Sekolah Zero Waste di SMAN 1 Purwokerto: Langkah Kecil, Dampak Besar

  • 10 Jul 2026 14:29 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Banyumas. Wilayah ini bahkan pernah berada dalam kondisi darurat sampah, ketika volume limbah meningkat sementara kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah belum sepenuhnya terbentuk. Meski saat ini pemerintah daerah dinilai telah melakukan berbagai upaya perbaikan sistem pengelolaan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dari satu pihak saja.

Masih ditemui perilaku membuang sampah sembarangan di lingkungan sekitar, yang menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi semata dari pemerintah, melainkan pada pola kebiasaan dan kesadaran masyarakat. Dari sinilah gagasan untuk menanamkan prinsip zero waste sejak dini, khususnya melalui lingkungan sekolah di SMAN 1 Purwokerto.

Sekolah dipandang sebagai ruang strategis untuk membentuk karakter dan kebiasaan. Anak-anak yang sejak awal dikenalkan pada nilai pengelolaan sampah yang bertanggung jawab diharapkan mampu membawa kebiasaan tersebut hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Zero waste tidak hanya dimaknai sebagai upaya mengurangi sampah, tetapi juga sebagai cara berpikir dan bersikap terhadap konsumsi, pemilahan, serta pengelolaan limbah sehari-hari.

Rencana tindak lanjut dari gerakan ini di SMAN 1 Purwokerto dimulai dengan membangun koordinasi bersama orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan. Setiap kelas direncanakan memiliki dua orang perwakilan yang berperan sebagai penggerak awal. Perwakilan ini nantinya akan membentuk divisi-divisi kecil sesuai kebutuhan, seperti edukasi, pengelolaan sampah, hingga kampanye kebiasaan ramah lingkungan di sekolah.

Seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad Yusuf Habibi dalam siaran Academic Forum Pro 2 RRI Purwokerto, bahwa pembentukan organisasi berbasis sekolah ini tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi langkah penting agar gerakan zero waste memiliki keberlanjutan. Rencana kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLH) serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinporra) menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat program, baik dari sisi pendampingan, edukasi, maupun dukungan kegiatan.

Namun demikian, tantangan terbesar dari upaya ini terletak pada masih adanya individu atau pihak yang belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah. Perubahan kebiasaan memang tidak dapat terjadi secara instan. Dibutuhkan proses panjang, konsistensi, serta keteladanan agar nilai zero waste dapat benar-benar tertanam.

Melalui pembiasaan yang dilakukan di sekolah, diharapkan gerakan ini tidak hanya berhenti pada tataran simbolik, tetapi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga mengelola limbah secara bertanggung jawab, semua dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....