Investasi Jadi Bekal Masa Tua, Waspadai Tawaran Bodong
- 08 Jul 2026 11:52 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Investasi dinilai menjadi salah satu langkah yang perlu dipersiapkan sejak usia produktif sebagai bekal menghadapi masa tua. Pendapat tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Dr. Ade Banani, M.M.S.
Ade Banani menjelaskan bahwa investasi merupakan upaya menunda konsumsi saat ini untuk memperoleh manfaat di masa mendatang. Masyarakat perlu menyisihkan sebagian pendapatan sejak usia produktif agar memiliki kesiapan finansial ketika memasuki masa pensiun.
Menurutnya, masyarakat dapat mengalokasikan sebagian pendapatan untuk investasi, misalnya dengan menyisihkan sekitar 10 hingga 20 persen dari penghasilan. Dana tersebut dapat ditempatkan pada berbagai instrumen investasi, seperti tabungan, deposito, reksa dana, emas, obligasi, hingga saham dengan tetap memahami risiko yang ada.
Ia menambahkan, investasi yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat di masa depan, salah satunya berupa passive income. Dengan demikian, masa tua tidak menjadi beban, melainkan dapat dinikmati dari hasil perencanaan keuangan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Apabila seseorang memiliki penghasilan, sisihkan. Sisihkan 20 atau 10 persen, minimal 10 persen itu sudah harus disisihkan untuk masa tua. Jadi masa tua itu jangan jadi beban, tetapi menikmati apa yang ditanam sekarang," ujarnya.
Selain memberikan manfaat bagi diri sendiri, investasi juga berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Dana yang ditempatkan di perbankan, obligasi, maupun perusahaan akan kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan pembangunan.
Namun, di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, pemahaman mengenai risiko dan legalitas produk investasi juga menjadi hal yang penting. Ade Banani mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan dalam memilih investasi. Ia menilai, masyarakat perlu menerapkan prinsip kehati-hatian sebelum menempatkan dana pada suatu produk investasi.
"Kalau ada yang menawarkan imbal hasil di luar kewajaran, masyarakat harus waspada. Tanyakan bentuk usahanya apa. Kalau memang bisa menghasilkan keuntungan sebesar itu, mengapa harus mencari dana dari orang lain," ujarnya.
Oleh karena itu, Ade Banani mendorong penguatan edukasi literasi keuangan sejak dini, khususnya melalui lingkungan pendidikan. Menurutnya, pemahaman mengenai pengelolaan uang dan investasi perlu dikenalkan sejak sekolah agar masyarakat memiliki kebiasaan finansial yang sehat dan mampu mengambil keputusan investasi secara bijak. (Artika).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....