Memanfaatkan Digitalisasi untuk Memajukan Pariwisata Banyumas

  • 15 Sep 2026 13:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Perkembangan media digital membuka peluang bagi pariwisata Banyumas untuk dikenal lebih luas. Tidak hanya oleh masyarakat lokal, potensi wisata, budaya, dan kuliner Banyumas juga dapat diperkenalkan kepada wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara melalui konten digital yang kreatif dan informatif.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran program Selamat Pagi Teman Pro 2 SPADA dengan mengusung tema Digital Pariwisata Banyumas pada Senin, 14 September 2026. Dalam siaran tersebut, Ketua Harian Paguyuban Kakang Mbekayu Banyumas (Pakemas), Kang Zidan Arief Maulana, bersama Kakang Banyumas 2025, Kang Rido Andika Satria, membahas potensi pariwisata Banyumas serta pentingnya pemanfaatan digital dalam memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.

Banyumas memiliki beragam pilihan wisata, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga religi. Baturraden menjadi salah satu destinasi yang paling dikenal dan sering kali menjadi pilihan pertama ketika orang-orang membicarakan destinasi wisata Banyumas.

Selain Baturraden, terdapat juga berbagai destinasi alam seperti Curug Junggala dan sejumlah curug di sekitarnya. Banyumas juga memiliki potensi wisata religi, desa wisata dengan tradisi masyarakatnya, serta berbagai kuliner khas seperti getuk goreng Sokaraja, soto Sokaraja, dan mendoan.

Menurut Zidan, keberagaman tersebut menjadi salah satu keunggulan Banyumas. Wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman menikmati alam, tetapi juga dapat mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

“Banyumas itu komplit. Ada alam, ada budaya, ada religi, ada Serayu juga,” ujar Zidan dalam siaran tersebut.

Keragaman potensi ini kemudian dapat diperkuat dengan pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi. Konten mengenai destinasi wisata dapat membuat masyarakat mengetahui pilihan wisata yang mungkin sebelumnya belum mereka kenal.

Di tengah kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi melalui media sosial, konten berbentuk video dinilai memiliki daya Tarik tersendiri. Foto destinasi saja dinilai belum cukup untuk menggambarkan pengalaman yang bisa diperoleh oleh wisatawan.

Video di TikTok maupun Instagram dapat menampilkan suasana destinasi secara lebih nyata, termasuk aktivitas yang dapat dilakukan wisatawan. Konten semacam ini juga dapat mengikuti tren yang sedang berkembang tanpa meninggalkan karakter dari destinasi yang dipromosikan.

Tidak hanya wisata alam, kuliner tradisional juga dapat dikemas menjadi konten digital yang menarik. Misalnya, proses pembuatan getuk goreng dapat ditampilkan mulai dari pengupasan singkong, pencucian, perebusan, hingga menjadi produk yang siap disajikan.

Bagi Zidan, pendekatan tersebut dapat membuat masyarakat, khususnya anak muda, lebih tertarik untuk mengenal produk dan potensi lokal.

“Anak muda itu paling dekat dengan media sosial. Jadi menurut saya, media sosial itu menjadi ujung tombak untuk mempromosikan pariwisata,” katanya.

Anak muda pun tidak harus menunggu menjadi pengelola destinasi untuk ikut berkontribusi. Mereka dapat memulainya dengan membuat konten tentang temoat wisata, kuliner, maupun kebudayaan yang ada di lingkungan sekitar.

Konten pariwisata yang viral tentu dapat mendatangkan perhatian. Namun, popularitas di media sosial seharusnya tidak berhenti pada peningkatan jumlah penonton atau pengunjung, ketika sebuah destinasi semakin dikenal, masyarakat di sekitarnya juga diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi. Peningkatan kunjungan dapat membuka peluang bagi homestay, usaha kuliner, penjualan bahan makanan, hingga berbagai usaha lokal lainnya.

Karena itu, pengelola wisata perlu mempersiapkan destinasi sebelum maupun setelah promosi digital dilakukan. Infrastruktur, akses jalan, tempat parker, kebersihan, kenyamanan, pelayanan, serta keramahan masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan.

“Jangan sampai kita hanya mengejar viralnya saja, tetapi setelah viral ternyata tidak siap,” jelas Zidan.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Menurutnya, penerapan Sapta Pesona juga menjadi bagian penting agar perkembangan pariwisata tidak hanya berlangsung sesaat. Destinasi yang ramai karena konten digital perlu mempertahankan kualitas pelayanan dan lingkungan agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik.

Selain konten promosi, digitalisasi juga dapat dimanfaatkan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan wisatawan. Informasi mengenai lokasi, harga tiket, aktivitas yang tersedia, akses menuju lokasi, hingga aturan kunjungan perlu disampaikan secara jelas.

Informasi tersebut dapat disediakan melalui berbagai platform, seperti website, Instagram, maupun aplikasi. Namun, bagi anak muda, media sosial seperti Instagram dan TikTok dinilai lebih praktis karena informasi dapat ditemukan dengan lebih sederhana.

Pengelola juga dapat memanfaatkan fitur Instagram seperti highlights untuk menyimpan informasi penting mengenai destinasi, mulai dari panduan akses hingga rekomendasi aktivitas. Dengan informasi yang mudah ditemukan, wisatawan dapat mempersiapkan kunjungan dengan lebih baik sekaligus mengurangi kebingungan ketika berada di lokasi.

Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas destinasi setelah mendapatkan perhatian publik. Kebersihan, keramahan, pelayanan, dan pengelolaan harus tetap dipertahankan meskipun jumlah wisatawa meningkat.

Di tingkat desa, persoalan lain yang dapat muncul adalah keterbatasan sumber daya dan anggaran untuk mengelola media sosial. Padahal, beberapa desa telah memiliki masyarakat yang mampu membuat konten dan mengelola media digital.

Karena itu, pengembangan pariwisata digital membutuhkan dukungan dan kolaborasi antara masyarakat, pengelola wisata, pemerintah, serta berbagai pihak terkait. Langkah sederhana dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Anak muda dapat memperkenalkan kuliner, budaya, maupun destinasi yang ada di daerahnya melalui media sosial. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan wisata.

Dengan demikian, digitalisasi bukan sekadar cara untuk membuat pariwisata Banyumas menjadi viral. Lebih dari itu, media digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi lokal, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta membangun pariwisata Banyumas yang dikenal luas dan mampu berkembang secara berkelanjutan. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....