Kesenian Ebeg di Banyumas Masih Banyak Diminati Warga
- 12 Apr 2026 15:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Guna melestarikan budaya daerah, pertunjukan seni kuda lumping atau ebeg digelar di Lapangan Grendeng, Purwokerto Utara, Minggu (12/4/2026). Sejak pukul 11.00 WIB, para seniman telah bersiap menampilkan atraksi terbaiknya di hadapan masyarakat.
Sebanyak empat grup ebeg turut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut, yakni Turonggo Jati Pabuaran, Wahyu Turonggo Jati, Trenggini Sukmo Jati, dan Aji Wilonggo Sari. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kesenian tradisional Banyumas masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Pawang kuda lumping dari Grup Turonggo Jati Pabuaran, Fajar Abu Galunggung, menjelaskan bahwa sebelum pertunjukan dimulai, terdapat ritual khusus yang harus dilakukan. Ritual tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan serta kelancaran selama pementasan berlangsung.
“Ada ritual sendiri untuk leluhur, kita berdoa agar diparingi keselamatan, kesehatan, dan kelancaran saat pentas,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain doa, para pemain juga menjalani laku spiritual seperti puasa sebagai bagian dari persiapan. “Minimal puasa tiga hari tiga malam sebelum pentas, supaya lebih siap secara lahir dan batin,” jelasnya.
Fajar juga menjelaskan fenomena “jantur” atau kesurupan yang kerap menjadi daya tarik dalam pertunjukan ebeg. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemain tidak sepenuhnya sadar terhadap apa yang dilakukan selama pertunjukan.
“Kalau jantur itu seperti tidak sadar, nanti setelah selesai baru terasa badan sakit. Tapi saat berlangsung biasanya tidak terasa,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kesenian ebeg merupakan warisan turun-temurun yang harus terus dijaga. “Kesenian ini dari keluarga, dari kakek sampai sekarang. Harapan saya, ebeg harus tetap dilestarikan,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang penonton, Sunarto, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan ebeg. Ia mengaku tertarik dengan keunikan atraksi yang ditampilkan, terutama fenomena jantur.
“Saya senang kesenian Banyumasan seperti ebeg. Apalagi lihat jantur, itu menarik karena terlihat aneh tapi nyata,” ungkapnya.
Menurut Sunarto, meskipun terkesan tidak biasa, atraksi tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. “Kadang ada yang makan daun, bahkan benda keras. Itu yang bikin saya penasaran dan tertarik menonton,” katanya.
Ia berharap generasi muda tetap menjaga dan melestarikan budaya daerah di tengah arus modernisasi. “Saya senang kalau anak muda masih mau nguri-uri budaya Banyumas, seperti ebeg dan kesenian lainnya,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....