Lahan Tidur 12 Tahun di Banjarnegara Disulap Jadi Smart Farming

  • 11 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program Revolusi Lahan Jawa Tengah melalui Optimalisasi Lahan Integrated Smart Farming (Revola Jateng Optimis) di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Senin (10/8/2026). Program tersebut diluncurkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Banjarnegara Amalia Desiana di halaman Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ma'arif Legoklangkir. Lokasi yang menjadi proyek percontohan tersebut merupakan lahan seluas 10 hektar yang sebelumnya menjadi lahan tidur selama lebih dari 12 tahun. "Revolusi lahan ini dimanfaatkan bagaimana lahan tidur itu 'bangun'.

Di situ ada perkebunan kopi, cabai, padi, kemudian ada perikanan dan peternakan yang semuanya menyatu," kata Ahmad Luthfi. Menurut dia, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi salah satu upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem. Lokasi program berada di wilayah desil empat dan menyasar masyarakat kurang mampu. Pengembangannya dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, perbankan, sektor swasta, hingga petani milenial dari sekolah kejuruan. "Ini menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Dengan cara seperti ini, mereka akan bisa naik kelas untuk tidak lagi berada dalam kategori miskin ekstrem," ujar Luthfi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defrancisco Dasilva Tavares mengatakan, Revola Jateng Optimis mengintegrasikan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan dengan teknologi Internet of Things (IoT) serta kecerdasan buatan. Lahan 10 hektar tersebut dibagi menjadi sejumlah zona. Area pertama ditanami kopi dan alpukat, sedangkan area kedua digunakan untuk peternakan ayam petelur, kambing, dan domba serta pengolahan pupuk organik. Area ketiga ditanami cabai dan pisang dengan dukungan irigasi tetes serta sprinkler otomatis berbasis sensor kelembaban. Sementara area keempat dimanfaatkan untuk budidaya padi, jagung, dan perikanan.

Pengelolaan dilakukan dengan konsep ekonomi sirkular. Limbah tanaman dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik. Kawasan tersebut diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi sekitar 625 kepala keluarga (KK) warga kurang mampu di Desa Susukan. "Jika seluruh siklus 10 hektar ini sudah berjalan optimal, potensi pendapatan kawasan diperkirakan mencapai kurang lebih Rp 1,95 miliar per bulan," kata Defrancisco. Menurut dia, sistem terintegrasi memungkinkan masyarakat memperoleh pendapatan secara berkala dari berbagai komoditas, mulai dari telur dan pakan ternak hingga cabai serta hasil pertanian lainnya.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menyambut baik penunjukan Banjarnegara sebagai lokasi percontohan pertama Revola Jateng Optimis. Ia berharap program tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus dikembangkan menjadi kawasan agrowisata terpadu di Wanayasa. "Saya berharap program ini nantinya tidak hanya diduplikasi di wilayah Jawa Tengah saja namun bisa diterapkan di seluruh Indonesia," ujar Amalia. Peluncuran program ditandai dengan penempelan telapak tangan Gubernur dan Bupati pada layar LED. Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama dengan dunia pendidikan dan BUMDes serta penyerahan bantuan secara simbolis. Ahmad Luthfi kemudian meninjau langsung kawasan integrated smart farming yang menjadi proyek percontohan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....