Seni Mengelola Waktu: Solusi Atasi Kewalahan

  • 22 Jun 2026 15:22 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Salah satu fenomena psikologis yang banyak dialami masyarakat modern, yakni selalu merasa kekurangan waktu menjadi pembahasan dalam program Ruang Psikologi Pro 1 pada Senin (15/6/2026) malam. Dalam dialog yang menghadirkan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo., M.Psi., tersebut, membahas faktor-faktor ilmiah yang mempengaruhi persepsi waktu serta strategi untuk mengelola waktu secara lebih efektif agar terhindar dari rasa kewalahan dan meningkatkan produktivitas.

Menurut Ugung, otak manusia tidak memiliki jam internal yang akurat, melainkan mengukur waktu berdasarkan elastisitas emosi, jumlah memori baru yang unik, serta fokus perhatian. Ketidakmampuan dalam mengelola aktivitas inilah yang kerap melahirkan time perception bias atau bias persepsi waktu, sehingga seseorang merasa dikejar-kejar oleh waktu meski setiap orang sejatinya memiliki durasi 24 jam yang sama dalam sehari.

"Otak manusia tidak memiliki jam internal yang akurat. Persepsi waktu sangat dipengaruhi oleh emosi, pengalaman baru, dan fokus perhatian." ujarnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dr. Ugung membagikan tiga strategi penting dalam mengontrol manajemen waktu sehari-hari:

  • Time Blocking: Merupakan metode membagi dan memetakan rencana kerja ke dalam kapling-kapling waktu yang spesifik (bukan sekedar daftar tugas atau to-do list), guna mempermudah tubuh dan pikiran dalam memulai fokus.
  • Mematikan Kebisingan Notifikasi: Dr. Ugung menyarankan pentingnya melakukan 'diet gadget'. Gangguan notifikasi gawai sering kali merusak konsentrasi mendalam yang sudah terbangun di otak.
  • Investasi vs Kuburan Waktu: Mengajak seseorang untuk senantiasa mengevaluasi apakah aktivitas yang tengah dilakukan bernilai investasi (seperti berdiskusi, membaca, atau beribadah) atau justru menjadi tempat 'pemakaman waktu' yang sia-sia (seperti perdebatan panjang tanpa ujung di media sosial).

Sebagai penutup, Ugung juga mengingatkan bahwa kunci utama manajemen waktu terletak pada penyusunan skala prioritas yang matang melalui buku agenda. Dengan memilih aktivitas berdasarkan kategori mendesak, penting, dan perlu, seseorang dapat mengantisipasi terjadinya benturan jadwal yang memicu konflik emosional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....