P2B UIN Saizu Bidik Hilirisasi dan Investasi Stevia
- 05 Agt 2026 16:13 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto terus mengembangkan inovasi bisnis berbasis pertanian melalui budidaya tanaman stevia. Melalui Pusat Pengembangan Bisnis (P2B), kampus kini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menyiapkan hilirisasi produk dan memperluas investasi untuk menjadikan stevia sebagai komoditas unggulan.
Kepala P2B UIN Saizu Purwokerto, Dr. Rahmini Hadi, mengatakan pengembangan stevia telah dirintis selama lebih dari satu tahun bersama kelompok petani mitra. Berbagai evaluasi dilakukan hingga akhirnya seluruh lahan budidaya dikonsolidasikan dalam satu kawasan agar pengelolaannya lebih efektif dan produktif.
"Selama lebih dari satu tahun kami mencari konsep terbaik bersama petani mitra. Sekarang seluruh lahan sudah dikumpulkan dalam satu lokasi sehingga pengelolaannya jauh lebih baik," ujarnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada panen perdana, P2B UIN Saizu berhasil memanen sekitar 175 kilogram daun stevia basah dari lahan seluas kurang lebih setengah hektare. Menurut Rahmini, capaian tersebut cukup menggembirakan mengingat sebagian besar tanaman belum memasuki usia produksi optimal.
Ia memperkirakan, ketika seluruh tanaman telah dewasa, lahan seluas setengah hektare mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram daun stevia basah setiap kali panen. Apabila area budidaya diperluas menjadi satu hektare, produksi diproyeksikan meningkat hingga 600–700 kilogram per panen.
Selain meningkatkan kapasitas budidaya, P2B UIN Saizu juga mulai menyiapkan proses hilirisasi agar stevia memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Saat ini, pihaknya tengah mengajukan pengadaan mesin pengolah daun stevia menjadi bubuk yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman.
Menurut Rahmini, proses hilirisasi memerlukan standar produksi yang baik, mulai dari pengeringan hingga pengolahan, agar menghasilkan produk yang higienis dan memenuhi standar industri.
"Kami semua masih berproses. Harapannya panen berikutnya bisa lebih baik, lebih higienis, dan memenuhi standar sebagai bahan baku stevia," katanya.
Ia menjelaskan, pengolahan menjadi stevia bubuk akan meningkatkan nilai ekonomi produk secara signifikan. Harga jual stevia bubuk diperkirakan mencapai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi kampus sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani mitra.
Untuk mendukung peningkatan produksi, P2B menargetkan perluasan lahan budidaya hingga minimal dua hektare. Target tersebut dinilai realistis karena UIN Saizu memiliki potensi lahan sekitar 11 hektare yang dapat dikembangkan secara bertahap.
"Kalau minimal dua hektare sudah sangat bagus. Dengan luasan itu produksi akan jauh lebih optimal dan manfaat ekonominya juga semakin besar," ujar Rahmini.
Prospek bisnis stevia yang dinilai menjanjikan juga mulai menarik perhatian investor. Rahmini mengungkapkan sedikitnya dua investor telah menyatakan minat untuk berinvestasi dalam pengembangan budidaya stevia di lingkungan UIN Saizu.
Meski demikian, ia menegaskan setiap investasi yang masuk harus sejalan dengan visi kampus untuk menjadikan stevia sebagai identitas kawasan bisnis UIN Saizu. Investor yang memanfaatkan lahan kampus nantinya diwajibkan mengembangkan budidaya stevia sehingga kawasan tersebut dapat dikenal sebagai sentra produksi pemanis alami.
"Kami ingin kawasan itu benar-benar dikenal sebagai pusat stevia. Jadi ketika orang mencari stevia, mereka akan ingat UIN Saizu. Itulah identitas yang sedang kami bangun sebagai produk unggulan kampus," ujarnya.
Pengembangan stevia menjadi salah satu program strategis P2B UIN Saizu dalam membangun kemandirian ekonomi kampus melalui sektor produktif. Program ini tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian bernilai ekonomi, tetapi juga membangun ekosistem yang melibatkan petani lokal, akademisi, dunia usaha, hingga investor dalam satu rantai nilai yang berkelanjutan.
Seiring penguatan budidaya, hilirisasi produk, dan perluasan jejaring investasi, UIN Saizu optimistis stevia akan berkembang menjadi ikon baru kampus sekaligus model pengembangan bisnis perguruan tinggi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....