Produktif di Usia Muda, Siapa Takut?
- 21 Apr 2025 14:56 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas : Fase perkuliahan adalah kesempatan emas bagi seorang remaja untuk dapat tumbuh dan berkembang. Jika menilik dari usianya, fase perkuliahan adalah masa di mana remaja bertransisi menuju fase dewasa yang semakin membutuhkan kematangan berpikir dan berperilaku.
Dunia perkuliahan yang dipenuhi oleh hal-hal baru tentu menggugah banyak individu untuk dapat bereksplorasi dan mencari jati diri. Ada banyak hal yang dapat dilakukan selain mengikuti perkuliahan di kelas, salah satunya ialah berbisnis.
Bagi sebagian besar orang, menjalankan bisnis di tengah-tengah fase menuntut ilmu bukanlah suatu hal yang mudah. Kita sebagai individu, harus dapat menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan pelaku bisnis. Keduanya memiliki beban dan membutuhkan tanggung jawab yang berbeda.
Namun, di tangan Pujianto dan Handy, kedua hal tersebut bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dijalani. Kepada pemirsa RRI, keduanya diundang untuk dapat berbagi cerita dan pengalamannya menjalani bisnis di sela-sela kesibukan kuliah.
Pujianto adalah pemilik dari brand Kaos Ngapak khas Purwokerto yang sudah berdiri sejak tahun 2011. “Waktu saya kuliah dulu di tahun 2011, saya berhasil menjuarai program wirausaha yang diselenggarakan oleh kampus dan mendapatkan dana sebesar 10 juta rupiah”, ucap Pujianto ketika ditanya awal mula brand kaosnya dibuat.
Ia merasa bahwa istilah ngapak adalah kata yang tepat untuk dijadikan sebagai branding kaosnya. Sebab, istilah ngapak itu sendiri sudah sangat familiar di masyarakat Banyumas. Ia ingin agar kaosnya ini dapat menonjolkan ciri khas lokal daerahnya sama seperti Bali dan Jogja.
Sementara itu, Handy Pryatama Satria adalah pemilik dari Raja Belinks Souvenir yang sudah ia geluti sejak masih duduk di bangku SMA. “Saya memulai usaha ini pada saat tahun 2020, di era Covid-19. Pada saat itu saya membutuhkan uang, hingga akhirnya membuka jasa pembuatan jersey dan ternyata banyak sekali yang memesan”, jelas Handy saat memulai sepak terjangnya di dunia percetakan. Selama perjalanan bisnisnya berlangsung, ia pun mulai menerima jasa percetakan lain seperti tumblr, mug, kaos, dan PDH.
Baik Pujianto dan Handy, keduanya sama-sama memiliki passion di dunia bisnis. Bedanya, Pujianto memutuskan untuk lebih berorientasi pada bisnisnya dan rela untuk menjalani masa kuliah lebih lama agar ia dapat fokus pada usaha yang telah ia bangun. Sedangkan Handy masih berusaha untuk memprioritaskan kuliahnya dan tetap menjalani bisnisnya, tetapi dengan bantuan orang lain.
“Tantangan yang saya alami itu karena saya visinya sudah mantap memutuskan ke bisnis, maka saya harus membuat skala prioritas. Jadinya saya harus rela mengorbankan kuliah saya sampai 13 semester lamanya. Namun, keputusan itu tentunya tidak mudah dan tetap perlu perhitungan yang matang”, ungkap Pujianto kepada pemirsa RRI.
“Tantangan lain pun dirasakan oleh Handy saat memutuskan untuk tetap berorientasi pada kuliah, saya harus mampu melakukan manajemen waktu yang baik. Apalagi ketika banyak tugas dan pesanan di saat yang bersamaan, ibaratnya ini mau pilih nilai atau uang?”, jelas Handy sambil tertawa kecil.
Meskipun Pujianto dan Handy mengalami lika-liku yang cukup rumit, keduanya mendapatkan pengalaman yang berharga. “Namanya bisnis pasti ada untung rugi dan itu wajar. Asal pantang menyerah saja. Pahami apa visi kita ke depan, kalau sudah paham, kita nantinya bisa lebih prepare. Intinya itu pahami, yakini, lalu ikhtiarkan”, ungkap Pujianto.
Handy pun tak kalah memberi motivasi yang inspiratif bagi para pemirsa RRI, “kita harus berani mencoba, karena dengan begitu kita jadi tahu dan belajar. Dengan kita belajar mengambil risiko, kita jadi bisa mengevaluasi”. (Nur)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....