Mengenal Mbah Ganong, Pendiri Grup Ebeg yang 39 Tahun Melestarikan Ebeg Banyumas
- 21 Apr 2026 16:08 WIB
- Purwokerto
Poin Utama
- Ebeg
- Mbah Ganong
- Budaya Banyumas
- Pendiri grup Ebeg
- pelestarian budaya
RRI.CO.ID, Banyumas — Di tengah perkembangan zaman, masih ada sosok yang setia menjaga warisan budaya daerah. Ia adalah Mbah Ganong, seniman asal Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, yang telah mengabdikan diri dalam kesenian ebeg selama 39 tahun.
Mbah Ganong mendirikan grup ebeg pada tahun 1987 saat usianya masih 12 tahun. Ketertarikannya pada ebeg muncul karena menurutnya kesenian tersebut merupakan seni langka yang perlu dijaga keberadaannya. Ia pun terdorong untuk ikut melestarikan budaya peninggalan leluhur.
“Saya tertarik karena ebeg itu seni yang langka. Saya ingin melestarikan dan nguri-uri budaya,” ujarnya.
Keinginan mendirikan grup ebeg bermula saat dirinya pergi jauh ke daerah Panusupan untuk menonton kesenian ebeg. Namun, sesampainya di sana, grup ebeg yang ingin ia saksikan ternyata sudah bubar. Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk mendirikan grup ebeg sendiri bersama teman-temannya.
Grup ebeg yang didirikannya awalnya bernama Wahyu Liringgalih, diambil dari nama gerumbul di Desa Kedungwuluh Kidul, yaitu Watgalih. Nama Watgalih sendiri berasal dari makam leluhur yang ada di wilayah tersebut. Kini, nama grup tersebut berubah menjadi Tunggul Wuluh dan memiliki sekitar 25 anggota.

Selama memimpin grup, Mbah Ganong mengaku banyak pengalaman berkesan, terutama saat membina para anggota. Menurutnya, setiap anggota memiliki karakter berbeda, ada yang patuh dan ada juga yang sulit diarahkan.
Meski begitu, perjalanan melestarikan ebeg tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah pandangan sebagian masyarakat yang menganggap ebeg bertentangan dengan agama. Menanggapi hal itu, Mbah Ganong menegaskan bahwa ebeg merupakan seni warisan leluhur yang patut dihargai.
Untuk menjaga grup tetap aktif, ia selalu konsisten menjalin hubungan baik dengan para anggota. Ia rutin berkumpul dan menjaga silaturahmi agar kebersamaan tetap terjalin.
Menurutnya, minat generasi muda terhadap ebeg justru semakin meningkat. Hal itu karena ebeg kini telah menjadi salah satu ikon budaya Banyumas. Banyak anak muda datang sendiri dan ingin belajar tanpa harus dipaksa.
Ada rasa bangga tersendiri bagi Mbah Ganong karena masih bisa terus melestarikan budaya daerah. Baginya, setiap desa perlu memiliki kesenian agar tidak terasa hampa dan tetap memiliki identitas budaya.
Dalam setahun terakhir, grupnya cukup sering tampil di berbagai acara seperti hajatan, sunatan, dan nazar warga. Dalam satu bulan, mereka bahkan bisa tampil tiga hingga empat kali.
Ia juga melihat adanya perubahan pada pertunjukan ebeg dari masa ke masa. Perubahan itu terlihat dari seni tari, iringan karawitan, hingga busana pemain yang kini lebih modern agar tetap menarik dan tidak membosankan.
Mbah Ganong berharap masyarakat dapat lebih terbuka dalam memahami kesenian ebeg dan tidak mudah memberi penilaian negatif. Ia juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kesenian ebeg Banyumasan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Monggo kita bareng-bareng menjaga kesenian ebeg Banyumasan, apalagi ini kesenian langka. Siapa lagi kalau bukan kita-kita yang melestarikan,” pesannya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk menyaksikan penampilan grupnya pada 26 April 2026 di Lapangan Manunggal Jaya, Desa Notog, Kecamatan Patikraja, bersama beberapa grup ebeg lainnya.( Wina Funika)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....