D’LAS Serang menuju Desa Wisata Ramah Muslim Berstandar Internasional
- 14 Agt 2026 10:19 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID,Purbalingga– Desa Wisata Lembah Asri Serang atau D’LAS Serang, Kabupaten Purbalingga, terus bertransformasi menjadi destinasi wisata ramah muslim yang inklusif dan berstandar internasional.
Transformasi tersebut semakin diperkuat setelah D’LAS Serang masuk dalam 25 besar Desa Wisata Ramah Muslim yang menjadi pilot project Kementerian Pariwisata dan Bank Indonesia pada 2026.
Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi IT D’LAS Serang Purbalingga, Novanda Alim Setya Nugraha, dalam dialog Kita Indonesia Pro1 RRI Purwokerto, Kamis (13/8/2026).
Novanda mengatakan, konsep wisata ramah muslim tidak berarti destinasi tersebut hanya diperuntukkan bagi wisatawan muslim. Sebaliknya, konsep tersebut menekankan pelayanan yang inklusif dengan menyediakan fasilitas dan layanan yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim.
“Desa wisata ramah muslim itu benar-benar punya basic pelayanan, mulai dari sertifikasi halal makanan dan minuman, homestay syariah, musala yang bersih, perlengkapan salat, hingga azan yang dikumandangkan di objek wisata,” kata Novanda.
Menurutnya, D’LAS Serang menjadi salah satu dari 25 desa wisata ramah muslim di Indonesia yang tersebar di lima provinsi. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang masuk dalam pengembangan tersebut, bersama Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, dan Aceh.
Di Jawa Tengah, terdapat lima desa wisata yang menjadi perwakilan, yakni Desa Wisata Kemuning di Kabupaten Karanganyar, Lerep di Kabupaten Semarang, Kandri di Kota Semarang, Pekunden di Banyumas, serta D’LAS Serang di Purbalingga.
Novanda menjelaskan, D’LAS Serang saat ini memiliki 91 tenan makanan yang tengah menjalani proses sertifikasi halal. Selain itu, terdapat 26 homestay yang dikembangkan dengan konsep syariah.
Penguatan pelayanan juga dilakukan melalui peningkatan kemampuan bahasa asing bagi pelaku usaha dan pekerja wisata. Program Kampung Inggris Purbalingga di Serang telah berjalan selama dua tahun dan memberikan pembelajaran bahasa Inggris secara gratis bagi pedagang maupun karyawan.
“Penguasaan bahasa menjadi faktor penting karena kita sedang menuju ke arah standar internasional,” ujarnya.
Transformasi D’LAS Serang juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Menurut Novanda, destinasi wisata tersebut berawal dari penyertaan modal desa sekitar Rp9 juta dan kini berkembang hingga memiliki aset sekitar Rp50 miliar.
Masyarakat setempat turut dilibatkan dalam pengelolaan wisata. Pedagang lokal dapat membuka tenan dengan biaya listrik sekitar Rp40 ribu per bulan, sementara tenaga kerja di kawasan wisata diprioritaskan bagi warga yang memiliki KTP Desa Serang.
Pengembangan destinasi juga terus dilakukan dengan menghadirkan sekitar 30 wahana, di antaranya Dino Land, D’LAS Zoo, dan Rainbow Lake. Tingginya kunjungan wisatawan semakin terlihat ketika D’LAS Serang menjadi lokasi Festival Gunung Slamet yang masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara. Bahkan, homestay di sekitar kawasan wisata disebut telah penuh satu bulan sebelum pelaksanaan kegiatan.
Dalam proses transformasi tersebut, akademisi turut berperan melalui strategi kolaborasi pentahelix. Tim dari Telkom University Purwokerto mendampingi digitalisasi D’LAS Serang, mulai dari penguatan media sosial, website, hingga pengembangan sistem informasi.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan adalah SIMANIS atau Sistem Informasi Manajemen D’LAS Serang Purbalingga, yang ditargetkan diluncurkan pada Oktober 2026. Aplikasi tersebut akan memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan tiket maupun keuntungan di sejumlah merchant.
Novanda menambahkan, konsep ramah muslim di D’LAS juga tidak hanya berkaitan dengan fasilitas ibadah dan makanan halal, tetapi mencakup keamanan, kebersihan, keramahan, pelayanan, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
“Pariwisata ramah muslim tidak lepas dari Sapta Pesona. Penguat pertama itu aman, kemudian bersih dan menjaga lingkungan. Jadi tidak hanya business orientation, tapi ada nature orientation,” katanya.
D’LAS Serang juga mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta mengembangkan program yang mendorong wisatawan ikut menjaga lingkungan melalui penanaman pohon.
Dengan berbagai penguatan tersebut, D’LAS Serang menargetkan transformasi sebagai desa wisata ramah muslim yang mampu bersaing di tingkat internasional, sekaligus menjadi bagian dari pengembangan 1.000 desa wisata di Jawa Tengah.
“D’LAS Serang Purbalingga sebagai pelopor Desa Wisata Ramah Muslim di Indonesia menuju transformasi kelas internasional, tentunya tidak hanya sekadar sertifikasi, tetapi bagaimana pelayanan prima dikuatkan dan inklusivitas untuk menerima wisatawan baik muslim maupun nonmuslim tetap jaya,” ujar Novanda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....