Petualang Kertas dan Benih: Ajak Anak Peduli Lingkungan sejak Dini

  • 09 Jul 2026 14:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus melalui cara yang rumit. Lewat Workshop Paperseed, anak-anak diajak belajar mengolah kertas bekas menjadi media tanam sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.

Hal tersebut dilakukan komunitas Comotz dalam kegiatan Sabah Desa di Desa Lamuk, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Workshop tersebut diikuti puluhan peserta, mulai dari anak usia dini hingga pelajar, yang diajak membuat paperseed atau kertas daur ulang berisi benih tanaman.

Founder Comotz, Ermit Three, mengatakan kertas yang digunakan merupakan kertas bekas yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Melalui proses sederhana, mulai dari merobek kertas, menghaluskannya, hingga mencampurkan benih ke dalam adonan kertas, peserta dapat membuat media tanam yang nantinya bisa ditumbuhkan.

"Kertas itu enggak habis di tong sampah. Ternyata dari kertas juga bisa jadi media tanam untuk sayur, buah, atau bunga," ujar Ermit Three, dalam dialog Spada Pro 2 RRI Purwokerto.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mengajarkan cara mendaur ulang kertas, tetapi juga mengajak anak-anak melihat bahwa barang yang dianggap tidak bernilai masih bisa dimanfaatkan kembali.

Public Relation Comotz, Siti Nur Maela, menambahkan, workshop ini menjadi salah satu cara mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan yang menyenangkan. Dengan praktik langsung, anak-anak diharapkan memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan paperseed. Sambil menunggu kertas mengering, mereka juga diajak memainkan puzzle bertema lingkungan sebagai sarana belajar yang interaktif.

Momentum peringatan Hari Bebas Plastik Sedunia, Comotz juga mengajak masyarakat mulai menerapkan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan, seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumbler, memilah sampah dari rumah, hingga mengurangi sampah makanan.

"Intinya simpel, sadar dan bijak. Kalau keduanya sudah ada dalam diri kita, insyaallah menjaga lingkungan akan menjadi kebiasaan," kata Ermit.

Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya anak-anak, yang terlibat dalam kegiatan serupa sehingga kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh sejak dini melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. (Kartika)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....