PIAUD Perlu Rekonstruksi Keilmuan Hadapi Kompleksitas Tantangan Global

  • 03 Okt 2026 14:29 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto-Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) perlu melakukan rekonstruksi keilmuan untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan anak di tengah perubahan sosial dan perkembangan global. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., dalam Eurasia International Public Lecture Series gelaran ke-5 yang dilaksanakan di UIN Saizu Purwokerto, Sabtu 3 Oktober 20206. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Reconstructing the Disciplinary Framework of the Islamic Early Childhood Education (PIAUD) Study Program.”

Prof. Fauzi menjelaskan, kerangka akademik PIAUD saat ini masih cenderung monodisipliner. Sejumlah bidang keilmuan, seperti studi Islam dan psikologi anak, masih ditempatkan sebagai domain yang terpisah. Kondisi tersebut dinilai perlu dikembangkan karena anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang menghadapi berbagai perubahan, mulai dari keberagaman budaya dan agama, migrasi, perkembangan teknologi, hingga tuntutan kompetensi abad ke-21.

" Rekonstruksi ini bukan sekadar menambahkan mata kuliah baru, tetapi merupakan restrukturisasi epistemologis terhadap kerangka akademik PIAUD.” ujarnya.

Menurut Prof. Fauzi, rekonstruksi keilmuan perlu mengubah orientasi PIAUD dari pendekatan yang normatif dan tekstual menuju pendekatan yang kontekstual dan integratif. Demikian pula orientasinya perlu lebih terbuka terhadap perkembangan global dengan tetap memperhatikan konteks lokal.

Prof. Fauzi menegaskan, meskipun dilakukan rekonstruksi, nilai-nilai Islam tetap menjadi fondasi utama dalam pengembangan keilmuan PIAUD. Prinsip rahmatan lil ‘alamin, nilai kasih sayang, penghormatan terhadap keberagaman, integritas moral, dan keadilan menjadi bagian dari nilai yang dapat dikontekstualisasikan dalam pendidikan anak usia dini.

Rekonstruksi tersebut kemudian diarahkan pada pembentukan kurikulum PIAUD transdisipliner, yang mengintegrasikan nilai-nilai universal Islam dengan pendidikan anak usia dini, perspektif sosiokultural dan multikultural, serta isu global dan konteks Asia. Model tersebut diharapkan dapat menghasilkan pendidik PIAUD yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga responsif terhadap keberagaman dan memiliki orientasi global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....