Kesetaraan tanpa Label Gender: saat Skill Lebih Penting dari Jenis Kelamin
- 25 Jun 2026 11:21 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Pandangan sempit mengenai peran laki-laki dan perempuan, yang dikenal sebagai stereotip gender, ternyata tidak hanya membatasi ruang gerak tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental.
Isu krusial ini dibahas tuntas dalam Podcast Tematik RRI Purwokerto yang menghadirkan narasumber dari pemerintah dan akademisi, yaitu Erina Hendriati, SH - Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Banyumas dan Uswatun Hasanah, S.Psi.,MA - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Erina Hendriati menjelaskan bahwa stereotip gender pada dasarnya adalah pelabelan negatif yang dilekatkan pada karakteristik dan peran seseorang, khususnya kaum perempuan. "Stereotip ini adalah pelabelan terkait karakteristik dan peran, tapi seringnya mengarah ke hal-hal negatif terhadap perempuan. Misalnya perempuan selalu dianggap lemah, cengeng, atau tidak bisa memimpin,” ungkap Erina.
Menurutnya, budaya memegang peran paling penting dalam membentuk stereotip ini. "Budaya mempunyai peran yang sangat penting karena kalau merubah budaya itu tidak bisa, budaya itu sudah melekat, karakteristik, kemudian norma-norma sosial di sana ya kan kemudian adat istiadat yang kuat kita tidak bisa merubah ini, hanya memberikan semacam pemahaman" jelasnya.
Stereotip ini kemudian memunculkan diskriminasi seperti marginalisasi, beban ganda, hingga puncaknya menjadikan perempuan rentan terhadap kasus kekerasan seperti KDRT.
Dosen Psikologi UMP, Uswatun Hasanah, menyoroti bahwa akar tekanan stereotip gender adalah kekeliruan masyarakat dalam membedakan antara kodrat (peran yang tidak bisa dipertukarkan, takdir Tuhan) dan peran gender (peran yang dibentuk sosial dan bisa dipertukarkan).
Uswatun menekankan kekeliruan ini, terutama dalam pengasuhan: "Mana peran seks atau jenis kelamin dan mana peran gender, peran seks atau jenis kelamin itu adalah kodrati takdir Tuhan, nah yang jadi salah kaprah adalah ketika proses pengasuhan itu muncul, disinilah disebutkan sebagai kodrat keparentingnya,”jelasnya.
Beliau juga memaparkan ada 3 pendekatan yang efektif untuk keluar dari stereotip gender :
• Psikoedukasi: Mengelola energi Maskulin dan Feminin yang ada di dalam diri setiap individu, dan menggunakannya secara seimbang sesuai kebutuhan.
• Fleksibilitas Peran: Menghilangkan label tugas gender.
• Relasi Sosial yang Lebih Sehat
Sebagai langkah nyata, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui DPPKBP3A kini menerapkan pendekatan inklusif, yang melibatkan semua pihak — laki-laki, perempuan, dan penyandang disabilitas. Program ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi perempuan yang rentan.
“Kodratnya memang berbeda, tapi bukan untuk dibedakan. Yang perlu dijaga itu kesetaraan,” tegas Erina.
Sementara itu, Uswatun mengajak generasi muda untuk berani menembus batas stereotip dengan menjadi diri sendiri. Ia menekankan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil di rumah, tidak menertawakan anak laki-laki yang menangis, tidak membatasi warna pakaian berdasarkan gender, dan menghargai setiap ekspresi diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....