Konsep Estetika Jepang: Filosofi Wabi Sabi dan Kintsugi
- 10 Jun 2026 14:18 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Hidup adalah perjalanan manusia yang penuh dinamika. Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika tersebut, seringkali kita sebagai manusia merasa kewalahan ketika harus dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menempatkan diri kita dalam suatu ketidaknyamanan.
Ketidaknyamanan tersebut tentunya bersumber dari berbagai hal dan faktor yang melatarbelakangi. Namun, mari kita fokus sejenak pada ketidaknyamanan yang disebabkan oleh ekspektasi diri sendiri.
Dalam berkehidupan sosial, manusia seringkali menetapkan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain sebagai tolok ukur bahkan standar dalam hidupnya sendiri. Jika hal tersebut dipandang melalui kacamata yang positif dan bertujuan sebagai motivasi, maka sekiranya hal itu tidak masalah.
Lain lagi jika taraf kehidupan orang lain, kita paksakan untuk dapat kita terapkan dalam kehidupan kita pribadi, tanpa mempertimbangkan aspek kemampuan dari diri kita sendiri. Hal tersebut tentunya dapat memicu ketidakbahagiaan karena usaha yang kita lakukan tidak benar-benar datang dari motivasi yang baik dan energi yang positif.
Baik secara sadar atau tidak, manusia kerap memberikan ekspektasi yang tinggi dan berlaku terlalu keras terhadap dirinya sendiri sampai lupa bahwa setiap manusia memiliki keunikan dan ketidaksempurnaannya masing-masing. Hal itu akhirnya berpotensi menimbulkan pola pikir yang stres dan ketidakpuasan dalam hidup.
Dalam menghadapi hal ini, terdapat sebuah filosofi jepang yang mengajarkan manusia untuk dapat menerima ketidaksempurnaan diri dan menghargai kesederhaan hidup. Filosofi tersebut dikenal dengan nama filosofi Wabi Sabi dan Kintsugi.
Filosofi Wabi Sabi adalah konsep estetika Jepang yang menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan, kefanaan, dan kesederhanaan. Konsep ini berakar dari ajaran Zen Buddhisme dan Taoisme yang menekankan keseimbangan alam dan penerimaan terhadap perubahan. Wabi Sabi mendorong kita untuk menerima dan menghargai hal-hal yang tidak sempurna, sementara, dan sederhana dalam kehidupan.
"Filosofi ini mengajarkan bagaimana kita dapat merangkul keunikan diri pada saat kita salah dan ‘retak’. Richard Powell seorang pengarang buku berjudul Wabi Sabi Simple, mengatakan bahwa konsep tersebut mengajarkan tiga realitas sederhana: bahwa dalam hidup ada hal-hal yang tidak dapat bertahan, tidak selesai, dan tidak ada yang sempurna," ungkap Analisa Widyaningrum, S.Psi, M.Psi, seorang psikolog klinis.
"Tidak berbeda jauh dari filosofi Wabi Sabi, filosofi Kintsugi pun sama-sama menekankan keindahan dan nilai dalam ketidaksempurnaan. Konsep ini berasal dari seni memperbaiki keramik yang pecah dengan menambal retakan dan pecahan dengan lem yang dicampur dengan serbuk emas atau perak, menghasilkan sebuah karya yang lebih indah dan bernilai daripada sebelumnya," lanjutnya.
Hal ini membuat kita sadar bahwa mangkuk yang rusak tidak selamanya harus berakhir di tempat sampah, jika kita dapat menerima ketidaksempurnaannya dan berusaha untuk dapat memolesnya, justru dia memiliki nilai seni unik yang tinggi. Kintsugi mengajarkan untuk dapat merangkul ketidaksempurnaan, menerima kegagalan sebagai bagian dari perjalanan hidup, dan menemukan kekuatan dalam kerentanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....