 3 bulan, ikan dapat dipanen dengan ukuran konsumsi sekitar lima hingga enam ekor per kilogram.

"Untuk total cost, modal benih dan pakan per kolam ukuran 3 meter berkisar Rp 5 jutaan sampai panen. Keuntungannya bisa mencapai sekitar 30 persen dari omzet, atau sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per kolam dengan tingkat kematian di bawah 10 persen," jelasnya.

Untuk skala rumah tangga, Jauhar menyarankan masyarakat memiliki sedikitnya tiga kolam. Dengan demikian, siklus panen dapat dibuat berkelanjutan sehingga hasilnya dapat membantu menutup biaya operasional. Selain pengelolaan air, kolam bioflok juga perlu diberi atap dengan penutup plastik. Hal itu untuk menghindari paparan sinar matahari langsung sekaligus mencegah air hujan masuk secara berlebihan ke dalam kolam.

Fasilitas budidaya perikanan SMK Negeri 1 Bawang saat ini menjadi salah satu tempat bagi masyarakat yang ingin belajar teknik budidaya dengan sistem bioflok. Sekolah tersebut membudidayakan ikan nila dan lele. Produksinya bahkan disebut masih belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar lokal. Selain membekali siswa dengan keterampilan budidaya, SMK Negeri 1 Bawang juga mendorong lahirnya wirausahawan muda di sektor perikanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....