Energi Terbarukan, Tebar Cahaya di Taman Wisata Laut Labuhan

  • 20 Okt 2024 06:30 WIB
  •  Sampang

KBRN, Bangkalan: Cuaca panas menyengat begitu terasa, semilir angin berhembus kencang dari laut lepas yang tak bertepi, anak-anak kecil bermain riang gembira di ayunan beralaskan pasir putih membuat suasana tak sepi, sejumlah muda-mudi sedang asyik berfoto-foto selfie, diiringi celoteh burung di ranting jenggala mangrove dari ujung kanan dan kiri.

Belasan lembar panel solar cell terpasang di atas atap bangunan meeting room yang terbuat dari kayu tertata rapi, tenda-tenda pengunjung untuk bermalam sudah berjejer dibagian tepi, suara adzan Asyar terdengar berkumandang dari pengeras suara Masjid sekitar menandakan waktu sudah mulai menjelang sore, suasana ini menyambut kedatangan saya di lokasi Taman Wisata Laut Labuhan, Dusun Masaran, Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh Bangkalan. Jum'at (18/10/2024) sore.

Sore itu, berkesempatan bertemu langsung dengan Muhammad Syahril pengelola Taman Wisata Laut Labuhan yang mengusung konsep pariwisata berbasis lingkungan fokus pada kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, ucapan salam dan jabat tangan saya awali perbincangan dengan Muhammad Syahril, iapun membalas ucapan salam Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Apakabar mas? Tanya Syahril dengan sambutan senyum.

Beliau mengajak saya untuk berjalan-jalan di Taman Wisata Laut, ia mengawali menunjuk ke atas bangunan meeting room, "Itu mas di atas atap ada 15 panel solar cell, untuk pembangkit listrik tenaga surya, yang dimanfaatkan untuk penerangan di malam hari," kata Syahril.

Solar cell yang terpasang di atas atap bangunan meeting roong Taman Wisata Laut Labuhan Jum’at (18/10/2024) (Foto: RRI/Miftah)

Pria berkacamata itu kembali mengajak ke ruangan khusus penyimpanan baterai yang dihasilkan dari solar cell, yang dialirkan ke sejumlah peralatan elektronik dan lampu penerangan di malam hari.

"Ini mas tempat baterai menyimpan setrum yang dihasilkan dari soler cell yang di atas atap itu, dan juga dari kincir angin yang dipasang disebelah barat pinggir laut," ucap Syahril.

Menurut Syahril yang dipercayai menjadi Ketua Pokdarwis Payung Kuning menjelaskan, fasilitas pembangkit listrik tenaga hybrid dengan panel surya dan kincir angin dipasang mulai tahun 2021 yang merupakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) berkelanjutan oleh perusahan yang bergerak di bidang minyak dan gas.

"Sejak adanya listrik tenaga hybrid saya sebagai pengelola jika di malam hari ada pengunjung yang bermalam dan mengadakan acara tidak kebingungan lagi, karena sebelumnya PLN jika malam hari sering padam sehingga sangat menganggu terhadap kegiatan pengunjung, selain itu sekarang sangat jauh menghemat untuk pengeluaran biaya tagihan PLN," ucapnya dengan nada senang.

Syahril melanjutkan, setrum yang tersimpan di dalam baterai yang dihasilkan dari panel solar cell jika banyak pengunjung yang bermalam biasanya habis sekitar pukul 03.00 Wib, dan secara otomatis beralih ke PLN.

"Jadi berkolaborasi, jika setrum yang dihasilkan tenaga surya habis ganti ke PLN, dan setiap pengunjung yang ber malam di sini dikenai tarif Rp. 10.000 per orang," kata pria mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Negeri Jiran Malaysia itu.

