Tim Dosen UMP Berdayakan Kelompok IRT lewat Intervensi Teknologi

  • 26 Sep 2024 14:24 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Tim dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan sasaran Kelompok Industri Rumah Tangga (IRT) Criping Singkong di Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Banyumas.

Program bertajuk “Pengembangan Usaha Kelompok IRT Criping Singkong melalui Intervensi Teknologi Tepat Guna (TTG) Berbasis Digital Economy” ini berhasil membawa sejumlah perubahan positif, mulai dari inovasi produk hingga peningkatan omzet.

Ketua tim pengabdian, Ratna Kartika Wati, S.H., M.Hum., Ph.D, mengungkapkan bahwa program ini bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi kelompok IRT Criping Singkong, termasuk masalah kualitas produk, kendala pemasaran, dan keterbatasan peralatan produksi. Program ini berjalan dengan dua fokus utama, yaitu transfer teknologi tepat guna dan pendampingan pemasaran digital.

"Melalui pelatihan dan pengadaan alat seperti slicer, cooper, pengaduk bumbu, alat pengemasan, dan kompor bertekanan tinggi, kualitas serta kuantitas criping singkong yang diproduksi oleh kelompok ini semakin meningkat secara signifikan," kata Ratna, Kamis (26/9/2024).

,Ketua Kelompok IRT Criping Singkong Fajar Apriana menyatakan bahwa sebelum program ini berjalan, produksi criping singkong di Desa Suro masih sangat manual, sehingga kualitas produk kurang konsisten dan kemasan produk pun masih sederhana.

"Kami sering merasa lelah dan tidak bisa memenuhi semua permintaan konsumen karena keterbatasan alat. Namun, setelah intervensi teknologi dan pelatihan yang diberikan, produksi kami meningkat, dan kini kami bisa membuat criping dengan kualitas lebih baik," ujarnya.

Selain inovasi teknologi produksi, tim pengabdian juga memberikan pelatihan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar. Pelatihan ini mencakup pembuatan konten promosi untuk media sosial serta pemanfaatan platform e-commerce. Hal ini diharapkan dapat membantu kelompok IRT menjangkau konsumen lebih luas, tak hanya di Banyumas, tapi hingga ke luar daerah.

"Setelah pelatihan pemasaran digital, kami mulai aktif menjual produk secara online, dan sekarang kami tidak hanya mengandalkan penjualan di pasar tradisional atau menitipkan produk di warung-warung," ujar Fajar.

Selain peningkatan kualitas produk, program ini juga menghasilkan berbagai inovasi, seperti varian rasa baru criping singkong, olahan kulit singkong, hingga pemanfaatan minyak bekas untuk pembuatan lilin aroma terapi. Diversifikasi produk ini diharapkan dapat menambah nilai jual dan meningkatkan daya saing produk di pasar yang lebih luas.

Menurutnya, dengan adanya dukungan teknologi dan pemasaran digital, omzet kelompok IRT Criping Singkong di Desa Suro mengalami peningkatan signifikan. Program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan anggota kelompok, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar yang sebelumnya terpaksa gulung tikar akibat kurangnya daya saing produk.

Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari Eqwar Saputra, ST., M.T, dan Alfalisyado, S.E.Sy., M.E., berharap agar program ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak jangka panjang bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Suro melalui produk olahan criping singkong yang semakin inovatif dan kompetitif di pasar global.

Program ini didukung oleh Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Hasil dari program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat diadopsi di berbagai daerah lain di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....