Bijak Kelola Investasi di Masa Tua

  • 30 Jun 2026 08:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, ingatkan masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam merencanakan keuangan jangka panjang, khususnya untuk persiapan masa pensiun. Langkah ini dinilai penting guna menjamin kemandirian finansial sekaligus menghindari maraknya jebakan investasi bodong yang merugikan masyarakat.

Pernyataan ini mengemuka dalam talkshow radio Purwokerto Menyapa dengan topik "Mengelola Investasi Pensiun dengan Bijak" yang disiarkan Pro 1 FM RRI pada Kami, 25 Juni 2026. Kepala Bagian PEPK dan LMST OJK Purwokerto, Winti Hapsari, menjelaskan bahwa secara nasional indeks literasi keuangan masyarakat berada di angka 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

Adanya kesenjangan (gap) tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa sepenuhnya memahami manfaat dan resiko di dalamnya. "Ini adalah salah satu tugas kami OJK untuk edukasi, untuk memberi pengetahuan terhadap masyarakat bahwa dalam pengelolaan keuangan itu ada perencanaannya, untuk masa kini ada jangka pendeknya, ada jangka menengahnya, dan jangka panjangnya," tutur Winti

Winti menambahkan untuk jangka panjang adalah masa pensiun kita, ia menekankan, masyarakat harus memegang teguh prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, sebelum memutuskan untuk menempatkan dana pada instrumen investasi tertentu. Legal berarti memastikan lembaga keuangan tersebut memiliki izin resmi dari otoritas berwenang seperti OJK atau Bappebti, sedangkan Logis berarti tingkat imbal hasil (return) yang ditawarkan masuk akal dan tidak mencurigakan.

"Jangan tergiur keuntungan atau tawaran tinggi, perhatikan 2 L tadi, legal untuk legalitas usahanya, dan logis untuk suku bunga atau imbal hasil yang ditawarkan," tegas Winti. Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Prof. Ade Banani, M.M.S, memaparkan bahwa investasi untuk masa tua sejatinya harus menjadi prioritas utama sejak usia produktif, bukan sekadar menyisihkan sisa konsumsi bulanan.

Berinvestasi sejak dini akan membantu mengamankan nilai aset dari gerusan inflasi di masa mendatang ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki pendapatan tetap (fix income). Profesor Adi menyarankan rumus pengalokasikan dana ideal secara disiplin, yakni menyisihkan minimal 10 hingga 20 persen dari total pendapatan khusus untuk pos investasi jangka panjang.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyimpan dana masa tua berupa uang tunai di rumah karena memiliki risiko fisik yang tinggi, melainkan memanfaatkan diversifikasi portofolio pada instrumen yang aman. "Alangkah baiknya dana yang dimiliki minimal disimpan di bank, jangan menyimpan telur dalam satu keranjang (diversifikasi), itu penuh resiko, coba membagi-bagi; bisa di bank, reksa dana, obligasi, atau membeli lahan produktif," ujar Prof. Ade.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....