Investasi sejak Muda Jadi Bekal Masa Tua, Pengamat Kenalkan Rumus 50-20-20-10
- 25 Jun 2026 14:09 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Investasi sejak usia muda dinilai penting untuk mempersiapkan kondisi keuangan di masa tua. Selain membantu memenuhi kebutuhan saat pensiun, investasi juga dapat menjadi sumber pendapatan pasif ketika seseorang tidak lagi berada pada usia produktif.
Pendapat tersebut disampaikan oleh Pengamat ekonomi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ade Banani. Menurutnya, masyarakat perlu mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk investasi sedini mungkin.
Ia menilai, investasi tidak harus dimulai dengan modal besar. Yang terpenting adalah disiplin dan konsisten menyisihkan pendapatan secara rutin.
“Penghasilan yang kita dapat itu 50 persen untuk kebutuhan, 20 persen untuk investasi, kemudian 20 persennya lagi bisa untuk saving, jaga-jaga, lalu 10 persen sisanya untuk dana darurat,” kata Prof. Ade kepada RRI, Kamis (25/6/2026).
Menurut Ade, instrumen investasi yang mudah dijangkau antara lain tabungan, deposito, dan reksa dana. Selain itu, emas dapat menjadi pilihan untuk menjaga nilai uang dari inflasi. Sementara saham dan obligasi dapat dipilih oleh masyarakat yang telah memahami risiko investasi.
“Investasi itu bukan soal besar kecilnya dana, tetapi disiplin. Kecil tetapi rutin akan memberikan hasil dalam jangka panjang,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat berinvestasi, Prof. Ade mengingatkan agar tetap waspada terhadap investasi bodong. Menurutnya, banyak korban terjebak karena tergiur janji keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati terhadap tawaran investasi yang menjanjikan imbal hasil di luar kewajaran. Menurutnya, calon investor perlu mempertanyakan sumber keuntungan dan model usaha yang dijalankan sebelum menanamkan dana.
“Kalau ada yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi, harus waspada. Pahami dulu bentuk usahanya dan dari mana keuntungan itu berasal.Lebih baik keuntungan wajar tetapi aman daripada kehilangan seluruh dana karena investasi bodong,” ucap Prof. Ade.
Untuk mencegah terulangnya kasus investasi bodong, Prof. Ade mendorong penguatan literasi keuangan sejak bangku sekolah. Menurutnya, pemahaman mengenai menabung, investasi, serta pengelolaan keuangan perlu diberikan sejak dini agar masyarakat lebih kritis dalam menilai berbagai tawaran investasi.
“Literasi keuangan memang harus diperkuat sejak sekolah. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat tidak mudah tergiur imbal hasil yang tidak masuk akal,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....