Berdzikir dalam Kehidupan Modern: Bentuk Benteng Ketenangan Jiwa
- 12 Agt 2026 12:11 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID Purwokerto - Berdzikir sangatlah penting sebagai benteng ketenangan jiwa di tengah kesibukan duniawi yang sering kali memecah fokus manusia. Hal ini disampaikan narasumber Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwoketo yang bertemakan "Allah Memerintahkan untuk Berdzikir Sebanyak-banyaknya", pada Selasa (11/8/2026).
Dzikir merupakan salah satu amalan utama dalam Islam yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Secara sederhana, dzikir berarti mengingat Allah. Namun, makna dzikir tidak hanya terbatas pada ucapan lisan seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, atau istigfar. Mencakup kesadaran hati, doa, membaca Al-Qur’an, menjalankan ibadah, hingga melakukan perbuatan baik dengan niat karena Allah.
Dasar hukum dzikir sendiri sudah tercantum di QS. Al-Ahzab ayat 41-42, yang menjelaskan bahwa perintah untuk berdzikir sebanyak-banyaknya adalah anjuran bagi orang beriman agar senantiasa menjaga koneksi hati dengan Sang Pencipta dalam setiap keadaan, baik saat diam, berbicara, maupun bekerja. Sebagaimana yang di sampaikan narasumber:
"Dzikir dengan hati, artinya kita menyadari bahwa segala yang terjadi pada diri kita, yang terjadi pada semua makhluk Allah adalah at\as kehendak Allah. Kebahagiaan, kenikmatan, kesusahan, dan kesedihan semuanya adalah dari Allah." ujarnya.
Ustaz Daliman mengklasifikasikan dzikir ke dalam beberapa kategori utama untuk memudahkan pendengar memahami praktiknya. Dzikir hati menjadi fondasi pertama, yaitu menyadari bahwa segala peristiwa, baik kebahagiaan maupun kesusahan, merupakan kehendak Allah. Selain itu, dzikir lisan atau wirid yang dilakukan setelah salat menjadi bentuk pengingat yang sangat dianjurkan.
Selain itu, dzikir tidak terbatas pada tasbih atau tahlil saja, tetapi juga mencakup ibadah dalam pengertian luas. Membaca Al-Qur'an dengan tadabur, berdoa dengan ikhlas, hingga melakukan amal saleh sehari-hari dengan niat lillahi ta'ala juga terhitung sebagai bentuk dzikir yang bernilai pahala tinggi.
"Orang yang sedang membaca ayat Al-Qur'an pada hakikatnya dia sedang berdialog dengan Allah. Oleh karena itulah maka dianjurkan agar membacanya dengan tartil, artinya jelas dan tadabur yaitu dengan dihayati." lanjutnya.
Dzikir juga dapat diwujudkan melalui ibadah dan amal saleh. Salat, puasa, sedekah, menolong sesama, bekerja dengan jujur, menjaga amanah, dan berbagai kebaikan lainnya dapat menjadi dzikir jika dengan niat karena Allah. Bahkan aktivitas rutin seperti makan, berpakaian, bepergian, bekerja, dan beristirahat dapat bernilai ibadah apabila dimulai dengan basmalah, dilakukan dengan cara yang baik, serta diakhiri dengan rasa syukur kepada Allah.
Waktu antara azan dan iqamah adalah saat mustajab untuk berdoa, sehingga seharusnya jamaah memanfaatkan waktu tersebut dengan salat sunat tahiyatul masjid dan berdzikir. Terutama mengenai pikiran yang sering melayang saat berdzikir, saran praktis agar kita meresapi makna kalimat dzikir yang diucapkan.
Dikarenakan berdoa juga termasuk dzikir. Ketika berdoa, mengakui kelemahan dan menyadari hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan untuk mengabulkan harapan serta menolak keburukan. Oleh sebab itu, seorang Muslim dianjurkan memulai doa dengan memuji Allah, berselawat kepada Nabi Muhammad Saw, lalu menyampaikan permohonannya dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.
Dalam kehidupan modern yang penuh kesibukan, dzikir menjadi kebutuhan penting bagi ketenangan jiwa. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, persoalan keluarga, serta derasnya informasi sering membuat manusia lalai dari tujuan hidupnya. Berfungsi sebagai pengingat manusia memiliki keterbatasan dan Allah SWT selalu dekat dengan hamba-Nya. Dengan zikir, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan langkah hidup lebih terarah. (Fattah Zakaria)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....