Grebeg Suran Sarat Nilai Syukur dan Gotong Royong, Bukan Ritual Mistis

  • 20 Jul 2026 08:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Tradisi Grebeg Suran masih kerap dipandang sebagai ritual yang bernuansa mistis oleh sebagian masyarakat. Padahal, tradisi turun-temurun tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil alam sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan warga.

Hal itu disampaikan Kakang Banyumas 2025, Moh. Alfaruq Abdulloh, saat menjadi narasumber dialog SPADA Budaya dan Pariwisata, Minggu (19/07/26). Alfaruq menjelaskan, Grebeg Suran lahir dari kebiasaan masyarakat lereng Gunung Slamet yang menggantungkan hidup pada hasil alam.

Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang diperoleh sekaligus doa agar kehidupan masyarakat tetap diberkahi. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang memiliki anggapan keliru terhadap Grebeg Suran karena mengaitkannya dengan praktik mistis.

"Sebenarnya doa yang dipanjatkan tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Grebeg Suran adalah budaya yang dikemas dengan nilai religius dan rasa syukur," ujarnya.

Selain mengandung nilai religius, Grebeg Suran juga mengajarkan pentingnya gotong royong. Persiapan acara dilakukan bersama-sama oleh warga, mulai dari menyiapkan gunungan hasil bumi, memasak hidangan, hingga menyelenggarakan kirab budaya.

Tradisi tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian khas Banyumas, seperti tari Lengger, ebeg, dan calung, sehingga menjadi ruang bagi pelaku seni untuk ikut melestarikan budaya daerah. Melalui pelaksanaan Grebeg Suran, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian terhadap alam, dan semangat berbagi kepada sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....