Pekan Wirawana "Pusako Itu Bernamo Imbo Ulu Ayek"
- 10 Nov 2024 17:06 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta:Dalam rangka memajukan kebudayaan berbasis hutan adat, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat berkolaborasi dengan Konsorsium Siginjai, Perkumpulan Eksotika Desa Lestari serta Kelompok Masyarakat Hukum Adat Lekuk Lima Puluh Tumbi Lempur mengadakan Pekan Wirawana. Siaran bersama Ditjen Kebudayaan RI di 92.8 FM PRO4 Jakarta kali ini membahas seputar Pekan Wirawana di Jambi bersama Dr. Julianus Limbeng, M.Si.Pamong Budaya Ahli Madya, Ketua Tim Kerja Wanabudaya.
"130 hutan adat yang sudah ditetapkan, kita melihat sentuhan untuk budaya belum terlalu dilakukan. Kita pilih Jambi, karena salah satu provinsi yang paling banyak ditetapkan hutan adatnya," kata Julianus, Jakarta, (6/10/2024).
Acara dengan tema "Pusako Itu Bernamo Imbo Ulu Ayek," menampilkan berbagai Objek Pemajuan Kebudayaan dari 29 Masyarakat Hutan Adat yang tersebar di empat kabupaten di Provinsi Jambi, yaitu Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Bungo dan Kabupaten Sarolangun.
Pekan Wirawana menjadi panggung meriah bagi masyarakat adat untuk berbagi pengetahuan dan merayakan kekayaan budaya yang terjalin dengan hutan. Dalam acara ini, generasi muda—dikenal sebagai wirawana—berperan penting sebagai pelopor pelestarian warisan budaya yang terancam punah.
"Setiap titik direkrut tiga orang anak muda sebagai local champion yang akan memetakan , melindungi, mengembankan , dan memanfaatkan kebudayaan hutan adat yang mereka miliki," tuturnya.
Pelaksaan yang sudah dipersiapkan selama empat bulan ini bagian dari program wanabudaya yang bertujuan sebagai ruang publikasi dan edukasi untuk memperkenalkan fungsi hutan adat serta hasil dari produk non-kayu berlangsung dari 8-10 November 2024.
"Selama empat bulan mereka sudah berkomunikasi dengan tokoh adat menggali kekayaan budaya baik tradisi lisan, permainan tradisional, dan lainnya," katanya.
Dalam acara ini, generasi muda dikenal sebagai wirawana—berperan penting sebagai pelopor pelestarian warisan budaya yang terancam punah. Mereka, sebagai perwakilan desa dari 29 hutan adat di Jambi, telah dipersiapkan untuk menggerakkan masyarakat dengan pengetahuan yang mereka miliki.
"Meski tantangan datang dari dalam dan luar, peran wirawana sangat krusial dalam menghidupkan kembali pengetahuan dan kearifan lokal, menjaga kelestarian hutan sebagai identitas dan sumber kehidupan. Mari bersatu dalam menggali, merayakan, dan mendokumentasikan kekayaan budaya demi masa depan yang harmonis, di mana budaya dan lingkungan saling mendukung," tutup Julianus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....