Kincir angin yang terpasang di sebalah barat Taman Wisata Laut Labuhan Jum’at (18/10/2024) (Foto: RRI/Miftah)

Matahari senja terlihat mulai meninggalkan bayangan menandakan mulai menjelang petang, tidak terasa perjalanan dan perbincangan bersama pengelola Taman Wisata Laut Labuhan begitu asyik dan menyenangkan, suara Adzan Magrib berkumandang dari pengeras suara Masjid sekitar, Syahril menuju tempat saklar untuk menghidupkan lampu penerangan.

"Itu lampu-lampu sudah menyala semua mas, disepanjang jembatan kayu hutan mangrove itu ada lampu hiasnya, di tenda-tenda pengunjung juga sudah menyala terang," ucap Syahril sembari mengakhiri dan bergegas ambil wudhu untuk sholat Magrib di Musholla samping tempat meeting room.

Dikonfirmasi terpisah melalui jaringan telepon selulernya, Ahmad Hanif Installer Panel Surya Taman Wisata Laut Labuhan mengungkapkan, pembangkit listrik tenaga hybrid kekuatan dayanya fluktuatif tergantung dari kondisi matahari, dan untuk sistem perawatan dari panel suryanya sebisa mungin bersih dari daun dan debu, tiga bulan sekali dibersihkan dan tidak sampai terhalang sinar matahari, untuk baterai butuh pengecekan berkala, kebersihan terjaga agar tidak panas dan kincir angin butuh angin yang kencang.

“Yang saya ketahui pemasangan energi baru terbarukan itu sesuai desain awal untuk memenuhi penerangan kebutuhan di tempat wisata, selain untuk menekan biaya operasional tagihan PLN, juga untuk wisata berkelanjutan,” kata Hanif dalam perbincangan melalui jaringan telepon selulernya yang mengaku saat ini sedang betugas di Jakarta.

Energi surya menurutnya, bermanfaat sebagai salah satu alternatif pembangkit listrik. Untuk mengubah energi surya menjadi energi listrik dibutuhkan panel surya sebagai perantara yang menyerap sinar matahari dan dikonversi menjadi energi listrik.

“Kemudian listrik tersebut mengalir ke inverter yang berperan mengubah DC menjadi arus AC yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan berbagai peralatan yang memanfaatkan listrik sebagai sumber energy,” ujarnya.

Muhammad Syahril baru keluar dari ruangan penyimpanan baterai Surya-Bayu. Jum’at (18/10/2024) (Foto: RRI/Miftah)

Dikesempatan lain, Manager Commrel & CID Regional Indonesia Timur Rahmat Drajat mengungkapkan, PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan secara berkelanjutan dengan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) mengidentifikasi kebutuhan yang sesuai dengan kondisi kearifan lokal.

“Sejak tahun 2021 sudah dilengkapi dengan fasilitas pembangkit listrik tenaga hybrid dengan panel surya 370wpx15pcs: Berdaya total 5,55 KwP (kilowatt-peak), Pengembangan Energi Alternatif Solar Cell Bayu Ekowisata untuk memenuhi kebutuhan listrik dilokasi wisata serta memperkenalkan kepada masyarakat energi baru terbarukan yang bermanfaat untuk masyarakat,” kata Rahmat Drajat.

Selain itu kata Rahmat, perusahaannya juga mendukung upaya keberlanjutan kelompok dengan melibatkan pemerintah setempat dan lembaga lainnya untuk terlibat bersama-sama mengembangkan program.

“Terbaru kami juga membawa Kementrian ESDM dan Kemenparekraf untuk studi banding terkait pengelolaan Desa Wisata di Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh Bangkalan yang memanfaatkan energi terbarukan dalam kebutuhan listrik,” ujarnya.

Suasana di malam hari Taman Wisata Laut Labuhan, terang menderang. Sabtu (19/10/2024) (Foto: Syahril For RRI.co.id)

Terpisah, Manajer ULP Bangkalan Mohammad Ilham menyatakan sangat mendukung penggunaan energi baru terbarukan sesuai Visi, Misi PLN.

