URUP: Uriping Maestro Lengger Narsih, Merekam Lima Dekade Lengger Banyumas

  • 06 Okt 2026 20:13 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Selama lebih dari lima dekade, Biyung Narsih menjalani hidup bersama Lengger Banyumasan. Mengenal Lengger sejak usia tujuh tahun, Narsih menjadikan kesenian tersebut bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga bagian dari kehidupan, penghidupan, dan pengabdiannya.

Perjalanan tersebut menjadi titik berangkat URUP: Uriping Maestro Lengger Narsih, film dokumenter yang merekam kehidupan Narsih, aktivitas berkesenian, serta upayanya menjaga keberlangsungan Lengger melalui Sanggar Ngudi Luwesing Salira. Film ini diproduksi sepanjang 2025–2026 di Desa Pegalongan, Kabupaten Banyumas, melalui proses riset, observasi, produksi, hingga pascaproduksi.

Mengapa URUP Dibuat?

Director of Photography Film URUP Muhammad Rifqi Akmal Lutfi menjelaskan, gagasan URUP berangkat dari kegelisahan terhadap minimnya dokumentasi audiovisual mengenai Lengger Wadon Banyumasan, khususnya perjalanan dan kontribusi Narsih sebagai salah satu pelaku seni yang masih aktif. Di sisi lain, Lengger menghadapi tantangan berupa lambatnya regenerasi, berkurangnya minat masyarakat, stigma sosial, serta keterbatasan dukungan terhadap keberlangsungan kesenian.

"Karena itu, URUP hadir bukan hanya untuk merekam perjalanan seorang maestro, tetapi juga sebagai arsip audio visual dan media edukasi yang dapat membantu memperkenalkan serta mendukung pelestarian Lengger Banyumasan kepada generasi berikutnya," ujar Akmal.

Tentang Sebuah Nyala

Akmal menambahkan, judul URUP merujuk pada nyala atau cahaya dalam bahasa Jawa—sebuah nyala yang terus dijaga agar tidak padam. Makna tersebut menjadi metafora bagi perjalanan Narsih bersama Lengger. Selama puluhan tahun, Narsih menjaga Lengger melalui gerak, pengetahuan, dan pengabdiannya. Di sisi lain, Lengger menjadi bagian yang menghidupi perjalanan Narsih.

"Narsih menjaga Lengger tetap hidup, sementara Lengger menjadi bagian dari kehidupan Narsih," tutur Akmal.

Merekam Kehidupan di Balik Pertunjukan

Lebih lanjut, Akmal menyampaikan, URUP menggunakan pendekatan dokumenter yang dekat dengan kehidupan subjek. Kamera tidak hanya merekam pertunjukan, tetapi juga ruang, aktivitas, interaksi, persiapan, suara gamelan, dan keseharian di lingkungan sanggar.

“URUP berangkat dari keinginan untuk melihat Lengger melalui kehidupan orang yang telah menjalaninya selama puluhan tahun. Kami ingin merekam bukan hanya ketika Lengger berada di atas panggung, tetapi juga kehidupan yang membuat kesenian itu terus hidup.” ucap Akmal, Director of Photography Film URUP.

Melalui perjalanan Narsih, URUP menjadi catatan audiovisual tentang Lengger Banyumasan dan manusia yang terus menjalaninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....