Maknai Kemerdekaan dengan Membebaskan Diri dari Belenggu Keakuan
- 18 Agt 2026 16:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk memaknai kembali arti kemerdekaan dalam kehidupan. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga membebaskan diri dari berbagai belenggu dalam diri manusia. Hal itu disampaikan KH. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A., dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Senin (17/8/2026).
Mengangkat tema “Merdekaku dari Belenggu Keakuan dan Kehidupan”, KH. Mintaraga menjelaskan, kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
“Kemerdekaan yang asasi sebenarnya ketika manusia berada dalam fitrahnya, yaitu Islam dan tauhid. Artinya ketika manusia sadar diri bahwa dia makhluk, namanya makhluk itu wajarnya hanya mengabdi, berbakti, tunduk, patuh hanya kepada Sang Penciptanya,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat mensyukuri kemerdekaan yang telah dirasakan bangsa Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan merupakan nikmat berharga yang perlu diisi dengan kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia.
“Kita hari ini bersyukur luar biasa karena ada pepatah Arab: Emanu minalah, tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari sebuah kemerdekaan,” ungkapnya.
Menurut KH. Mintaraga, tantangan kemerdekaan saat ini bukan lagi hanya penjajahan secara fisik, tetapi juga belenggu dalam diri seperti ujub, narsis, sombong, dan merasa lebih baik dari orang lain.
“Merdeka dalam kehidupan itu artinya merdeka dari kegelapan kehidupan. Pertama, kegelapan pikiran. Kedua, kegelapan hati. Syukur itu sebenarnya terbukanya hati dan pikiran,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kemerdekaan juga tidak semestinya diukur dari pencapaian duniawi. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia bebas menggunakan kehidupannya untuk beribadah kepada Allah SWT tanpa terbelenggu oleh makhluk maupun urusan dunia.
“Jangan jadikan duniawi sebagai ukuran kemerdekaan. Jadikan kemerdekaan itu ketika kita bebas melakukan sesuatu dalam rangka ibadah kepada Allah, tidak terkungkung oleh penjajahan makhluk,” tegasnya. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....