“Secara prinsip sangat mendukung penggunaan energi baru terbarukan untuk menuju net zero emission, untuk penggunaan PLTS di Taman Wisata Laut Labuhan itu kami sangat mendukung sepenuhnya,” ujarnya.

Pakar Energi Terbarukan Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

Sementara itu, pakar energi terbarukan dari Universitas Trunojoyo Madura M. Latif mengungkapkan, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Taman Wisata Laut Labuhan merupakan langkah yang sangat positif dan visioner.

“Pemanfaatan teknologi ramah ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang peduli terhadap lingkungan. Taman Wisata Laut Labuhan dapat diposisikan sebagai destinasi wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata pria yang juga Dosen Teknik Mekatronika Fakultas Teknik UTM itu.

Pria yang juga pernah melakukan riset dan pemasangan PLTS di Pulau Gili Raja Sumenep itu menjelaskan, intensitas cahaya matahari di Madura sangat potensial untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Sebagai wilayah yang terletak di Indonesia bagian timur, Madura memiliki durasi penyinaran matahari yang cukup panjang sepanjang tahun.

“Sehingga menjadikan Madura sebagai lokasi yang sangat ideal untuk memanfaatkan energi surya,” ucapnya.

Pemanfaatan teknologi bersih dijelaskan Latif, dapat mendukung pengembangan berbagai fasilitas wisata seperti pencahayaan, pengoperasian peralatan, dan fasilitas pengisian daya perangkat elektronik. Selain itu, Taman Wisata Laut Labuhan dapat menjadi tempat edukasi tentang energi terbarukan bagi pengunjung.

“Namun meski demikian, dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan PLTS agar dapat beroperasi secara optimal dan memiliki umur pakai yang panjang,” ungkap pria kelahiran Sumenep itu.

Kegiatan para pengunjug Taman Wisata Laut Labuhan di malam hari (Foto: Syahril For RRI.co.id)

Pakar Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

Ditemui kesempatan lain, Pakar Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Norita Vibriyanto mengatakan, penggunaan energi terbarukan dalam industri pariwisata dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan ekonomi.

“Dampak positif yang dimaksud mengurangi emisi karbon, penggunaan energi terbarukan seperti dengan matahari ataupun angin biasanya menghasilkan sedikit emisi karbondioksida dibandingkan dengan menggunakan sumber energi fosil sehingga pariwisata yang menggunakan energi terbarukan dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan tempat wisata itu sudah berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” kata perempuan yang juga Dosen Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis UTM itu.

Dampak positif lainnya menurutnya, peningkatan daya tarik wisata destinasi yang menerapkan energi terbarukan dapat menarik wisatawan, menjadi nilai jual yang menarik yang mengutamakan keberlanjutan sehingga dapat meningkatkan penerimaan dalam sektor wisata.

“Yang tak kalah penting juga penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang meskipun investasi awal untuk instalasi energi terbarukan mungkin tinggi akan tetapi biaya pemeliharaan yang lebih rendah dan menghemat energi dapat menghasilkan pengembalian investasi yang baik,” ungkapnya.

Dampak lainnya yang dapat dirasakan yaitu memberikan kesempatan dalam pengembangan ekonomi lokal yaitu investasi dalam energi terbarukan sering kali menciptakan lapangan kerja baru dan memiliki nilai ekonomi misalnya proyek tenaga surya atau angin membutuhkan tenaga kerja lokal untuk instalasi dan pemeliharaan

“Pemanfaatan energi terbarukan ini juga memberikan dampak pada peningkatan kesadaran lingkungan, penggunaan energi terbarukan dalam pariwisata memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang pentingnya keberlanjutan, banyak fasilitas wisata yang dapat ditunjukkan untuk mengedukasi kepada wisatawan tentang manfaat energi terbarukan dan bagaimana cara mereka dapat berkontribusi pada perlindungan lingkungan,” pungkas Norita Vibriyanto dengan mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....