Ruang Diskusi Aman Dimulai dari Kritik Konstruktif
- 18 Sep 2026 14:05 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Penyampaian kritik dinilai perlu memperhatikan substansi sekaligus cara berkomunikasi agar pesan yang disampaikan dapat diterima dan tidak berkembang menjadi konflik pribadi. Kritik yang didukung data dan fakta tetap perlu disampaikan dengan cara yang tepat agar dapat dipahami oleh pihak yang menerima.
Hal itu disampaikan Mizar Hilman P dari HMI Hukum Unsoed dalam dialog Academic Forum Pro 2 RRI Purwokerto, Kamis (17/9/26). Ia mengatakan, terdapat dua hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam melihat sebuah kritik, yakni matter atau substansi dan manner atau cara penyampaiannya.
Menurutnya, kritik yang konstruktif harus memiliki substansi yang jelas dan didukung data, fakta, maupun analisis yang memadai. Kritik juga perlu diarahkan pada persoalan yang dibahas, bukan menyerang pribadi orang yang menjadi sasaran kritik.
“Orang yang menyampaikan kritik, membawakan argumen kritik mereka, dengan orang yang menyerang secara pribadi saja, di dalam isu tersebut, itu sudah terlihat jelas,” katanya.
Ia menjelaskan, cara penyampaian juga tetap penting karena kritik yang substansinya kuat belum tentu dapat diterima apabila disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Tujuan akhir dari kritik, menurutnya, bukan sekadar menyampaikan ketidaksetujuan, tetapi agar masukan tersebut dapat diterima dan diimplementasikan.
Mizar menyarankan agar penyampaian kritik diawali dengan apresiasi, kemudian dilanjutkan dengan data pendukung serta alasan yang mendasari kritik. Cara tersebut dinilai dapat membuat argumen lebih mudah diterima dibandingkan penyampaian yang langsung menyalahkan pihak lain.
Selain kemampuan menyampaikan kritik, Mizar menilai penciptaan ruang diskusi yang inklusif juga diperlukan agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak takut menyampaikan pendapat. Penanggung jawab forum perlu memastikan setiap peserta memiliki kesempatan untuk berbicara tanpa dibeda-bedakan.
Menurutnya, tindakan yang merendahkan atau menyerang pribadi dalam forum diskusi juga perlu ditegur. Hal tersebut penting agar peserta, terutama mereka yang baru belajar menyampaikan pendapat, tetap merasa aman untuk berpartisipasi.
Mizar menambahkan, peserta diskusi juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan pendapat dengan baik. Sebelum menyampaikan kritik, seseorang perlu memahami substansi persoalan, melakukan riset, serta memastikan data dan fakta yang digunakan memiliki dasar yang kuat.
Ia juga mendorong anak muda untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, simpati, dan empati. Ketiga hal tersebut dinilai dapat membantu seseorang memahami orang lain sekaligus menyampaikan pendapat secara lebih efektif.
“Perbedaan pendapat itu hal yang wajar. Otaknya beda-beda,” kata Mizar.
Menurutnya, perbedaan pendapat tidak perlu berujung pada konflik pribadi. Berbagai pandangan dapat dimusyawarahkan untuk menemukan pilihan yang dianggap paling baik bagi kepentingan bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....